LES MISERABLES (2012)

Tidak ada komentar
Pada awalnya, Les Miserables adalah sebuah novel yang ditulis oleh Victor Hugo dan terbit pada tahun 1862. Disebut sebagai salah satu novel terbaik sepanjang masa, tidak mengherankan bahwa pada akhirnya Les Miserables sudah begitu sering diadaptasi dalam bentuk film layar lebar. Tercatat sejak tahun 1909, sudah ada 10 film yang mengadaptasi novel tersebut termasuk rilisan 1998 yang dibintangi Liam Neeson, Geoffrey Rush dan Uma Thurman. Karya sutradara Tom Hooper (The King's Speech) ini adalah film layar lebar Les Miserables yang ke-11. Bedanya versi Tom Hooper lebih berkiblat pada pertunjukkan drama musikal yang pertama dipentaskan di Paris pada 1980. Les Miserables adalah sebuah musical yang over-the-top. Anda boleh saja mengaku sebagai pecinta film musikal seperti Chicago, Dreamgirls hingga Hairspray, tapi belum tentu anda bisa menikmati Les Miserables yang menjadikan musikal bukan hanya sebagai pelengkap namun sebagai sajian utama. Nyaris tidak ada dialog yang diucapkan secara biasa karena sekitar 95% dialog-nya dilagukan. Pembuatannya pun tidak seperti musikal biasa yang merekam suara aktornya di studio, karena dalam film ini semua pemainnya bernyanyi secara live!

Setelah 19 tahun menjalani hukuman berat bagaikan budak setelah dinyatakan bersalah akibat (hanya) mencuri beberapa potong roti, Jean Valjean (Hugh Jackman) akhirnya dinyatakan bebas bersayarat. Namun bukan berarti Valjean telaj menjadi manusia bebas, karena ia harus rutin melapor, jika tidak Javert ia akan kembali ditangkap. Sampai ia bertemu dengan seorang Uskup yang membuat Valjean sadar bahwa hidupnya kini harus ia gunakan untuk menolong sesama. Delapan tahun kemudian Valjean sudah hidup dalam identitas baru dan sudah menjadi pemilik sebuah pabrik sekaligus menjadi walikota Montreuil. Namun selama itu Javert (Russell Crowe) sang penjaga penjara masih terus mencari keberadaan Valjean. Sampai suatu hari Valjean bertemu dengan Fantine (Anne Hathaway) yang dulu sempat menjadi buruh pabriknya namun kini sudah hidup sangat menderita di jalanan. Fantine pun kemudian meminta bantuan Valjean untuk merawat anaknya, Cosette (Isabelle Allen) yang juga hidup menderita. Dimulailah babak baru dalam kehidupan Valjean untuk merawat Cosette sembari terus bersembunyi dari kejaran Javert, dan tentu saja akan ada momen June Rebellion sebagai klimaks kisahnya.

