PIETA (2012)

Tidak ada komentar
Entah sudah berapa kali saya mengutarakan kekaguman saya pada sosok Kim Ki-duk lewat tulisan di blog ini. Film-filmnya yang penuh dengan makna dalam metafora meski seringkali menghadirkan konten kekerasan dan seksual tinggi, namun selalu mengagumkan. Tapi entah kenapa saya merasa beberapa filmnya yang rilis setelah The Bow atau tepatnya setelah tahun 2005 punya kualitas yang berada dibawah film-film Ki-duk sebelumnya. Antusiasme saya sempat meninggi saat mendengar kabar bahwa film terbaru Kim Ki-duk yang berjudul Pieta berhasil memenangkan film terbaik atau Golden Lion di Venice Film Festival sekaligus menjadi film Korea pertama yang memenangkan penghargaan tertinggi dalam salah satu dari tiga festival film paling bergengsi di dunia (dua festival lainnya adalah Cannes dan Belin). Film ini juga menjadi perwakilan Korea untuk Oscar 2013 nanti. Pieta sendiri merupakan bahasa Italia yang menjadi istilah dari karya seni baik itu lukisan sampai patung yang menggambarkan sosok Bunda Maria yang sedang menggendong jenazah Yesus. Pieta akan membawa kita kedalam kehidupan Lee Kang-do (Lee Jung-jin), seorang pria berumur 30-an tahun yang sehari-harinya bekerja sebagai penagih hutang di sebuah tempat peminjaman uang. Tapi Kang-do tidak menggunakan cara yang wajar dan biasa dalam menagih hutang tersebut.

Kang-do akan membuat cacat orang yang berhutang entah itu dengan mematahkan tangan mereka di mesin sampai menjatuhkan mereka dari atas gedung supaya menjadi cacat lalu membuat mereka mendapatkan uang dari asuransi akibat cacat tersebut. Setiap hari Kang-do yang hidup sendirian melakukan pekerjaan sadis tersebut. Sampai suatu hari Kang-do didatangi oleh seorang wanita paruh baya (Jo Min-su) yang mengaku sebagai ibu kandungnya yang sempat membuang Kang-do saat masih bayi. Tentu saja Kang-do tidak semudah itu percaya akan kata-kata wanita tersebut. Namun berbagai perbuatan hingga perbuatan yang dilakukan oleh sang "ibu" lama kelamaan membuat Kang-do tersentuh dan mulai menemukan kebahagiaan dan rasa sayang setelah sekian lama hidup dalam kesendirian yang sepi dan kejam. Seperti film-film Ki-duk yang lain, Pieta juga mengandung unsur kekerasan dan seksual didalamnya dan konten itu sempat mengundang kontroversi. Tapi jika dibandingkan dengan film-film sang sutradara yang lain, Pieta jelas lebih "bersahabat". Beberapa adegan kekerasan nan sadis tidak ditampilkan secara gamblang meski masih tetap bisa membuat penonton mengimajinasikan adegan tersebut dalam pikiran mereka.

Konten cerita dan presentasi film ini juga terbilang lebih mudah dimengerti dibanding film-film Ki-duk lainnya. Jika dalam film-film sebelumnya terdapat banyak adegan metafora penuh lambang, Pieta tampil lebih sederhana dan straight to the point. Judul filmnya sendiri sudah menggambarkan hampir inti kisah dari film ini bahkan termasuk memberikan spoiler bagi twist yang ada dalam penghujung film. Paruh pertama hingga pertengahan, Pieta menampilkan sebuah drama mengenai hubungan ibu dan anak yang kompleks. Ada misteri yang menarik menyelimuti hubungan ibu dan anak tersebut. Bukan mengenai kebenaran status mereka berdua tapi lebih kepada hubungan antara keduanya yang cukup unik bahkan bisa dibilang aneh. Sempat ada adegan sang wanita/ibu memberikan handjob kepada Kang-do, hingga adegan disaat Kang-do ingin "kembali" kedalam rahim ibunya. Adegan penuh konten seksual yang membuat penonton mengernyitkan dahi tersebut bagi saya membuat kisahnya makin kompleks dan menarik. Berbagai ambiguitas moral yang selama ini sering Ki-duk tampilkan dengan cara yang ekstrim cukup terasa. Juga ada sedikit selipan ambiguitas moral lain tentang siapa yang lebih buruk, apakah Kang-do yang menagih hutang lewat jalan kejam ataukah orang-orang yang meminjam uang berkali-kali namun tidak membayarnya?
Lalu paruh kedua film beralih menjadi sebuah kisah balas dendam seperti yang sering kita jumpai di thriller Korea Selatan yang sekarang sedang menjadi tren. Tapi bedanya dalam proses balas dendam menuju konklusinya, kisah yang ditawarkan terasa monoton dan menjemukan. Sebuah kejutan di akhir (walaupun tertebak) tetap memberikan nuansa tragis dan miris, namun sayangnya proses menuju kearah sanalah yang membosankan. Untuk ending-nya sendiri ditutup dengan rangkaian adegan yang sunyi namun begitu tragis dan kelam. Tapi pada akhirnya tidak banyak yang bisa diambil dari Pieta kecuali sebuah kisah tragis antara ibu yang amat menyayangi anaknya yang kemudian dicampur dengan aroma balas dendam. Jika mau lebih umum lagi, maka film ini juga berkisah tentang sebuah kasih sayang, dimana manusia membutuhkan kasih sayang dari orang lain yang juga ia sayangi, dan betapa sebuah kasih sayang mampu terasa begitu berharga dan mahal harganya. Terlihat juga bagaimana sifat seseorang bisa sangat dipengaruhi oleh seberapa besar kasih sayang yang ia dapatkan dalam hidupnya, seperti Kang-do yang dapat berubah begitu drastis setelah mendapatkan kasih sayang dari sosok ibu.

Tidak banyak yang Kim Ki-duk tawarkan dalam film terbarunya ini. Sesungguhnya Pieta bukanlah film yang buruk. Jelas sebuah kisah yang tragis dan tidak mudah dilupakan, namun yang membuat saya tidak terlalu puas adalah karena untuk ukurang film-film Kim Ki-duk bahkan dibandingkan Amen sekalipun yang bagi saya adalah film terburuknya, Pieta tidak menawarkan banyak hal untuk direnungkan. Jelas terasa lebih ringan dan lebih komersil, namun bagi saya justru Pieta seringkali terasa membosankan akibat alurnya yang lambat namun tidak memberikan banyak hal untuk direnungkan. Tapi bagi anda yang belum familiar dengan karya-karya Ki-duk sebelumnya mungkin bisa mencoba film ini, karena meski kisahnya tidak sedalam biasanya, namuna Pieta tetap masih menyisakan beberapa kegilaan yang dimiliki Kim Ki-duk seperti konten seksual, kekerasan yang memebuat miris sampai sedikit konten penyiksaan terhadap hewan yang sempat menuai kontroversi pada The Isle. Secara keseluruhan tidak buruk namun masih jauh untuk masuk kategori bagus.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar