SMASHED (2012)

1 komentar
Ada banyak cara mempersatukan dua insan manusia, dan tidak hanya melalui hal-hal positif seperti cinta sejati dan sebagainya. Hal-hal gila yang cenderung mengarah negatif nyatanya juga bisa menyatukan dua manusia. Saya ambil contoh mulai dari pasangan semisal Kurt Cobain-Courtney Love atau pasangan legendaris Sid Vicious-Nancy Spungen yang saling mengisi keseharian dengan drugs. Dalam Smashed karya sutradara James Ponsoldt kita akan diperlihatkan sepasang suami-istri yang begitu kompak dalam urusan mabuk dan pesta alkohol. Charlie (Aaron Paul) dan Kate (Mary Elizabeth Winstead) tidak pernah melewatkan hari-hari mereka tanpa minuman keras. Mulai dari bangun tidur, sebelum berangkat kerja, hingga akhirnya berpesta di bar pada malam harinya. Pasangan suami-istri tersebut merasa bahagia dengan gaya hidup yang liar tersebut. Namun seringkali tercipta juga masalah akibat perilaku liar tersebut. Kate pernah terbangun di tempat yang tidak ia ketahui setelah di malam sebelumnya mabuk-mabukan dan menghisap sabu bersama wanita asing yang menumpang di mobilnya. Bahkan Kate yang bekerja sebagai guru sekolah dasar itu pernah muntah di depan kelas setelah minum wiski sesaat sebelum kelas dimulai. Pada saat kejadian tersebut terjadi ada seorang murid yang bertanya apakah dia hamil dan secara spontan Kate mengiyakan pertanyaan tersebut.

Jadilah seisi sekolah percaya bahwa Kate hamil termasuk sang kepala sekolah yang begitu perhatian padanya. Merasa bersalah, Kate akhirnya dibujuk oleh rekannya sesama guru, Dave (Nick Offerman) untuk mengikuti sebuah sesi terapi bersama orang-orang yang juga/dulunya pecandu alkohol. Dari sinilah perjuangan Kate untuk lepas dari adiksinya dimulai. Sebuah perjuangan berat karena nyaris tidak ada sosok yang mendukungnya selain Dave dan anggota terapi lainnya, Jenny (Octavia Spencer). Bahkan sang suami sampai ibunya sekalipun tidak terasa memberi dukungan total pada Kate. Tidak seperti kebanyakan film tentang adiksi alkhohol ataupun narkoba lainnya yang biasanya punya tone gelap bahkan cenderung depresif, Smahsed memilih merangkum kisahnya dengan lebih ringan dengan sentuhan sedikit humor segar di beberapa bagiannya. Smashed memang punya konflik kehidupan berat yang menimpa karakternya, namun tidak ada momen depresif yang membuat karakter utamanya terjatuh pada lubang kegelapan. Bahkan dari opening yang memperlihatkan Kate ngompol di tempat tidur sudah terasa bahwa film ini tidak akan terlalu membawa penontonnya pada suasana gelap nan depresif yang seringkali menghiasi film-film bertemakan adiksi alhokohol.

Smashed tampil sebagai sebuah film dengan cerita dan penggarapan yang membumi. James Ponsoldt yang juga menjadi penulis naskah nampaknya tahu benar akan objek yang dijadikan fokus dalam film ini, yaitu orang yang adiksi terhadap alkohol. Apa saja konflik-konflik yang meliputi orang yang kecanduan alkohol dimuat disini, mulai dari kebohongan hingga hal-hal bodoh yang terjadi saat seseorang itu tengah mabuh dan menciptakan berbagai konflik. Namun sekali lagi film ini tidak disajikan dengan nuansa yang gelap, bahkan saya bisa dibuat tertawa melihat konflik-konflik yang terjadi mulai saat Kate dianggap hamil di depan kelas, saat Kate buang air di sebuah toko, serta masih banyak lagi momen-momen yang punya muatan humor segar dan tidak pernah gagal memancing tawa. Lalu seperti yang saya bilang bahwa film ini benar-benar mengenal konten yang disorot, termasuk disaat Kate berusaha lepas dari kecanduannya, namun dia tidak mendapat dukungan yang cukup dari orang-orang di sekitarnya. Usaha lepas dari segala bentuk kecanduan dalam hal ini alkohol memang tidak cukup jika hanya ada niatan dari orang yang kecanduan, tapi dukungan moril dari orang terdekat merupakan faktor yang tidak bisa dilupakan.
Saya juga suka bagaimana Smashed tidak memaksa menunjukkan bahwa kecanduan alkohol adalah hal yang buruk. Banyak film yang terasa munafik saat mengangkat tema ini, tapi tidak dengan Smashed dimana Kate tetap mengakui baha masa-masa disaat dirinya masih addicted pada alkohol tetap punya memori-memori menyenangkan dan ia sadar akan hal tersebut. Hanya saja Kate merasa ia perlu menghentikan kebiasaannya itu karena banyak hal negatif yang akan ia dapatkan dari kecanduan alkoholnya. Tidak bisa dipungkiri hal-hal gila yang dilakukan seseorang meski hal itu adalah hal negatif pasti akan meninggalkan kesenangan tersendiri bagi orang tersebut, dan Smashed tidak menghindari untuk mengungkapkan fakta itu. Dengan durasi hanya 81 menit dan disajikan dengan tone yang tidak depresif membuat Smashed menjadi film yang tidak sulit untuk dinikmati. Namun sayangnya hal tersebut membuat saya merasa konflik yang dihadirkan tidak terlalu mendalam. Saya memang bisa menikmati jalannya cerita tapi tidak pernah sampai tersentuh atau ikut terbawa pada konflik emosi yang ditampilkan.

Untungnya film ini punya Mary Elizabeth Winstead yang tampil luar biasa. Disaat konfliknya terasa tidak terlalu diperdalam, akting Winstead bisa membuat semua adegan terasa punya emosi yang kuat. Peran Kate adalah sebuah peran yang terasa dikhususkan bagi Mary Elizabeth Winstead dalam salah satu akting terbaik yang pernah ia tunjukkan sepanjang karirnya, dan ya disini ia masih secantik biasanya. Selain Winstead, ada Octavia Spencer sang pemenang Best Supporting Actress tahun 2012 lalu. Bagi saya aktingnya cukup baik, hanya saja karakternya tidak diberi porsi yang cukup mendalam. Secara keseluruhan Smashed jelas sebuah tontona yang menarik diikuti dan yang paling penting film ini tahu secara pasti mengenai konten yang dijadikan bahan sorotan. Pastinya keberadaan Mary Elizabeth Winstead juga membuat film ini sangat layak untuk ditonton.


1 komentar :