Berkat teknik menyanyi secara langsung yang diterapkan oleh Tom Hooper, para pemainnya sanggup secara luar biasa menyalurkan emosi mereka lewat lagu-lagu yang ada. Nyanyian yang ada pun menjadi tidak terasa hampa dan memiliki emosi yang kuat di dalamnya. Mulai dari ekspresi saat adegan close-up yang berhasil memunculkan ekspresi yang begitu kuat, hingga suara dari nyanyian para pemainnya yang penuh dengan emosi yang begitu menggetarkan. Hugh Jackman luar biasa sebagai Jean Valjean yang diawal penuh penderitaan dan momen dimana ia mendapatkan pencerahan pun terasa begitu emosional. Tapi tentu saja momen terbaik Les Miserables datang pada saat Hathaway menyanyikan I Dreamed a Dream. Dengan disajikan lewat jarak dekat saya dibuat speechless dan merinding melihat bagaimana Hathaway menyalurkan semua emosinya di lagu tersebut. Hugh Jackman dan Anne Hathaway juga menjadi pemain yang sanggup berbicara luar biasa melalui tatapan mata mereka. Penampilan Hathaway adalah sebuah penampilan yang bagi saya wajib diganjar Oscar. Pada akhirnya di momen ending pun kemunculan kembali Hathaway ditambah (lagi-lagi) penampilan gemilang Jackman membuat saya meneteskan air mata.
Selain mereka berdua, masih ada penampilan gemilang dari Samantha Barks sebagai Eponine. Samantha Barks sendiri pernah memainkan karakter ini di konser perayaan 25 tahun drama musikalnya. Ah, sungguh menyesakkan melihat penampilannya sebagai seorang wanita yang patah hati dan menyimpan cinta sejati yang penuh pengorbanan. Pemain lainnya sendiri tampil cukup baik meski belum bisa menandingi kehebatan Jackman, Hathaway maupun Barks. Dua aktor cilik Isabelle Allen dan Daniel Huttlestone juga sanggup mencuri perhatian dengan momen emosional mereka masing-masing. Sacha Baron Cohen dan Helena Bonham Carter memang tidak punya momen emosional namun mereka sanggup mencerahkan suasana film dengan momen lucu dan unik. Justru bagi saya Russell Crowe adalah yang paling lemah disini. Nyanyiannya memang tidak buruk, tapi hanya itu. Tidak terasa kegetiran dari seorang Javert dalam penampilannya. Tidak ada kebesaran sosok Javert sebagai agen hukum yang punya kekuatan untuk mengatur segalanya.

Tema ceritanya memang universal dan mudah dinikmati semua orang. Kisah tentang sebuah penderitaan yang memancing perlawanan untuk mendapatkan harapan, sebuah kisah cinta yang begitu kuat hingga mampu memberikan kekuatan untuk berkorban. Les Miserables penuh dengan derita, cinta, harapan dan perjuangan dari berbagai karakternya yang punya tujuan hidup masing-masing. Tapi tema yang sebenarnya bisa dinikmati oleh semua orang itu dibalut dengan teknik yang membuat Les Miserables menjadi bukan film semua orang. Hampir semua dialog dinyanyikan yang akan membuat orang yang tidak terbiasa dengan musikal tidak akan mudah menikmatinya. Bahkan penyukaa film musikal mainstream pun belum tentu bisa menikmati ini. Apalagi durasinya mencapai 158 menit yang bisa membuat penontonnya lelah dan bosan akan semua nyanyian dami nyanyian yang ada.

Saya sendiri menyukai momen musikalnya yang bagi saya begitu indah. Momen-momen musikal yang tertangkap oleh kamera bagi saya merupakan hiburan visual yang sangat memanjakan. Semua itu tentu saja berkat penampilan luar biasa para pemainnya. Namun jangan lupakan bagaimana Danny Cohen menyusun sinematografi film ini dengan begitu indah dan megah. Dari awal setting-nya sendiri sudah menunjukkan kemegahannya disaat para tahanan menarik kapal karam di laut. Les Miserables memang sanggup membuat saya bertahan dan terhibur berkat sajian visual dan momen musikalnya yang hebat. Para aktor dan aktrisnya pun hebat dalam menghantarkan emosi mereka, namun ironisnya, film ini sendiri tidak punya kedalaman emosi yang baik. Momen individual pemainnya memang penuh emosi, tapi kisah filmnya secara keseluruhan nyaris terasa datar. Adegan demi adegan terasa begitu saja berganti, bagaikan sebuah rangkaian segmen yang tidak disusun secara rapih. Tiap momennya dieksekusi secara terburu-buru hingga berlalu begitu saja tanpa ada kesan berarti. Mungkin hanya momen-momen yang melibatkan Hugh Jackman dan Anne Hathaway saja yang emosional, itupun karena penampilan keduanya. Momen June Rebellion pun juga disajikan dengan biasa saja. Sungguh disayangkan, padahal dengan momen musikal luar biasa, visual hebat dan akting penuh emosi para pemainnya, Les Miserables bisa jadi film terbaik di 2012, namun pada akhirnya hanya berakhir sebagai sajian yang menghibur.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar