X-MEN: DAYS OF FUTURE PAST (2014)

5 komentar
Mungkin berlebihan jika mengatakan bahwa X-Men: The Last Stand dan X-Men Origins: Wolverine hampir menamatkan riwayat franchise X-Men di layar lebar. Tapi yang jelas kedua film tersebut memang layak disebut sebagai yang terburuk dalam franchise ini. Setelah Brett Ratner merusak segala hal bagus yang diciptakan Bryan Singer dalam dua film pertama X-Men, para mutan ini memang baru mendapatkan film yang layak lagi lima tahun kemudian lewat sebuah reboot/prequel X-Men: First Class garapan Matthew Vaughn yang sukses memperkenalkan masa lalu dari Charles Xavier (Professor X) dan Erik Lensherr (Magneto). Wolverine pun pada akhirnya mendapat film solo yang lebih layak lewat The Wolverine. Sampai pada akhirnya Bryan Singer kembali menyutradari film X-Men setelah 11 tahun "pergi". Tapi dia tidak hanya kembali karena film yang ia sutradarai bisa dibilang merupakan yang terbesar baik dari segi skala cerita, jumlah karakter, sampai bujet yang digelontorkan. Ya, Singer kembali dengan membawa sebuah ambisi besar tidak hanya untuk menciptakan film X-Men terbesar tapi juga mungkin film superhero terbesar yang bisa menandingi The Avengers. Filmnya sendiri mengambil cerita dari komik Days of Future Past yang terbit tahun 1981 dan dianggap sebagai salah satu storyline terbaik dalam komik X-Men.

Pada awalnya kita akan dibawa pada era masa depan yang begitu kelam dimana dunia dikuasai oleh robot-robot raksasa bernama Sentinel. Pada awalnya Sentinel diciptakan untuk membunuh mutan, dan itu berhasil dimana banyak mutan yang akhirnya tewas di tangan Sentinel. Tapi lambat laun robot ini juga mulai membunuh manusia yang dari gen mereka berpotensi mempunyai keturunan mutan. Dunia pun menjadi tempat yang begitu mengerikan khususnya bagi para mutan. Para mutan yang bertahan hidup mulai menyusun rencana dibawah pimpinan Profesor X (Patrick Stewart). Mereka pun akhirnya memutuskan untuk mengirim Wolverine (Hugh Jackman) ke masa lalu tepatnya tahun 1973 dengan bantuan Kitty Pride (Ellen Page) guna memperingatkan Xavier muda (James McAvoy) tentang masa depan yang porak poranda tersebut. Hal itu dilakukan dengan harapan mereka bisa menghentikan Bolivar Trask (Peter Dinklage) yang pada tahun 1973 sedang berencana untuk membuat Sentinel. Tapi tentu saja hal itu tidak mudah dilakukan karena pada masa itu Xavier tengah dirundung banyak duka, kehilangan kekuatannya, dan masih bersitegang luar biasa dengan Erik (Michael Fassbender) yang saat itu tengah di penjara atas tuduhan pembunuhan terhadap Presiden JFK.
Days of Future Past sudah dibuka dengan begitu luar biasa lewat gambaran masa depan yang kelam, penuh kesengsaraan dan kematian. Bahkan action sequence pembukanya pun begitu luar biasa meski sama sekali tidak menampilkan deretan mutan yang sudah punya nama besar dalam film-film sebelumnya. Saya sudah dibuat ingin bertepuk tangan dan merasakan intensitas yang tinggi saat melihat mutan-mutan seperti Blink, Sunspot, Warpath, Iceman, Colossus, Bishop hingga Kitty Pride bertarung mati-matian melawan Sentinel. Tidak hanya itu, adegan tersebut juga dibalut dengan kebrutalan yang diatas rata-rata film superhero pada umumnya. Disinilah kehebatan Bryan Singer benar-benar terlihat. Disinilah pembeda nyata antara Singer dan Ratner terpampang jelas. Disaat Brett Ratner menciptakan kekacauan saat menumpahkan banyak mutan ke dalam satu film serta banyak membunuh potensi masing-masing dari mereka, Singer justru sebaliknya. Meski banyak mutan baik lama maupun baru yang hadir, masing-masing dari mereka diberi kesempatan yang sama untuk bersinar meski kemunculannya tidak banyak seperti Storm atau Magneto-nya Ian McKellen. Singer tahu benar potensi tiap-tiap mutan dan menggunakan itu untuk mengkoreografikan adegan aksi dengan begitu spektakuler. Hal ini membuat mutan-mutan yang memang sudah dicintai seperti Wolverine sampai Magneto-nya Fassbender tetap bersinar tapi disisi lain mutan baru seperti Blink dan Quicksilver sanggup mencuri perhatian.

Dua nama yang disebut terakhir memang diluar dugaan sanggup mencuri perhatian. Blink (Fan Bingbing) yang namanya tidak pernah saya kenal sebelunya sanggup dimaksimalkan oleh Singer untuk menciptakan adegan aksi yang begitu dinamis lewat kemampuannya menciptakan portal ruang. Sedangkan Quicksilver yang sebelum perilisan filmnya terlihat kurang meyakinkan ternyata bisa menjadi mutan yang super keren lewat rambut abu-abu, walkman, serta tingkah semaunya sendiri itu. Kini menjadi tugas berat bagi Joss Whedon untuk menciptakan Quicksilver yang setidaknya tidak kalah keren dalam Avengers: Age of Ultron. Kabar baiknya, Days of Future Past bukanlah kemunculan pertama dan terakhir mereka, karena keduanya akan kembali lagi dalam sekuel-sekuel berikutnya. Film ini juga masih punya love/hate relationship dengan chemistry kuat yang dimiliki McAvoy dan Fassbender. Hugh Jackman masih memikat seperti biasa lewat mulutnya yang kadang masih susah dikontrol dan sering melontarkan lelucon demi lelucon. Jenffier Lawrence dan Peter Dinklage makin melengkapi jajaran cast yang bermain luar biasa dalam film ini. J-Law membuktikan bahwa Mystique bukan hanya sosok bersisik biru tapi juga dengan kedalaman emosi. Sedangkan Dinklage sebagai Bolivar mungkin bukan villain yang mengancam lewat kemampuan fisiknya, tapi sosoknya tetap bisa menebar ancaman dalam tiap kemunculannya. 
Singer pun berhasil memaksimalkan kapasitas akting para pemainnya yang seabrek itu dengan keberhasilannya merangkum aspek drama dalam film ini. Saya pun berhasil dibuat peduli dengan masing-masing karakternya. Singer tidak melupakan aspek penting yang sering ditinggalkan banyak sutradara film aksi, yakni memberikan karakter yang dipedulikan penonton. Dengan memberikan hal itu, ketegangan yang tersaji dalam tiap adegan aksinya pun makin bertambah karena penonton merasakan kepedulian dan simpati pada karakter yang ada. Pada akhirnya, klimaks yang menampilkan pertempuran di masa lalu dan masa depan sama-sama terasa begitu luar biasa meski jika harus memilih saya lebih menyukai pertempuran para X-Men melawan Sentinel di klimaks masa depannya. Lebih cepat, lebih intens, lebih brutal dan terasa cukup tragis. Begitulah, Singer sukses menciptakan sebuah film X-Men yang luar biasa. Tapi keberhasilan Singer bukan hanya itu. Tidak hanya sukses menciptakan sebuah film X-Men yang bagus, dia juga sanggup memperbaiki banyak hal yang kacau dalam universe film X-Men selama ini. X-Men: The Last Stand memang banyak "mengacaukan" dunia X-Men, dan Singer memanfaatkan dengan baik tema time travel yang ada untuk memperbaiki segala kekacauan tersebut. Pada akhirnya memang masih ada beberapa continuity errors dan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, tapi saya yakin film-film berikutnya akan menjawab hal-hal tersebut.

Saya sangat menyukai Days of Future Past. Adegan aksi yang keren, karakter berjumlah sangat banyak yang berhasil dimaksimalkan dan beberapa diantaranya digali cukup dalam, serta tidak lupa cerita yang bagus. Tidak lengkap memang, sebuah film X-Men tanpa selipan kisah tentang rasisme di dalamnya, karena pada dasarnya hal itulah yang menjadi salah satu fondasi paling menarik dalam cerita para mutan ini, bagaimana mereka yang berbeda selalu dianggap sebelah mata bahkan tidak jarang dianggap sebagai sebuah ancaman yang perlu dimusnahkan. X-Men: Days of Future Past bagi saya adalah yang terbaik dalam jajaran franchise X-Men. Secara cerita mungkin masih seimbang atau sedikit di bawah X2: X-Men United, namun digabungkan dengan karakternya serta pengemasan adegan aksinya film ini adalah yang terbaik tanpa perlu diragukan lagi. Saran saya lupakan sejenak continuity errors yang ada, karena mungkin saja hal-hal itu akan dijawab dalam film-fim berikutnya. Sementara anggap saja itu sebagai misteri. Jangan lupa menonton post-credit scene yang akan menampilkan calon villain bagi sekuelnya, X-Men: Apocalypse yang akan rilis tahun 2016. Kabarnya sekuel yang bakal menampilkan Apocalypse sang mutan tertua di muka bumi tersebut akan lebih besar dan lebih masif dari Days of Future Past...and I'm sold!

5 komentar :

Comment Page:
Fauzi mengatakan...

Filmnya bisa lebih bagus lagi kalau Quicksilver (atau Blink) diberi waktu show lebih lama haha.
Kalau ditanya soal pertempuran yang paling disuka, gue akan pilih battle antara para polisi vs Quicksilver pas misi pembebasan Magneto muda. Fresh banget.
(Gue malah jadi merasa quicksilver versi the Avenger jadi kelihatan cupu, soalnya pake semacam swimsuit gitu, bandingkan sama Quicksilver versi X-Men ; walkman, google)

Rasyidharry mengatakan...

Kalo Quicksilver kayaknya si Singer belum tahu caranya biar si doi nggak terlalu super deh makanya cuman segitu (sotoy)
Nah tu dia, padahal pas pertama liat promosi poster X-Men si doi keliatan cupu sekarang malah keren haha

Arief Novriandy mengatakan...

Ulasan yg apik gan. Sepakat dg semua yg Anda tulis. Film yg istimewa. Gak sabar nunggu Apocalypse nih...

Rudi Pambudi mengatakan...

Seru, tapi banyak plot logic yang ga masuk akal-nya, sama kaya BvS dan Civil War. Salah satunya adegan Magneto mau ngebunuh Raven itu konyol dan bikin gue mengerutkan dahi selama beberapa menit. Prof.X butuh diyakinkan beberapa kali supaya percaya bahwa Wolverine berasal dari masa depan, tapi Magneto percaya gitu aja bahkan saking percayanya dia sampe mau ngebunuh sahabatnya sendiri. Rada nonsense sih...

Rudi Pambudi mengatakan...

Konsep time travelling nya juga terlalu lemah...