REVIEW - 28 YEARS LATER: THE BONE TEMPLE
Penting untuk diingat bahwa di waralaba satu ini, infeksi bukan mengubah manusia menjadi zombi tak berotak biasa, tapi menstimulus amarah mereka. Kalau 28 Days Later (2003) adalah tentang amukan yang membawa kehancuran, maka melanjutkan 28 Years Later (2025), The Bone Temple merupakan progresi natural yang membicarakan upaya menyembuhkan kekacauan batin lewat proses mencari kedamaian.
Melanjutkan akhir menggantung film sebelumnya, kita kembali bertemu Spike (Alfie Williams) yang ditangkap oleh kelompok pemuja setan milik Sir Lord Jimmy Crystal (Jack O'Connell). Mengenakan wig panjang pirang dalam tampilan yang dimodelkan berdasarkan Jimmy Savile si predator seksual serta memanggil satu sama lain "Jimmy", mereka percaya sang pemimpin adalah keturunan setan yang diutus untuk menyulut kehancuran dunia.
Di sisi lain, Dr. Ian Kelson (Ralph Fiennes), masih di kuil tulang manusia ciptaannya, membangun hubungan pertemanan aneh dengan Samson (Chi Lewis-Parry) si zombi alfa. Jika kultus Jimmy Crystal berkeliaran menguliti para penyintas, maka Samson bakal mencabut tulang belakang mereka kemudian memakan otaknya.
Kuantitas aksi The Bone Temple tidak seberapa banyak, bahkan untuk ukuran seri 28 Days Later yang cenderung mengetengahkan drama humanis, tapi bukan berarti Nia DaCosta selaku sutradara tak piawai merumuskan teror. Dua momen yang saya sebut di atas mampu menghadirkan parade gore menjijikkan nan menyakitkan, hanya saja, elemen kekerasan film ini tak dieksploitasi atas nama hiburan, namun jadi penggambaran esensial atas dunia post-apocalyptic-nya.
DaCosta mengganti "sinematografi iPhone" penuh gaya khas Danny Boyle dengan bahasa visual puitis yang mengajak penonton mengobservasi masih adanya sisa-sisa keindahan alam kendati kiamat telah menghampiri dunia 28 tahun lalu.
Sebagai landasan, naskah buatan Alex Garland menggiring tokoh-tokohnya perlahan mengingat keindahan tersebut, lalu memanfaatkan unsur psikedelik guna membuat mereka menyadari bahwa "tidak ada salahnya mendambakan kedamaian di tengah dunia yang penuh amarah."
Subteks "manusia lebih menyeramkan dari mayat hidup" khas film zombi masih dipertahankan, tapi Garland mengolahnya lebih jauh dengan memanusiakan seluruh karakternya, dari Samson hingga Jimmy, sama-sama memotret keduanya sebagai figur tragis alih-alih sekadar setan tanpa kepribadian.
Jika ada ciri penyutradaraan Danny Boyle yang dipertahankan oleh Nia DaCosta, itu adalah kejelian memilih daftar putar lagu. Satu yang paling menonjol tentu The Number of the Beast kepunyaan Iron Maiden selaku pengiring momen megah di babak ketiga.
Klimaksnya memang spesial. Disokong keliaran tindak-tanduk Ralph Fiennes, momen tersebut makin menegaskan keberanian seri 28 Days Later melawan pakem film zombi arus utama, dengan menyeriusi sebuah lelucon (ya, film ini lebih punya sense of humor dibanding para pendahulunya), menjadikannya babak puncak, lalu sebagaimana ucapan Dr. Kelson, "turn this up to eleven."

.png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar