ZERO DARK THIRTY (2012)

5 komentar
Kathryn Bigelow memang bukan orang baru dalam dunia perfilman. Sejak film pertamanya The Loveless yang dirilis tahun 1982 hingga sekarang total sembilan film yang sudah ia buat. Tidak terlalu banyak namun tiap filmnya punya kualitas yang bisa dibilang tidak mengecewakan. Tapi baru sekitar 3-4 tahun belakangan ini namanya mulai benar-benar dipandang setelah filmnya, The Hurt Locker sanggup mengalahkan Avatar milik James Cameron yang tidak lain adalah mantan suaminya. Kali ini Bigelow kembali menyajikan sebuah drama dibalik peperangan pada kita. Zero Dark Thirty memang bukan sepenuhnya film tentang medan perang. Judulnya sendiri adalah sebuah istilah militer untuk menyebut "30 menit setelah tengah malam". Berkisah tentang perburuan terhadap orang paling dicari sedunia, Osama bin Laden, ini adalah kisah tentang perang melawan terorisme dan sosok yang dianggap paling bertanggung jawab atas berbagai macam aksi teror termasuk tragedi 9/11. Zero Dak Thirtyi memang menimbulkan banyak kontroversi, mulai dari adegan penyiksaan, sempat dituduh membocorkan rahasia tingkat tinggi militer, hingga tidak dinominasikannya Bigelow sebagai Best Directori dalam ajang Oscar tahun ini.

Maya (Jessica Chastain) adalah anggota CIA yang sudah bertahun-tahun berusaha mencari keberadaan Osama bin Laden. Dia sudah mengabdikan waktunya untuk hal tersebut selama lebih dari 10 tahun. Dengan durasi 157 menit, dua jam pertama dalam Zero Dark Thirty akan membawa kita melihat bagaimana usaha Maya untuk melacak keberadan Osama. Tentu saja hal itu tidak mudah dan dia harus melalui berbagai macam rintangan yang bahkan sempat mengancam nyawanya sendiri. Sedangkan 30 menit terakhir adalah sebuah penyergapan ke sebuah rumah yang ditengarai adalah kediaman Osama bin Laden. Tentu saja kita semua sudah tahu mengenai fakta bahwa penyergapan tersebut akan berakhir dengan terbunuhnya Osama disamping banyaknya kontroversi tentang benar atau tidaknya hal tersebut. Tentu saja proses penyelidikan yang disajikan selama kurang lebih dua jam tersebut tidaklah mudah, bahkan jauh lebih rumit dan kompleks dari apa yang saya bayangkan sebelum menonton film ini. Sudah dibuka dengan adegan penyiksaan yang cukup keras sedari awal, Zero Dark Thirty nampaknya akan menjadi sebuah perjalanan yang juga keras dan penuh rintangan bagi Maya.

Dua jam yang mengeksplorasi segala penyelidikan tersebut adalah bukti begitu hebat dan cerdasnya naskah yang ditulis oleh Mark Boal ini. Sejak awal saya sudah dibuat terpaku pada ceritanya. Alurnya memang tidak berjalan cepat, tapi secara perlahan mencengkeram penontonnya untuk terus terpaku pada layar mengikuti perburuan orang paling dicari di seluruh dunia tersebut. Zero Dark Thirty adalah kombinasi sempurna dari dialog-dialog cerdas, berbobot, namun menarik untuk diikuti dan tidak terasa sok pintar. Kita tidak langsung dibawa pada sosok Osama, tapi secara terstruktur dibawa untuk mengiktui penyelidikan dari jaringan Al Qaeda paling bawah, hingga akhirnya sampai pada sosok yang dianggap sangat dekat dengan Osama. Memang begitulah pelacakan jaringan teroris dilakukan, namun baru pada film ini saya benar-benar diperlihatkan secara nyata bagaimana itu dilakukan dan bagaimana rumitnya pelacakan tersebut. Dua jam yang begitu intens Tapi tidak hanya itu, karena 30 menit terakhir yang menampilkan penyergapan terhadap Osama juga masih terasa menegangkan meski kita sudah tahu hasil akhirnya akan seperti apa. Sebuah baku tembak yang tidak bombastis tapi begitu efektif menghadirkan kekerasan dan ketegangan.
Selain cerita yang tersusun rapih, dialog cerdas dan ketegangan yang tidak pernah menghilang, Zero Dark Thirty juga punya sesuatu lain untuk dipikirkan oleh penontonnya. Ambiguitas begitu terasa disini. Tapi sebelum bicara ambiguitas, saya akan membahas sosok Maya terlebih dahulu. Di awal dia masih orang baru dalam misi tersebut, bahkan melihat penyiksaan dalam interogasi saja dia masih kesulitan. Namun perlahan dia mulai terbiasa bahkan bersedian melakukan penyiksaan meski masih dalam taraf ringan. Semakin lama ia makin tenggelam dalam pekerjaannya, dan Maya telah menjadi sosok yang jauh lebih kuat bahkan keras. Apalagi saat ia harus kehilangan sahabatnya dalam bertugas, dimana hal itu merubah Maya dari seseorang yang berdedikasi tinggi menjadi seseorang yang terobsesi pada pekerjaannya. Begitu banyak rintangan yang ia alami, bahkan ia hampir kehilangan apa yang ia kejar. Tapi pada akhirnya kerja keras dan kepintarannya berhasil terbayar saat berbagai titik terang mulai terungkap dan pada akhirnya misi berhasil, tapi benarkah itu? Benarkah semua progres dalam misi memang hal yang nyata, atau itu hanya sebuah upaya denial dari Maya yang tidak siap menerima kegagalan dalam pekerjaannya? Maya adalah sosok yang pintar, dan dia adalah expert dalam penyelidikan ini, cukup mungkin baginya muncul dengan analisis meyakinkan meski sebenarnya hal itu adalah kesalahan. Dan pertanyaan paling besar pastinya adalah benarkah sosok yang terbunuh itu adalah Osama?

Namun dibalik ambiguitas dan kontroversi tersebut, Maya jelas sebuah perlambang kekuatan dari femininitas. Jessica Chastain sebagai Maya bukanlah seorang wanita tangguh dilihat dari fisiknya, dengan badan langsing, wajah cantik dan kulit yang putih mulus tentu dia jauh dari kesan sosok wanita yang kuat. Dia adalah gambaran sempurna seorang wanita anggun. Tapi dibalik tampilan fisik itu dia punya kepribadian dan mental yang begitu kuat dan keras. Kata-kata yang ia ucapkan penuh dengan keyakinan dan seringkali cukup tajam. Dia tidak segan membentak, mengeluarkan sedikit sumpah serapah untuk meyakinkan lawan bicaranya. Tatapan matanya memancarkan kekuatan namun juga kesepian dan kesedihan. Untuk itulah Jessica Chastain patut diberi pujian tinggi atas aktingnya disini. Sosoknya memang tengah mendominasi dalam jajaran aktris papan atas Hollywood. Dua tahun terakhir selalu mendapat nominasi Oscar dan film-filmnya hampir tidak ada yang buruk, mulai dari Take Shelter, Coriolanus, The Tree of Life, The Debt, The Help, Lawless dan tentunya film ini, masih belum cukup bukti? Jessica Chastain akan bersaing ketat dengan aktris lain yang juga sedang panas-panasnya, siapa lagi kalau bukan Jennifer Lawrence. Andai ada Meryl Streep di daftar Best Actress tahun ini maka persaingan ketiganya akan benar-benar luar biasa.

Dengan durasi sekitar dua setengah jam yang justru terasa sangat cepat jelas sebuah bukti bahwa Zero Dark Thirty adalah sebuah karya yang sangat baik dari Kathryn Bigelow. Bahkan saya pribadi lebih menyukai film ini daripada The Hurt Locker. Film ini lebih besar, lebih cepat, lebih intens dan menegangkan, naskahnya pun lebih cerdas. Tapi satu kelebihan The Hur Locker yang tidak berhasil disamai oleh Zero Dark Thirty adalah "hati". Film ini memang punya Maya, tapi dia adalah sosok yang menarik untuk diikuti dan diobservasi, namun bukan sosok yang membuat kita tersentuh ataupun tergerak atas apa yang ia lakukan. Tapi diluar itu film kesembilan dari Bigelow ini adalah masih yang terbaik diantara nominator Best Picture Oscar lainnya. Saya belum menonton Amour, sedangkan Django Unchained adalah favorit saya, tapi sejauh ini yang paling pantas menang bagi saya adalah Zero Dark Thirty. Ini bukan sekedar tentang perang terhadap terorisme, tapi tentang mereka yang sudah menghabiskan waktu begitu banyak dalam hidup untuk memerangi hal tersebut, apapun motivasinya.


5 komentar :

Comment Page:
Anonim mengatakan...

Bang rasyidnonton dimana zero dark thirty nya? bukannya di indo belum di release?

Rasyidharry mengatakan...

File download-nya udah ada kok hehe

Anonim mengatakan...

oh jadi kesimpulannya si om ga pasti nonton film yang kualitasnya udah dvdrip/ brrip ya.hehe. okedeh, tapi kalo saya mendingan nunggu sebentar lagi

Rasyidharry mengatakan...

Tergantung sih, kalo ternyata dvdscr gitu yang kualitasnya udah lumayan nggak masalah hehe

Agus Arifuddin mengatakan...

yg pkek INDOVISION pasti udah pernah nnton,,,
di chanel FOX MOVIES PREMIUM