THE BOW (2005)

Tidak ada komentar
Dua pengalaman terakhir saya dalam menonton film Kim Ki-duk yaitu Time dan Arirang tidak se-amazing pengalaman-pengalaman sebelumnya saat menonton film buatan sutradara Korea ini. Bagi saya Time terasa terlalu cerewet untuk ukuran film Kim Ki-duk dan alurnya yang berputar-putar terasa membosankan. Suasana magis seolah menyatu dengan alam yang jadi ciri Ki-duk juga tidak terasa karena Time punya set yang lebih realistis, yaitu sebuah perkotaan di Korea dan dalam dunia yang bisa dibilang "lebih modern". Sedangkan Arirang memang masih merupakan film yang lumayan bagus, setidaknya bagi saya yang merupakan penggemar Kim Ki-duk. Tapi film itu adalah sebuah dokumenter yang tentunya tidak akan memberikan sensasi yang sama jika dibanding film-film Ki-duk lainnya. Apalagi Arirang juga dibuat dengan kesederhanaan tingkat tinggi karena memang film itu dibuat nyaris tanpa biaya. Sampai akhirnya saya menonton The Bow atau yang punya judul Korea Hwal. Ya, disinilah saya akhirnya kembali merasakan perasaan unik yang hanya bisa ditemui jika menonton film buatan Kim Ki-duk.

Kim Ki-duk kembali menampilkan karakter "bisu" dalam filmnya. Di sebuah kapal yang mengapung di tengah laut tinggal pria tua berumur kira-kira 60-an (Jeon Seong-hwang). Tapi pria itu tidak tinggal sendirian, disana juga ada seorang gadis muda yang baru 16 tahun (Han Yeo-reum). Keduanya sama-sama tidak pernah mengucapkan satu katapun. Sang pria tua menjadikan kapal tempat ia tinggal itu sebagai tempat pemancingan. Tiap harinya dengan kapal motor ia menjemput beberapa orang yang akan memancing disana. Diantara para pemancng tersebut sering beredar banyak gosip tentang hubungan antara pria tua dan gadis tersebut. Ada yang bilang bahwa gadis itu sudah tinggal di kapal semenjak usia 6 tahun setelah ditemukan oleh pria tua itu dan selama 10 tahun tidak pernah meninggalkan kapal. Ada juga kabar yang mengatakan bahwa pria tua itu berniat untuk menikahi sang gadis saat usianya menginjak 17 tahun. Entah benar atau tidak, sang pria tua yang juga jago panah itu memang sangat protektif khususnya jika ada pemancing yang mencoba menggoda sang gadis. Sampai suatu hari datang seorang laki-laki yang seumuran dengan gadis itu (Seo Si-jeok). Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya dua orang ini saling mencintai.

