BEDEVILLED (2010)

2 komentar
Kim Ki-duk tidak hanya seorang sutradara handal yang jago membuat film-film arthouse, namun juga ahli dalam menelurkan sineas-sineas muda berbakat. Beberapa orang yang pernah menajdi astrada dalam film-film Kim Ki-duk juga telah berhasil membuat film mereka sendiri, sebut saja Juhn Jai-hong (Beautiful, Poongsan), Jang Hun (Rough Cut) sampai Jang Chul-soo yang menyutradarai Bedevilled ini. Tapi berbeda dengan kedua rekannya tersebut, Jang Chul-soo tidak membuat filmnya berdasarkan naskah yang ditulis oleh Kim Ki-duk. Jadi bisa dibilang Jang Chul-soo benar-benar telah lepas dari Ki-duk dalam debut penyutradaraan yang naskahnya ditulis oleh Choi Kwang-young ini. Bedevilled sendiri mempunyai tema yang sudah berulang kali dipakai dalam film horror/thriller Korea, yakni mengenai balas dendam. Balas dendam memang menjadi sebuah tema yang sangat populer akhir-akhir ini dalam dunia perfilman Korea. Membahas tema balas dendam di film Korea akan mirip dengan membahas tema hantu di perfilman Indonesia. bedanya meski punya jumlah yang banyak dengan tema balas dendam, namun dalam eksekusinya film-film tersebut selalu punya perbedaan yang menjadikan masing-masingnya punya keunikan tersendiri dan digarap dengan maksimal.

Jika mayoritas film bertema balas dendam ala Korea akan lebih mengetengahkan kisahnya dalam dunia kriminal atau investigasi, maka Bedevilled memakai pendekatan yang berbeda. Kisahnya berawal dari perkenalan kita dengan Hae-won (Ji Seong-won) seorang wanita yang bekerja di sebuah bank di kota Seoul. Hae-won sepertinya adalah penggambaran dari sosok yang sering kita sebut sebagai "wanita karir". Wajah cantik, tinggal di kota besar, punya pekerjaan yang menghasilkan uang lebih dari cukup, seakan sebuah kehidupan sempurna untuk dibayangkan. Tapi berbagai kesibukan dan kepenatan yang ia alami ternyata cukup berpengaruh baginya. Hae-won menjadi tipe orang yang tidak peduli dengan nasib orang lain. Yang ia pentingkan hanya mengurusi kepentingannya sendiri. Bahkan suatu hari di kantor ia pernah sampai membentak seorang wanita tua yang tengah mengalami kesulitan. Merasa perlu mengambil jeda dari berbagai kesibukkan tersebut, Hae-won memilih berlibur ke sebuah desa yang terletak di pulau terpencil. Tempat tersebut tidak asing baginya karena saat kecil dulu Hae-won sering kesana untuk mengunjungi rumah sang kakek. Tapi yang ia temui disana bukanlah ketenangan karena ia harus menyaksikan kehidupan teman kecilnya, Bok-nam (Seo Yeong-hie) yang selalu mendapat perlakuan kejam dan tidak adil dari penduduk desa tersebut termasuk suaminya sendiri. Tentu saja Hae-won memilih untuk tidak ikut campur dalam masalah tersebut. Tapi tanpa ia duga akan terjadi sebuah hal mengerikan disana.

Bedevilled adalah kisah tentang keegoisan. Bagaimana seorang manusia bisa menjadi begitu kejam dan menutup mata terhadap kebenaran hanya karena kepentingan sendiri. Bagaimana seorang manusia memilih diam daripada mengatakan kebenaran jika kebenaran yang ia katakan bisa membahayakan dirinya. Padahal dengan mengatakan kebenaran itu, ia bisa menyelamatkan orang lain. Hal tersebut sangat terlihat dari sosok Hae-won yang dari awal beberapa kali melakukan hal tersebut. Ia memilih tidak mengatakan identitas penjahat yang sebenarnya saat ia berada di kantor polisi karena tidak mau terlibat lebih jauh dalam kasus tersebut. Ia tidak mau sedikit berusaha untuk membantu sang wanita tua di kantor. Ia memilih berkata bahwa "orang yang sudah dewasa harus bisa menjalani hidupnya sendiri" kepada Bok-nam yang telah begitu baik padanya selama ini saat Bok-nam meminta bantuan Hae-won untuk diajak ke Seoul. Kemudian kebiasaannya tersebut akan membawanya sendiri kepada sebuah kejadian yang mengancam dirinya.
Hal tersebut juga berlaku pada para penduduk desa yang begitu kejam pada Bok-nam. Mereka begitu kompak untuk memihak suami Bok-nam yang telah bertindak begitu kejam pada sang istri. Mereka benar-benar telah menutup hati mereka akan kebenaran, karena yang mereka pedulikan adalah kenyamanan diri sendiri. Hal tersebut menggambarkan kondisi dimana sebuah kebobrokan yang berkuasa dalam sebuah kelompok masyarakat. Namun kebobrokan itu sendiri nyatanya punya sebuah kekuatan yang membuat kelompok masyarakat tersebut bergantung padanya. Kebobrokan tersebut mampu membuat masyarakat menutup rasa kemanusiaan mereka demi kenikmatan diri sendiri. Hal tersebut tergambar saat seluruh warga kampung yang terdiri dari wanita tua begitu membela suami Bok-nam walau jelas-jelas mereka tahu bahwa dialah yang bersalah. Namun disini ketergantungan mereka akan sosok laki-laki yang jumlahnya sudah sangat sedikit di desa tersebut membuat mereka tidak rela apabila harus kehilangan sosok laki-laki yang mereka pandang sebagai figur yang bisa diandalkan dalam menghidupi desa tersebut. Mereka merasa tanpa beberapa pemuda bejat tersebut mereka tidak bisa menjalani hidup dengan lancar. Ironisnya jika diperhatikan justru wanita-wanita tua itulah yang terus bekerja demi kelangsungan mereka dan desa tersebut. Sementara orang yang mereka bela dan lindungi hanya hidup seenak mereka.

Bedevilled akan membawa kita menelusuri segala bentuk kekejaman dan ketidak adilan tersebut selama satu jam lebih di paruh awal filmnya. Kita masih belum akan tahu arah pasti film ini sebelum Hae-won menginjakkan kakinya di desa terpencil tersebut. Setelah itupun kita belum akan melihat horror sadisnya, namun kita akan dibawa untuk melihat lebih jauh kehidupan Bok-nam yang benar-benar menyedihkan. Kita diajak terlebih dahulu untuk bersimpati pada Bok-nam sampai pada titik tertinggi saat ia harus mengalami hal terparah dan kesedihan paling menyedihkan yang bisa ia alami. Kita akan dibawa melihat berbagai kekejaman mulai dari yang sekedar omongan pedas nan menyebalkan sampai kekejaman yang benar-benar kejam dan tidak bisa ditoleransi yang akan membuat segala sumpah serapah keluar dari mulut kita. Lalu saat segala kebejatan itu sudah sampai pada puncaknya barulah kita akan disuguhi aksi balas dendam yang disini benar-benar terasa memuaskan. Memuaskan bisa dalam arti eksekusinya yang sadis akan memuaskan para pecinta darah dan kekerasan dalam film. Memuaskan disini juga bisa dalam arti puas karena segala bentuk kekejaman yang kita saksikan tersebut akhirnya akan dibalas dengan benar-benar setimpal.

Balas dendam selalu menyisakan sebuah ambiguitas moral khususnya jika itu berkaitan dengan hilangnya nyawa seseorang. Tapi dalam Bedevilled seolah ambiguitas tersebut coba dihapuskan saat filmnya mengajak penonton secara tidak sadar untuk membenarkan aksi balas dendam yang dilakukan. Pada akhirnya saat aksi tersebut dilakukan dengan cara yang sadis dan menyakitkan, penonton terpuaskan. Tapi apakah hal itu adalah hal yang benar dilakukan? Jika mayoritas film macam I Saw the Devil akan berusaha menghadirkan hal tersebut sebagai hal yang ambigu, maka dalam Bedevilled kita akan diajak untuk meyakini bahwa dalam beberapa kasus balas dendam memang adalah jalan yang tidak bisa dipersalahkan dan patut dilakukan. Balas dendam yang layak mungkin adalah sebutan yang tepat bagi apa yang disajikan dalam film ini. Kemudian setelah rentetan momen penuh darah tersebut kita akan dibawa pada sebuah akhir cerita yang saya rasa agak kepanjangan. Bedevilled akan beberapa kali membuat kita seolah sudah mencapai akhir film padahal belum. Untungnya momen yang terjadi setelah itu selalu sebuah momen yang memang layak untuk ditampilkan, dan saat kita sampai pada akhir yang sesungguhnya itu adalah sebuah akhir yang cukup manis sekaligus tragis. Inilah Bedevilled, sebuah film hebat tentang balas dendam yang tidak hanya seputar pembalasan dendam seorang tokoh namun lebih umum lagi ini adalah tentang pembalasan kepada sebuah kebiasan buruk dari masyarakat ataupun individu yang sudah begitu mengakar dalam hidup mereka.

RATING:

2 komentar :

Comment Page:
arya math mengatakan...

Keren ulasannya om...
Salut.

syahrultri ramdhani mengatakan...

keren banget ini baru nonton :)) , sayang knapa hae won gak mati juga, sebel aku sama karakter utamanya, dia juga jahat