THE GRANDMASTER (2013)

2 komentar
Apakah kita masih belum cukup diberikan suguhan film-film tentang Yip Man atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ip Man? Semenjak tahun 2008 yang diawali oleh film Ip Man yang dibintangi oleh Donnie Yen, sudah ada sekitar lima film termasuk The Grandmaster versi Wong Kar-wai ini. Selain dua film yang dibintangi Donnie Yen praktis film-film lainnya tidak saling berhubungan sehingga seolah-olah para filmmaker sedang berlomba untuk membuat film Ip Man versi mereka masing-masing. Saya menyukai dua film yang dibintangi Donnie Yen dimana keduanya sukses menggabungkan unsur drama dengan segala adegan aksi berbalut martial arts yang luar biasa. Kemudian datang Wong Kar-wai, sutradara yang selama ini lebih dikenal lewat film-film drama arthouse. Saya sendiri baru menyaksikan satu filmnya, yakni In the Mood For Love, dan dari situ saya cukup kaget bahwa Wong akan membuat film bertemakan martial arts. Satu hal yang membuat saya tertarik pada The Grandmaster tentu saja adalah rasa penasaran saya akan visi seorang Wong Kar-wai jika diaplikasikan pada sebuah film kung-fu. Apakah ada balutan sinematografi indah seperti dalam film-filmnya yang lain?

Berperan sebagai sosok Yip Man ada Tony Leung yang juga termasuk aktor langganan Wong Kar-wai (bermain juga di In the Mood for Love dan memenangkan Best Actor di ajang Cannes Film Festival). Selain itu ada nama Zhang Ziyi serta Song Hye-kyo melengkapi nama tenar di jajaran cast-nya. The Grandmaster membuka kisahnya pada tahun 1930-an saat Yip Man bertempat tinggal di Foshan, sebuah daerah di Selatan Cina. Yip Man beserta keluarganya hidup bahagia dengan harta berlimpah dan statusnya sebagai seorang master kung-fu Wing-chun. Suatu hari datanglah Gong Yutian (Wang Qingxiang) seorang master kung-fu dari Utara yang menantang para ahli kung-fu dari Selatan untuk bertarung dengan anak didiknya, Ma San (Zhang Jin). Berhasil memenangkan tantangan tersebut, Yip Man ternyata masih harus berurusan dengan Gong Er (Zhang Ziyi) dimana tantangan tersebut berakhir dengan sebuah pertarungan yang pada akhirnya justru menyatukan mereka sebagai teman baik. Waktu berlalu dan pasukan Jepang mulai menjajah Cina. Yip Man dan keluarganya terkena dampak, dan tidak hanya itu karena masih ada begitu banyak konflik lain dalam film ini...begitu banyak, bahkan terlampau banyak sekaligus acak.

