REVIEW - WUTHERING HEIGHTS (2026)

Tidak ada komentar

Layar hitam, sementara erangan laki-laki terdengar, sambil sayup-sayup diiringi suara berderit bak tali yang tengah meregang. Apakah ia sedang orgasme atau menanti ajal di tiang gantungan? Ternyata keduanya terjadi secara bersamaan. Tidak salah ketika orang Prancis mendeskripsikan sensasi orgasme sebagai "la petite mort" atau "kematian kecil". 

Wuthering Heights karya Emerald Fennell, selaku adaptasi layar lebar ke-17 (setidaknya menurut Wikipedia) dari novel berjudul sama buatan Emily Brontë, menampakkan dua sisi hasrat yang dapat membawa nikmat yang menghidupkan sekaligus luka yang mematikan. 

Bentangan lanskap yang seolah enggan melepas genggaman mendung jadi latar, sementara gemuruh musik gubahan Anthony Willis membawa atmosfer gotik untuk membuka pertemuan dua tokoh utamanya: Cathy (Charlotte Mellington), putri Mr. Earnshaw (Martin Clunes), bangsawan pemilik manor Wuthering Heights; dan Heathcliff (Owen Cooper), anak miskin yang dibesarkan oleh si bangsawan. 

Keduanya bersahabat, menghapus kesepian masing-masing sembari memendam cinta bagi satu sama lain. Bertahun-tahun setelahnya, Cathy dewasa (Margot Robbie) menarik perhatian tetangga barunya, Edgar (Shazad Latif), yang hidup bermandikan harta kendati bukan berdarah bangsawan. Edgar mengundang Cathy untuk menetap di kediamannya selama sekitar dua minggu. Heathcliff dewasa (Jacob Elordi) pun dikuasai api cemburu. 

Sekembalinya ke Wuthering Heights, Cathy yang kentara tak menyimpan ketertarikan pada Edgar dan hanya memedulikan kerinduan terhadap "si sahabat" justru mendapat penolakan tatkala Heathcliff mengusirnya. 

Fennell enggan memandang kecemburuan Heathcliff selaku wujud cinta luar biasa. Sebaliknya, maskulinitas rapuh laki-laki disentilnya. Mengapa laki-laki sebegitu getol mempertahankan harga diri sarat gengsi, biarpun itu berpotensi melukai mereka? Bukan cuma Heathcliff, Mr. Earnshaw yang menenggelamkan diri dalam alkohol pun serupa. Fennell mengubah jalur Wuthering Heights menjadi kisah relevan tentang bagaimana maskulinitas laki-laki merusak hidupnya sendiri, juga orang-orang di sekitarnya. 

Heathcliff memutuskan pergi, sedangkan Cathy terpaksa menikahi Edgar demi menyelamatkan finansial keluarga. Latar pun berpindah menuju kediaman si laki-laki kaya yang berisi ragam gaya arsitektur eksentrik, juga setumpuk gaun unik nan cantik yang Edgar siapkan untuk istrinya. Sinematografi arahan Linus Sandgren membingkai tiap shot-nya bak lukisan indah yang memancing kekaguman.

Masalahnya, ada kalanya film ini mengemis rasa kagum penonton secara berlebihan. Tengok montase berisi rutinitas Cathy pasca menikah, yang didesain tak ubahnya video klip musik bervisual menawan namun terkesan artificial, pula tanpa rasa. Fennell seperti mengarahkan Robbie untuk berpose semata alih-alih berakting.

Walau harus diakui, pilihan membungkus materi klasik ini dalam sampul pop modern menghadirkan daya tarik. Barisan lagu elektropop garapan Charli XCX ditempatkan di latar tahun 1800-an, menciptakan anakronisme guna mewakili penolakan tunduk pada kekakuan moralitas masa lampau. Fennell menghapus segala sopan santun khas drama period, menggantinya dengan sensualitas yang mengintip di segala sisi. Telur yang pecah, adonan kue, bahkan siput yang merayap perlahan, seluruhnya menguarkan aroma seksual. 

Singkat cerita, Heathcliff kembali dengan identitas baru. Seorang laki-laki tampan yang telah merengkuh sukses besar. Terjadilah perselingkuhan, tapi alih-alih saling mengisi sebagaimana kala mereka kecil, Cathy dan Heathcliff kini saling menghancurkan. Seiring menguatnya rasa bersalah di hati Cathy, Heathcliff justru makin menggila. 

Fennell mengemas perselingkuhan keduanya serupa opera sabun yang efektif menyulut rasa geregetan penonton. Konyol, namun daya hiburnya sukar ditampik, biarpun sangat disayangkan, naskahnya sekadar memedulikan spektakel guna memuaskan hasrat penonton menyaksikan kenakalan dua karakternya, tanpa dibarengi dampak emosi memadai, bahkan tatkala jajaran pemainnya tampil apik.

Bakal banyak yang mengeluhkan lemahnya chemistry, Margot Robbie dan Jacob Elordi, namun saya memandangnya sebagai kesengajaan, sebab filmnya memang bukan berniat menggambarkan penyatuan hati dua tokoh utama, melainkan kerenggangan mereka akibat obsesi tak sehat. Secara individual keduanya bermain kuat. 

Di antara pemeran pendukung, Hong Chau (memerankan Nelly, pelayan Cathy sejak kecil) tampil memukau lewat kemampuannya menyiratkan luka terpendam melalui pengolahan ekspresi, sedangkan Owen Cooper membuktikan bahwa performa kuatnya di serial Adolescence (2025) bukanlah kebetulan. 

Pada akhirnya, apa yang Wuthering Heights sebenarnya incar memang terasa ambigu. Sebagai hiburan pop, naskahnya tetap dipenuhi kalimat puitis khas literatur klasik. Dia ingin menampilkan atmosfer gotik, tapi musik modern serta berbagai visual kaya warnanya jelas berasal dari spektrum berlawanan. Fennell seolah dirasuki jiwa Cathy. Sama-sama ingin memiliki sesuatu tanpa mau melepaskan hal lainnya. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: