3-IRON (2004)

2 komentar
Saya sekarang telah benar-benar jatuh cinta dengan karya Kim Ki-duk walaupun sebelum ini hanya pernah menonton dua filmnya, yaitu Spring, Summer, Fall, Winter...and Spring dan Samaritan Girl tapi kedua film tersebut benar-benar mampu membuat saya terkagum-kagum akan karya sutradara 42 tahun ini. Alur cerita dalam filmnya sama sekali tidaklah rumit bahkan sangat sederhana dan termasuk film-film sepi yang minim dialog. Namun Kim Ki-duk selalu berhasil membuat saya mendapatkan pelajaran dan perenungan baru setelah selesai menonton film-filmnya yang berbalut kesederhanaan tersebut. 3-Iron sendiri rilis hanya berselang tujuh bulan setelah rilisnya Samaritan Girl. Bukti kehebatan Kim Ki-duk terlihat disini. Dalam setahun merilis dua film dan keduanya punya kualitas luar biasa yang juga berjaya di festival-festival film. Jika Samaritan Girl meraih piala di Berlin Film Festival, maka 3-Iron berjaya di Venice Film Festival. Film ini sendiri dikenal lewat minimnya dialog antara kedua tokoh utamanya, yang memang sama sekali tidak ada dialog dua arah antara keduanya.

Ceritanya adalah mengenai seorang pemuda bernama Tae-suk (Jae Hee) yang punya kebiasaan masuk kedalam rumah orang lain. Teknik yang dia pakai adalah dengan menempelkan brosur ke beberapa rumah yang ada, lalu setelah beberapa lama ia akan kembali dan mengecek brosur tersebut dan jika ada rumah yang brosurnya masih menempel ditempat yang sama berarti rumah tersebut kosong dan Tae-suk mulai melancarkan aksinya. Tapi ia tidak masuk kerumah itu untuk mencuri. Dia hanya melakukan kegiatan sehari-hari disana seperti makan, mandi, menonton tv bahkan melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci dan merawat tanaman. Sampai suatu hari ia masuk ke sebuah rumah yang ternyata didalamnya ada seorang gadis muda bernama Sun-hwa (Lee Seung-yeon) yang selalu dikasari oleh suaminya. Merasa saling jatuh cinta, Sun-hwa memutuskan meninggalkan rumah tersebut dan pergi meninggalkan suaminya yang sudah sempat "dihajar" oleh Tae-suk dan mengikuti sang pemuda melakukan kebiasaannya memasuki satu persatu rumah. Begitulah hubungan mereka terus berlangsung sampai suatu hari ada kejutan yang menanti mereka dalam salah satu rumah yang mereka masuki. Kejutan yang nantinya akan menguji kekuatan cinta keduanya.

Kedua film Kim Ki-duk sebelumnya yang saya tonton memang minim dialog tapi baru di film inilah ada karakternya yang sama sekali tidak berbicara. Tae-suk dari awal hingga akhir tidak mengeluarkan sepatah katapun bahkan kalau saya tidak kelewatan dia juga tidak pernah bersuara. Sedangkan Sun-hwa juga tidak jauh beda. Hanya teriakan dan tiga kata saja yang dia ucapkan menjelang akhir film. Tiga kata romantis yang memang sangat efektif membangun kisah cinta dan nuansa romantis di film ini. Hebatnya, tanpa walaupun interaksi keduanya tanpa dialog namun penonton tetap akan bisa memahami maksud perbuatan mereka dan isi hati mereka yang saling mencintai satu sama lain. Seolah ingin memberikan pesan bahwa dalam cinta kata-kata tidak penting melainkan perbuatan adalah yang terpenting, Kim Ki-duk memperlihatkan kehebatannya dalam men-direct filmnya supaya bisa tetap menarik diikuti dan membuat para pemainnya bisa tampil baik walaupun tanpa dialog. Memaksimalkan ekspresi dan gestur adalah apa yang terlihat disini. Jae Hee dan Lee Seung-yeon menampilkan akting yang begitu baik disini, karena akting tanpa dialog membuat mereka harus benar-benar lebih jauh mendalami situasi adegan dan perasaan yang tengah dialami tokohnya untuk bisa menyampaikan itu pada penonton.
Kenyataan dan mimpi adalah satu hal yang paling disoroti dalam film ini. Bagaimana Tae-suk dan Lee Seung-yeon hidup dalam rumah orang yang berbeda-beda memang terasa mengaburkan batasan kenyataan dan mimpi. Apakah itu adalah "hidup yang sebenarnya?" mungkin itulah peranyaannya. Apakah interpretasi saya benar atau salah saya tidak terlalu peduli karena toh saya sudah merasa terbuai dengan apa yang dimunculkan dalam 3-Iron. Megenai akhir filmnya juga sebenarnya bisa berkaitan dengan biasnya mimpi dan kenyataan tersebut. Meski sekilas terlihat cukup jelas tapi sebenarnya ending dari film ini tetap bisa menimbulkan multitafsir. Film ini sempat berganti haluan setelah Tae-suk dipenjara. Bahkan Kim Ki-duk sempat menyindir tentang para polisi korup disini. SPOILER Tapi perubahan suasana paling absurd terjadi setelah adegan Tae-suk bermain golf secara imajiner di penjara. Setelah itu saya sempat merasa aneh dan kurang suka dengan nuansanya apalagi saat Tae-suk menjadi berlatih "ilmu" didalam selnya. Tapi setelah saya rasakan perubahan suasana ini bisa jadi dikarenakan adegan setelah Tae-suk dipenjara adalah mimpi belaka. Apalagi setelah Tae-suk keluar dan seolah dia menjadi hantu yang tak terlihat. Memang sekilas itu adalah hasil latihan tapi jika dipikir logika tidak mungkin manusia sampai pada tingkat seperti itu. Jadi muncul sebuah interpretasi lain dari saya bahwa itu hanyalah sekuen mimpi entah dari Tae-suk atau Seung-yeon. Karena itulah aura yang terasa benar-benar berbeda setelah itu. Tapi entah mimpi atau bukan konklusi di akhirnya tetap saja terassa absurd sekaligus romantis. Luar biasa! SPOILER SELESAI.

Pada akhirnya terserah tiap penonton mau mengartikan film ini bagaimana. Saya sendiri tidak meyakini bahwa interpretasi saya benar, tapi saya tidak merasa perlu mendapat jawaban akan kebenaran hal tersebut. Karena sebuah film yang menyerahkan tafsirannya pada penonton dan mampu membuat tiap penonton mengambil kesimpulan dan pesan-pesannya sendiri bagi saya adalah sebuah film yang keren. Silahkan tonton film ini dan rasakan dunia cinta antah berantah nan absurd yang dibandung oleh Kim Ki-duk sang jenius.

2 komentar :

Comment Page:
keziarhh mengatakan...

Wah, kayaknya harus nonton ulang nih. Saya gak tahan nonton filmnya padahal baru 50 menit doang, hehe ._.

Rasyidharry mengatakan...

Wajib, romance keren! hahaha