Ah rasanya tidak perlu lagi saya menjelaskan bahwa film ini akan punya alur yang lambat, suasana yang sepi dan sinematografi keren yang sanggup menangkap gambar-gambar indah namun simpel dalam filmnya, karena semua pujian itu selalu saya lontarkan dalam review yang saya tulis untuk film-film Kim Ki-duk sebelumnya. Gambar-gambar diam dan bisu yang indah memang masih muncul dalam The Bow. Momen-momen tersebut adalah momen favorit saya tiap kali menonton film-film Ki-duk. Perasaan damai dan magis yang mampu secara luar biasa mengikat dan membuat saya jatuh cinta pada karya-karyanya. Satu lagi keunggulan dari The Bow adalah musiknya yang terasa sangat tradisional Korea. Musik-musik tradisional tersebut benar-benar menambah keindahan artistik film ini. Tentu saja pemakaian musik-musik tersebut juga sangatlah efektif untuk membangun suasana dan feel dalam filmnya. Pemakaian beberapa simbol dan gambar-gambar bercorak Buddha dan lambang Korea Selatan sendiri makin menambah kesan etnik dalam film ini.
Tentu saja membicarakan film Ki-duk tidak akan lengkap rasanya jika tidak membahas makna-makna dan interpretasi dari penonton tentang film tersebut. Bagi saya The Bow masih membicarakan hal-hal yang sering diangkat Ki-duk sebelumnya, yaitu tentang cinta dan kehidupan, setidaknya cinta dan kehidupan seperti apa yang dilihat oleh Kim Ki-duk. Dua tema besar itu semuanya terangkum dalam judul film ini sendiri yaitu The Bow. Sosok gadis muda dalam film ini memang terlihat begitu terkekang oleh keberadaan sang pria tua. Namun sebenarnya gadis itu juga cukup tergantung dan tidak bisa begitu saja melepaskan pria tua yang sudah merawatnya dan tinggal bersamanya selama 10 tahun. Sang gadis bagaikan sebuah anak panah yang belum ditembakkan, hanya bisa terdiam dan tidak mampu berbuat apapun. Namun akan tiba waktunya anak panah tersebut ditembakkan dan terbang bebas seperti kehidupan yang akan dijalani oleh sang gadis bila meninggalkan sang pria tua. Jika bicara soal kehidupan maka The Bow bagi saya adalah sebuah pencarian keindahan hidup dan definisi dari kebebasan dalam hidup itu sendiri.

Tentu saja The Bow juga bicara masalah cinta antara tokohnya, cinta antara umat manusia. Apa yang saya tangkap masih berkaitan juga dengan panah yang jadi salah satu properti utama di film ini. Dalam film ini digambarkan bahwa cinta bisa disamakan dengan busur panah. Jika digunakan dengan "baik" tanpa niat yang buruk maka akan tercipta keindahan. Tarikan busur yang begitu mantap hingga kemudian melontarkan anak panah yang terbang bebas menuju sasaran dengan indahnya dan menciptakan suara yang tidak kalah merdu. Seperti yang dituliskan Kim Ki-duk di akhir film "Strength and a beautiful sound like in the tautness of a bow. I want to live like this until the day I die." Sebuah busur panah sama dengan cinta, jika disikapi dengan cara yang tepat dan dengan hati yang baik maka bisa menjadi sebuah keindahan bahkan sebagai sebuah protektor seperti apa yang dilakukan oleh pria tua dalam film ini saat melindungi si gadis di momen-momen awal. Namun lama-lama bukannya melindungi pria tersebut justru menjadi posesif dan bukan lagi melindungi namun justru menyerang dan membahayakan orang lain. Sama juga seperti busur dan cinta yang bisa membahayakan jika tidak disikapi dengan bijak.

Bicara cinta juga akan membawa pada sebuah perenungan tentang ketulusan cinta antara sang pria tua dan gadis muda. Apakah si gadis memang mencintai pria tua itu? Atau hanyalah sebuah belas kasihan belaka? Tidak ada yang tahu. Berbicara tentang adegan metafora sendiri masih banyak lagi adegan metafora yang sudah menyangkut kepada detail adegan, bukannya tema besar hingga tidak akan saya jabarkan disini. Untuk ending, film ini juga tetap punya ciri khas Ki-duk yakni punya ending yang cukup absurd. Bagi saya sendiri ending itu merupakan jawaban dari pertanyaan tentang perasaan cinta yang dirasakan kedua tokoh utama film ini, sebuah cinta yang murni ataukah bukan? Sekali lagi, pemaknaan terhadap film Kim Ki-duk akan sangat berbeda pada tiap penontonnya, dan apapun itu saya rasa tidak masalah asalkan ada sesuatu yang bisa penonton ambil maknanya. The Bow sendiri jelas sebuah pengalaman magis yang akhirnya kembali saya rasakan dalam menonton film Kim Ki-duk dan akhirnya membuat saya berangan-angan, "Kapan ya saya bisa menonton film Kim Ki-duk di layar bioskop?"


Tidak ada komentar :

Comment Page: