RETROSPECTIVE REVIEW - AMEN (2011)

Tidak ada komentar
Seperti yang sebelumnya saya tuliskan dalam retrospective review untuk Pieta, saya berniat menonton ulang beberapa film Kim Ki-duk yang sebelumnya sudah saya tonton namun kurang berkesan. Kali ini yang saya tonton ulang adalah Amen, sebuah film yang bisa dibilang menjadi pertanda kembalinya Kim Ki-duk membuat film drama setelah sebelumnya comeback lewat dokumenter Arirang. Bisa dibilang Amen adalah wujud sesungguhnya dari istilah low budget movie dimana film ini memang digarap dengan dana yang sangat minim, hanya memakai satu kamera berkualitas rendah, dan hanya mempunyai dua orang kru yakni Kim Ki-duk yang disini menjadi sutradara, pemain, kameramen sekaligus editor dan Kim Ye-na yang menjadi aktris utama merangkap sebagai juru kamera. Sedikit menceritakan ulang kisahnya, Amen bercerita tentang seorang wanita (Kim Ye-na) yang melakukan perjalanan sendirian ke Paris untuk mencari seorang pria bernama Lee Myung-soo. Siapakah Lee Myung-soo? Diawal kita hanya bisa berspekulasi bahwa dia adalah seseorang yang sangat berharga bagi wanita tersebut, mungkin pacarnya. Tapi setelah mendatangi alamat yang dituju, Myung-soo ternyata sudah pindah ke Venezia. Maka wanita itupun mulai melanjutkan pencariannya ke Venezia hingga nantinya sampai di Avignon. 

Namun saat ia tengah tertidur di kereta api, masuklah seorang pria misterius yang memakai masker (Kim Ki-duk) yang kemudian memperkosa wanita tersebut dan mengambil barang-barangnya termasuk paspor dan sepatu. Ya, ini adalah satu lagi kisah Kim Ki-duk mengenai cerita cinta aneh yang dibalut unsur seksualitas. Salah satu hal yang paling mengganggu saya pada pengalaman pertama menonton film ini adalah aspek artistiknya yang terasa begitu kasar dan amatiran. Kamera berkualitas minim, pergerakan kamera serta editing yang kasar, hingga tata suara yang tidak jernih dimana noise yang ada begitu besar. Bahkan jika dibandingkan film debutnya, Crocodile, tata suara dalam Amen lebih buruk. Namun kali ini saya mendapatkan perasaan yang lain mengenai tata artistik tersebut. Kualitas gambar dan pergerakan kameranya memang kurang baik, tapi dengan berdiri di belakang kamera, Kim Ki-duk nampak begitu peka dalam menangkap gambar-gambar indah yang mampu mendukung esensi cerita serta atmosfer film ini. Sedangkan tata suaranya yang penuh noise justru membuat saya bisa merasakan keterasingan yang dirasakan oleh sang wanita. Seperti dia saya tidak mengenal orang-orang lain yang ada di sekitar dan tidak mengerti bahasa Prancis ataupun Italia. Dengan rangkaian noise itu suasana berada diantara keramaian yang asing seolah benar-benar terasa. Bisa jadi memang itu tujuan Kim Ki-duk, karena rasanya tidak mungkin ia lalai ataupun malas mengedit suara yang terasa begitu kasar ini.

Melihat Amen saya sekarang justru terpukau dengan bagaimana semangat seorang Kim Ki-duk dalam membuat film. Tidak peduli keterbatasan yang ada dia tetap berusaha melakukan sesuatu yang amat ia cintai dalam hidupnya. Saya pun kagum pada bagaimana kepekaan rasa yang dimiliki oleh Kim disini. Amen dibuat memang tanpa naskah. Kim Ki-duk dan Kim Ye-na berangkat ke Paris hingga Avignon tanpa berbekal naskah yang pasti. Maka dari itu saya merasa bahwa apa yang tersaji di layar adalah murni perwujudan rasa yang spontan dari sang sutradara. Mungkin saja Amen justru bisa menjadi ekspresi paling personal dari Kim Ki-duk diluar Arirang. Yang dilakukan Kim adalah melihat sekitar dan mencoba memaknai apa saja yang bisa ia tangkap dari hal-hal di sekelilingnya. Kim Ki-duk sanggup mewujudkan adegan-adegan penuh kebimbangan, kesedihan serta amarah dari tokoh utamanya meski tidak berbekal naskah cerita. Maka yang menjadi bekal adalah ekspresi rasa yang tertuang dari kamera yang dipegangnya. Pada akhirnya cerita dalam Amen memang tetap terasa sebagai sebuah short movie yang dipanjangkan, tapi kali ini saya tidak merasa ceritanya dipaksakan ataupun membosankan. Pada pengalaman menonton kali ini saya berhasil dibuat tersedot oleh keindahan yang mengiringi perjalanan penuh galau dari Kim Ye-na.
Untuk interprtasi ceritanya, kali ini saya mendapatkan interpretasi yang berbeda dari apa yang sebelumnya saya dapatkan. Untuk membaca interpretasi saya yang pertama silahkan buka review Amen. Kali ini saya memandang apa yang terjadi antara si wanita dengan pemerkosa bermasker tersebut sebagai perwujudan kisah cinta yang dihalangi oleh miskomunikasi. Sang wanita merasa takut dan benci pada perbuatan pria bermasker. Tentu saja itu wajar, karena pria itu datang memperkosa bahkan mengambil barang-barangnya. Namun disisi lain sebenarnya pria tersebut justru mencintai si wanita. Dia secara diam-diam membantu wanita tersebut bertahan hidup di negeri yang asing baginya, Namun keduanya tidak bisa bersatu karena tidak adanya pemahaman dan interaksi yang memadahi diantara mereka berdua. Sang pria seolah terasa sebagai pencinta yang tidak sanggup atau mungkin tidak mengerti bagaimana mengutarakan/memperlihatkan wujud rasa cintanya. Apa yang ia lakukan sebagai wujud rasa cinta justru sebuah tindakan seksual, yang seolah memberikan gambaran mengenai apa yang sering terjadi dalam hubungan percintaan di masa sekarang ini.

Dengan dua interpretasi yang saya miliki, membuat saya tidak lagi memandang Amen sebagai sebuah film yang nonsense meski saya tetap merasa ceritanya kurang mendalam jika dibandingkan karya Kim Ki-duk yang lain tapi setidaknya kali ini saya bisa jauh lebih menikmati bahkan mengagumi beberapa momen yang ditampilkan oleh sang sutradara. Setelah selesai menonton ulang, saya justru dibuat tersenyumk karena merasakan ironi dari filmnya, dimana awalnya ini adalah kisah tentang wanita yang mencari seorang pria namun justru diakhiri dengan wanita itu pulang membawa bayi dalam kandungannya. Terasa sedikit familiar dengan fenomena hubungan percintaan dewasa ini. Saya masih tidak mengubah pandangan saya bahwa Amen merupakan salah satu karya Kim Ki-duk yang paling lemah. Namun setidaknya setelah menengok kebelakang sekali lagi, Amen tidak menjadi sebuah film yang mendapat penilaian negatif dari saya.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar