AUDITION (1999)

3 komentar
Sudah berapa banyak orang atau artikel yang saya baca menyebutkan film Takashi Miike yang satu ini sebagai salah satu film paling disturbing, gila, sadis hingga sebutan-sebutan lain yang pada intinya menyatakan bahwa Audition adalah film sinting yang memang layak mendapat status cult sekaligus salah satu yang terbaik dari seorang Takashi Miike. Diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Ryu Murakami, Audition dirili sebelum Miike menghadirkan karya-karya gilanya yang lain seperti Visitor Q dan tentu saja Ichi the Killer. Saya tahu bahwa film ini akan mulai berjalan dengan tempo yang lambat sebelum pada akhirnya menumpahkan semua kegilaannya di 20 menit terakhir, dan paruh akhir itulah yang saya tunggu-tunggu. Tapi sembari menanti kegilaan yang tumpah di akhir, tentu saya juga berharap akan ada cerita menarik yang mengiringi film ini. Takashi Miike sadar betul akan hal itu. Dia bisa saja menjadikan Audition lebih straight forward dan lebih singkat. Miike bisa membuat film ini sebagai torture porn murni layaknya Saw maupun Hostel namun pada akhirnya dia memilih pendekatan yang lebih mendalam, mencoba untuk lebih banyak mengeksplorasi karakter lewat drama psikologis yang perlahan sebelum akhirnya menggebrak di akhir. Tapi apakah gebrakannya cukup kuat?

Aoyama (Ryo Ishibasi) sudah tujuh tahun kehilangan sang istri yang meninggal dunia karena sakit. Selama itulah dia tinggal berdua bersama puteranya yang masih remaja, Shigehio (Tetsu Sawaki). Keduanya hidup bahagia namun tetap saja ada yang kurang dalam hidup Aoyama yakni sosok wanita pendamping. Atas dorongan anaknya Aoyama pun mantap ingin menikah lagi. Namun dengan usianya yang sudah tidak lagi muda tentu saja Aoyama tidak ingin main-main dalam mencari wanita idamannya. Untuk itulah ia meminta bantuan pada sahabatnya yang berprofesi sebagai produser film, Yoshikawa (Jun Kunimura). Yoshikawa muncul dengan sebuah ide untuk mengadakan audisi film dan mencari pemeran utama wanita. Tapi tujuan utama audisi tersebut tentu saja untuk mencarikan wanita yang cocok bagi Aoyama. Dari puluhan wanita yang ada, Aoyama ternyata sudah tertarik dengan wanita muda bernama Asami (Eihi Shiina) sedari ia membaca berkas milik wanita tersebut. Aoyama yakin dengan ringkasan hidup Asami yang ia tahu dan berbagai keahlian yang ia miliki, wanita itu akan jadi pendamping yang tepat baginya. Namun ternyata ada misteri yang begitu kelam tersimpan dalam diri Asami. Misteri yang akan membawa Aoyama dalam horor yang tidak pernah ia bayangkan.

Dalam film ini, Miike menggunakan teknik yang sering dipakai Hitchcock dalam membangun tensi dan ketegangan filmnya, yakni memberikan dua atmosfer yang berbeda dalam filmnya. Film-film Hitchcock selalu membuat penonton shock karena apa yang tersaji di paruh pertama begitu berbeda dengan teror di paruh kedua. Sebut saja The Birds yang diawal seperti komedi romantis atau Rear Window yang terlihat seperti drama komedi. Audition milik Miike memang tidak memberikan dua atmosfer yang sangat ekstrim tapi terlihat jelas usahanya melakukan itu. Paruh pertamanya memang sudah terasa cukup kelam, apalagi film ini dibuka dengan adegan kematian tapi apa yang Miike bangun diawal merupakan sebuah pondasi yang cukup kuat untuk memberikan efek kejut di akhir nanti sekaligus memberikan dasar yang kuat pada karakternya. Pada paruh awal kita diperlihatkan bagaimana kehidupan Aoyama yang sebenarnya sudah cukup bahagia. Kita diajak mengenal Aoyama sebagai pria paruh baya yang baik hati dimana ia dekat dan cukup akrab dengan puteranya Keduanya saling tertawa dan menghabiskan waktu cukup sering. Lalu masuk pada fase Aoyama mencari pendamping kita pun diajak melihat bagaimana dia memang sungguh serius dalam melakukan pencarian itu. Bahkan di fase ini Miike memberikan sedikit sentuhan humor seperti saat adegan audisi yang cukup lucu.
Di paruh awal ini Audition sama sekali tidak terasa sebagai sajian horor. Namun seperti yang saya bilang, ini adalah pondasi kuat yang dipasang oleh Miike termasuk bagi karakter-karakternya. Ada simpati yang saya rasakan terhadap Aoyama dimana ia harus kehilangan sang istri, sayang pada anaknya, terlihat ramah pula. Intinya dia adalah orang baik, dan semua itu memberikan simpati termasuk saat saya sadar bahwa nantinya ia akan mengalami nasib buruk. Miike pun mengemas semua ini dengan baik dan tidak membosankan. Sebuah drama psikologis yang mengeksplorasi diri Aoyama berjalan dengan cukup menarik. Barulah saat Asami muncul tone filmnya perlahan menjadi semakin kelam sedikit demi sedikit. Ya, sedikit demi sedikit karena memang Miike mengemas film ini dengan tempo yang cukup lambat namun pasti. Dengan pasti alurnya melangkah dan mulai memberikan hal baru satu demi satu. Drama psikologisnya makin kuat, dan aura thriller juga makin terasa seiring dengan kehadiran sosok Asami. Saya juga suka bagaimana interaksi yang terjadi antara Asami dan Aoyama. Jika dalam kehidupan romansa sehari-hari bisa dibilang Asami jual mahal pada laki-laki yang mendekatinya. Dia bermain-main dengan psikologi Aoyama dimana Asami tidak kunjung menelepon balik, tidak memberi banyak informasi tentang identitas atau tempat tinggalnya, namun disaat bertemu dia menunjukkan ketertarikan pada Aoyama. Seorang laki-laki yang mendapat perlakuan seperti itu dari wanita yang ia suka secara tidak sadar akan sedikit terobsesi dan justru bakal lebih gencar serta sulit terlepas dari wanita tersebut. Hal itulah yang dimanfaatkan Asami.

Sampai disini Audition masih menarik bahkan cukup cerdas. Namun biar bagaimanapun saat filmnya sudah melewati 90 menit, saya jelas akan menunggu "pembayaran" yang setimpal di paruh akhirnya setelah semua penantian serta tempo lambat yang menghiasi drama psikologisnya. Namun Miike nampaknya masih tidak ingin cepat-cepat memberikan kegilaan tersebut, karena disaat seharusnya Audition sudah bisa mencapai klimaks Miike malah bermain-main dulu dengan adegan sureal yang cukup absurd. Jika momen itu dihadirkan sebentar saja saya tidak masalah bahkan bukan tidak mungkin bakal menambah kegilaan serta sisi disturbing dari keseluruhan kisahnya. Apalagi salah satu adegan paling menjijikkan dalam film ini juga hadir pada momen tersebut yakni saat adegan "makan" yang benar-benar membuat saya mual. Mungkin itu adegan yang paling membuat saya ingin muntah sepanjang masa.  Tapi Miike terlalu betah memberikan semua keabsurdan tersebut, Akhirnya kisahnya semakin molor, terlalu lama dan justru menjadi membosankan saat adegan absurd itu malah menjelaskan terlalu banyak dan gamblang berbagai misteri yang ada. Miike tidak memanfaatkan dengan baik momen sureal yang sedang ia munculkan. Memberikan penjelasan saat itu boleh saja tapi bukankah dengan momen sureal Miike bisa membungkus semua jawabannya dengan lebih tersirat? Terlalu gamblang dan terlalu panjang membuat misteri yang ada tidak lagi menarik.

Tapi tidak masalah, asalkan film ini ditutup dengan kegilaan setimpal seperti yang sudah dibilang banyak orang. Momen yang sudah saya tunggu-tunggu itu memang cukup gila dan cukup menyakitkan. Tidak terlalu vulgar, tidak terlalu banyak kesadisan yang diumbar karena Miike lebih berfokus memperlihatkan wajah Asami yang begitu menikmati penyiksaan yang ia lakukan. Jujur suaranya saat mengucapkan "kiri, kiri" terasa begitu mengerikan. Eihi Shiina begitu luar biasa pada momen ini saat ia menumpahkan segala kegilaan milik Asami. Tapi disaat saya menantikan momen yang lebih gila lagi sebagai klimaks filmnya tiba-tiba sudah berakhir dengan sebuah konklusi yang anti-klimaks dan terlalu happy ending. Tentu saja adegan tusuk jarum atau potong kaki itu cukup brutal, tapi saya mengharapkan yang jauh diatas semua itu. Bisa dibilang penantian saya akan sebuah kesintingan Miike yang melegenda dan menjadi cult dalam film ini tidak terbaya lunas. Apa saya yang sudah terlalu banyak menonton film sakit jadi apa yang ditampilkan Miike jadi terlihat biasa saja? Bisa jadi. Sungguh aneh saat adegan yang harusnya paling gila dan sudah saya nantikan justru menjadi salah satu momen paling mengecewakan dalam film ini, bahkan drama psikologis di awal sampai pertengahan jauh lebih menarik. Akhirnya karena paruh awalnya yang menarik meski lambat itulah film ini jadi masih bisa saya nikmati. Miike juga cukup baik dalam membangun kengerian di pertengahan termasuk adegan favorit saya saat karung misterius di rumah Asami itu tiba-tiba bergerak. Tanpa iringan musik yang mengeagetkan adegan itu bisa begitu mengerikanm contoh jump scare yang cerdas. Andai saja Miike mau menyingkat film ini, mungkin mengurangi 10 menit saja khususnya di dreamy sequence yang berputar -putar itu atau justru memberi pors lebih banyak pada penyiksaannya tentu saja Audition akan jauh lebih bagus.

3 komentar :

Comment Page:
niken mengatakan...

Waah, malah menurutku justru paruh akhirnya ketika masuk ke adegan sureal, berlanjut ke aksi sadis itu justru adegan terbaiknya. Dan aku seneng karena happy ending, rasanya kaki ini kepengen nendang si Asami juga... haha..

Bagian awalnya agak bikin bosen.. Tapi ketika ditunjukkan si Asami duduk diem di dalem rumahnya, trus ada karung yang gerak-gerak sendiri, nah itu momen paling nakutin...

Rasyidharry mengatakan...

Karena ekspektasi bakal lebih gila soalnya jadi kecewa. Naaah adegan gerak-gerak itu emang bangsat hehe

Suprianto Effendy mengatakan...

Kelar nonton kok gw rasa kaki gw aneh ya. Rasa pgn gw pegang terus. Ahahahah