The Grandmaster jelas sebuah sajian yang jauh berbeda dari Ip Man khususnya jika dilihat dari fokus utama film ini. Daripada mengutamakan tentang kisah hidup Yip Man sebagai sorotan utama dengan adegan aksi sebagai senjata andalan, The Grandmaster lebih menitik beratkan pada hal-hal berbau filosofis seperti kaitan antara kung-fu dengan kehidupan hingga berbagai konflik dalam hidup manusia mulai dari cinta, persahabatan, keluarga hingga pengkhianatan. Hal-hal filosofis tersebut ditunjukkan oleh Wong mulai dari sinematografi dan pengambilan gambar sampai dialog-dialog puitis. Bicara sinematografinya, aspek tersebut adalah salah satu keunggulan utama dari The Grandmaster. Berbagai macam momen mampu dirangkum dengan begitu indah mulai dari adegan pertarungannya yang artistik sampai berbagai gambar-gambar penuh makna metafora. Seperti yang sudah saya duga juga ada begitu banyak momen slow motion yang dipakai oleh Wong Kar-wai disini. Namun bagi saya penggunaan slo-mo disini terasa berlebihan dan seringkali tidak tepat momennya. Seharusnya sebuah slow motion dipakai untuk menangkap momen-momen tertentu yang dirasa perlu, sama seperti yang dilakukan oleh Wong dalam In the Mood for Love yang seksi tersebut. Sedangkan dalam The Grandmaster penggunaan teknik slo-mo yang ada terkesan dipaksakan dan terlampau banyak.
Yang berharap film ini akan seperti Ip Man milik Donnie Yen siap-siap saja kecewa karena adegan pertarungan kung-fu di film ini memang bisa dihitung dengan jari. Tapi toh saya memaklumi pemilihan tersebut karena memang begitulah konsep yang coba ditekankan oleh Wong Kar-wai, dan tentunya hal ini tidak akan memenuhi ekspektasi banyak penonton. Sayangnya bagaimana plot cerita yang harusnya jadi pondasi utama di film ini terkesan cukup berantakan. Pertama saya terganggu dengan bagaimana plot yang ada seolah tidak diedit dengan rapih dan melompat kesana kemari tanpa penghubung yang jelas hingga terasa membingungkan. Bahkan ada beberapa kemunculan karakter yang tidak jelas maksudnya, semisal sosok The Razor (Chang Chen) yang mendadak muncul tanpa memberi dampak yang jelas bagi ceritanya. Padahal sesungguhnya sosok The Razor adalah karakter yang cukup menarik. Banyak yang mengkritisi bahwa film ini kurang berfokus pada Yip Man, namun saya kurang sependapat dengan hal tersebut. Yip Man sekali lagi memang jadi sosok protagonis utama disini, tapi bagi saya The Grandmaster memang bukan mengenai hal tersebut. The Grandmaster adalah kisah tentang bagaimana para master kung-fu yang ada mendalami intisari dalam aliran mereka masing-masing dan menerapkannya dalam segala aspek kehidupan mereka.

Tapi entah mengapa saya menduga bahwa sesungguhnya diawal produksi Wong Kar-wai lebih memfokuskan filmnya pada kisah hidup Yip Man dan berfokus pada penggarapan cerita. Namun pada saat memasuki proses editing ia berubah pikiran untuk mengubah haluan filmnya menjadi lebih filosofis dan luas cakupannya serta lebih berfokus pada menangkap mood seperti yang kerap dilakukan Terrence Malick dalam film-filmnya. Namun pada akhirnya The Grandmaster jatuh menjadi film tanggung yang kurang jelas arahnya mau dibawa kemana. Tapi semua itu hanya dugaan saya, apakah memang Wong melakukan perubahan pilihan pada proses editing atau ia memang sudah sedari awal merencanakan akan membuat film ini seperti ini saya kurang tahu. Namun jika pilihan kedua yang tepat, maka Wong bisa dibilang kurang berhasil dalam menentukan arah karyanya ini. Pada akhirnya dengan plot yang kurang rapih, beberapa momen terasa kehilangan greget. Padahal ada beberapa momen yang berpotensi terasa menyentuh dengan segala bumbu filosofinya, namun sekali lagi cerita yang tidak mengalir dengan rapih membuat momen tersebut kehilangan gregetnya.

Secara keseluruhan The Grandmaster jelas tidak memenuhi ekspektasi saya. Sebuah film yang jauh dari kata buruk mengingat saya cukup menyukai makna yang coba disajikan oleh Wong dalam ceritanya, hanya saya tidak suka bagaimana plotnya mengalir dengan acak dan tidak rapih. Koreografi adegan aksinya sendiri cukup memuaskan, apalagi dibalut dengan sinematografi yang begitu indah. Lewat adegan pertarungannya saya bisa cukup memahami bagaimana hubungan antara sosok-sosok yang saling bertarung entah itu kawan, sahabat, musuh hingga sepasang manusia yang menyimpan rasa cinta sekalipun. Sayang pada akhirnya film ini juga harus diakhiri tanpa greget dan terburu-buru seolah kembali kehilangan arahnya.

2 komentar :