THE PLACE BEYOND THE PINES (2013)

1 komentar
Keberadaan Ryan Gosling dan Bradley Cooper dalam satu film jelas sebuah daya tarik yang luar biasa. Keduanya adalah aktor yang menjadi hot property di Hollywood setidaknya dalam dua tahun terakhir. Gosling menguasai tahun 2011 dengan tiga film dan setelah absen setahun ia kembali lagi dengan tiga film sekaligus (bahkan bisa empat andaikan filmnya dengan Terrence Malick jadi rilis tahun ini). Sedangkan Bradley Cooper yang semenjak penampilannya di The Hangover pada 2009 lalu mulai menikmati kesuksesan sedang berada di puncak karirnya setelah meraih nominasi Oscar tahun ini lewat Silver Linings Playbook. Namun The Place Beyond the Pines tidak hanya punya mereka berdua. Berbagai nama besar lain turut menghiasi film ini mulai dari Eva Mendes, Ray Liotta, Rose Byrne hingga Dane DeHaan yang mencuri perhatian lewat Chronicles dan akan berperan sebagai Harry Osborn di The Amazing Spider-Man 2 tahun depan. Disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Derek Cianfrance yang sebelumnya menyutradarai Blue Valentine (juga dibintangi Ryan Gosling), The Place Beyond the Pines bercerita tentang setidaknya tiga cerita besar yang saling berkaitan dan punya efek sebab-akibat satu sama lain.

Luke Glanton (Ryan Gosling) adalah pria yang tiap malam bekerja sebagai seorang stuntman sepeda motor, sebuah atraktsi yang kurang lebih sama dengan Tong Stand/Tong Setan di Indonesia. Luke sendiri sempat menjalin hubungan singkat dengan seorang pelayan restoran bernama Romina (Eva Mendes). Namun akibat tuntutan pekerjaan ia harus meninggalkan Romina untuk berkeliling ke berbagai tempat. Setahun kemudian ia kembali dan mendapati fakta mengejutkan bahwa Romina sudah melahirkan seorang bayi laki-laki bernama Jason yang merupakan hasil hubungannya dengan Luke. Hal tersebut mengubah jalan hidup Luke selamanya. Merasa perlu bertanggung jawab dia memilih berhenti dari pekerjaan dan menetap di kota tersebut supaya bisa menghidupi Romina dan Jason. Sadar bahwa satu-satunya kemampuan yang ia miliki adalah skill mengendarai sepeda motor yang diatas rata-rata ia menerima tawaran Robin (Ben Mendelsohn) untuk merampok bank. Hal itulah yang membuat Luke pada akhirnya harus berurusan dengan seorang polisi muda bernama Avery Cross (Bradley Cooper). Bagi Avery, konfrontasi singkatnya dengan Luke telah merubah hidupnya. Bahkan tidak hanya mempengaruhi hidup Avery, tapi juga hidup orang lain termasuk Jason dan Romina. Sebuah konfrontasi beberapa detik yang akan mempengaruhi kehidupan banyak orang bahkan hingga 15 tahun kemudian.

The Place Beyond the Pines memang seperti membagi kisahnya dalam tiga babak. Babak pertama berfokus pada karakter Luke dengan segala kisahnya tentang rasa tanggung jawab, cinta serta hubungan antara ayah dan anak yang ditampilkan begitu kuat. Rasa cinta Luke yang begitu kuat pada sang anak membuatnya rela melakukan apapun mulai dari meninggalkan pekerjaan hingga mempertaruhkan nyawanya dengan merampok bank. Disinilah kharisma seorang Ryan Gosling benar-benar mencuri perhatian. Karakter Luke mengingatkan saya pada karakter Driver yang ia mainkan di Drive. Sama-sama seorang ahli dalam mengendarai sesuatu, melakukan hal-hal kriminal namun dibalik semua itu ada sisi lembut yang ia tunjukkan lewat cinta kepada orang-orang penting dalam hidupnya. Gosling praktis menjadi bintang di paruh pertama film ini. Sosoknya benar-benar bisa mengambil simpati lewat apa yang ia lakukan untuk sang anak. Kemudian narasi berpindah dan berfokus pada karakter Avery Cross yang diperankan oleh Bradley Cooper. Disini ceritanya lebih berfokus pada pengendapan rasa bersalah dan kisah mengenai keadilan dengan menampilkan konflik seputar para polisi korup. Dibalik semua itu Avery juga digambarkan sebagai seseorang yang punya ambisi untuk meningkatkan karirnya.
Jujur bagi saya hilangnya Ryan Gosling saat film belum berjalan setengahnya cukup berpengaruh pada daya tarik filmnya. Bukan berarti kisah mengenai Avery Cross ataupun penampilan Bradley Cooper buruk, karena ceritanya mengalir dengan baik dan akting Cooper cukup bagus, namun masih kalah menarik jika dibandingkan saat filmnya berfokus pada karakter Luke Glanton. Barulah pada paruh ketiga hilangnya Ryan Gosling berpengaruh secara positif dimana hal tersebut berpengaruh penting terhadap sisi emosional yang terasa begitu kuat pada bagianyang berfokus pada kedua anak dari Luke dan Avery ini. Memang tidak ada Ryan Gosling di paruh ketiga, namun keberadaannya terasa begitu kuat berpengaruh terhadap pondasi cerita. Meski membagi plot-nya menjadi tiga jalinan besar cerita, namun The Place Beyond the Pines tetap berhasil mempertahankan benang merah antara cerita yang satu dengan yang lain. Selain berhubungan dari segi cerita, konten yang coba ditampilkan juga pada dasarnya tidak jauh berbeda satu sama lain. Ketiganya sama-sama berkisah tentang rasa sayang antara ayah dan anak dan ambisi untuk melakukan sesuatu yang besar dalam hidup masing-masing karakternya. Film ini juga memperlihatkan bahwa sebuah kejadian yang berlangsung selama beberapa detik saja bisa berpengaruh begitu panjang, bahkan hingga belasan tahun dan hingga ke generasi berikutnya.

Meski sempat menurun daya tariknya disaat karakter Luke milik Ryan Gosling dihilangkan, The Place Beyond the Pines pada akhirnya tetap menjadi sebuah film dengan jalan cerita menarik dan sisi emosional yang cukup kuat. Durasinya yang mencapai 140 menit dengan tempo yang cukup lambat tidak membuat filmnya terasa bertele-tele apalagi membosankan. Mungkin selain sebuah kejutan yang melibatkan konfrontasi antara Luke dan Avery di pertengahan film, The Place Beyond the Pines terasa predictable bahkan hingga akhir filmnya. Tetapi Derek Cianfrance mampu membungkus kisah drama-kriminal dua generasi ini dengan begitu menarik dan intens. Terkadang ada ketegangan di beberapa adegannya namun ada juga momen emosional yang mampu membuat saya tersentuh. Mungkin tidak semenyentuh ataupun sedpresif Blu Valentine, tapi The Place Beyond the Pines yang penuh dengan ambiguitas moral dalam ketiga ceritanya (pencurian bank, kehidupan Avery hingga kisah antara Jason dan AJ) jelas adalah sebuah perjalanan dua generasi yang penuh dengan rasa cinta yang begitu kuat.


1 komentar :