DIAL M FOR MURDER (1954)

Tidak ada komentar
Mengatakan bahwa sebuah dekade tertentu merupakan era keemasan Alfred Hitchcock nampaknya sedikit merendahkan sang sutradara legendaris, karena bisa dibilang sepanjang lebih dari 50 tahun karirnya, ia seolah tidak pernah berhenti melahirkan masterpiece demi masterpiece. Tapi era tahun 50-an memang boleh dibilang merupakan puncak karir Hitchcock, dimana ia tidak hanya banyak melahirkan film-film terbaiknya tapi juga yang paling besar dan dikenal semua orang sebut saja Strangers on a Train, Rear Window, Vertigo, North by Northwest hingga Dial M for Murder ini. Selain itu, era ini juga cukup berdekatan dengan perilisan Psycho pada tahun 1960, yaitu film Hitchcock yang paling dikenal orang. Dial M for Murder sendiri dirilis pada tahun 1954, dengan kata lain sama dengan Rear Window. Film ini masih punya banyak elemen yang menjadi ciri khas Hitchcock, semisal tema pembunuhan yang dipenuhi misteri dan twist samapi aura pertunjukkan teater yang begitu kuat. Banyak film Hitchcock memang diadaptasi dari pertunjukkan teater, tidak terkecuali film ini yang diadaptasi dari pertunjukkan teater berjudul sama yang dibuat oleh Frederick Knott. Knott jugalah yang menjadi penulis naskah bagi film ini. 

Dial M for Murder akan memperkenalkan kita pada pasangan suami istri Tony (Ray Milland) dan Margot (Grace Kelly). Tony adalah mantan petensi profesional yang pensiun karena sang istri terus mengeluhkan kesibukan jadwalnya berkompetisi. Tapi ternyata tanpa sepengetahuan Tony, sang istri selama ini berselingkuh dengan Mark (Robert Cummings), seorang penulis novel misteri asal Amerika. Meski keduanya tidak pernah lagi bertemu akhir-akhir ini karena Mark kembali ke Amerika ternyata mereka masih saling berkirim surat. Margot dan Mark sendiri tidak tahu bahwa Tony sesungguhnya sudah mengetahui perselingkuhan mereka berdua, bahkan tidak hanya itu Tony pun sudah cukup lama mempersiapkan sebuah rencana untuk membalaskan sakit hatinya. Rencana Tony tidak lain adalah membunuh sang istri. Tapi ini bukanlah pembunuhan biasa karena yang Tony rencanakan adalah sebuah pembunuhan terencana yang mendekati pembunuhan sempurna. Untuk itulah ia mulai memanfaatkan Swann (Anthony Dawson) yang merupakan teman lamanya semasa kuliah. Tony mencoba memeras Dawson supaya ia bersedia membunuh Margot berdasarkan rencana yang telah ia buat selama ini. Tapi pada akhirnya pembunuhan sempurna ini tetaplah tidak berjalan dengan sempurna.
Film ini sedikit mengingatkan saya pada karya Hitchcock yang lain yaitu Rope. Keduanya sama-sama berasal dari pertunjukkan teater dan sama-sama bertemakan pembunuhan tapi sedari awal kita sudah tahu siapa dan apa rencana dari sang pembunuh. Yang disorot tidak hanya proses pembunuhan tapi lebih kepada bagaimana sang pelaku mencoba menghindari segala kecurigaan kepadanya, bahkan disaat rencana miliknya tidak berjalan sempurna. Pendekatan yang dilakukan Hitchcock disini memang menarik, karena disaat mayoritas film thriller-misteri bertemakan pembunuhan akan mengajak penonton menebak siapa pembunuhnya sebagai sajian utama, maka Dial M for Murder sudah membeberkan identitas, motif dan rencana si pembunuh sedari awal. Saya begitu menyukai adegan pembicaraan antara Tony dan Swann saat pembicaraan santai mereka perlahan berubah menjadi saling ancam yang akhirnya berujung pada "gladi" rencana pembunuhan yang disusun Tony. Saya yakin ini merupakan adegan perencanaan pembunuhan terbaik yang pernah saya tonton dalam film. Dialognya cerdas dan begitu mengikat, akting kedua aktor yang begitu baik dalam saling membalas kata, hingga penggunaan beberapa long shot yang menjadikan intensitas adegan selalu terjaga dengan baik. Semuanya terasa begitu menegangkan dan membuat saya penasaran akan langkah demi langkah yang telah direncanakan oleh Tony. Karena film ini berasal dari pertunjukkan teater, pergerakan kedua aktornya pun terasa begitu dinamis dalam mengeksplorasi setiap sudut ruangan.

Ketegangan itu terus terjaga sampai tiba saatnya pembunuhan dilakukan. Saya dibuat harap-harap cemas menantikan jam 11 malam, yakni waktu dimana pembunuhan akan terjadi. Semuanya terasa begitu menegangkan apalagi disaat mulai muncul beberapa gangguan yang menyebabkan rencana Tony tidak berjalan sempurna. Nilai lebih lainnya untuk rangkaian adegan ini adalah momen disaat Swann bersiap-siap mencekik Margot. Disaat layar memperlihatkan bagaimana Swann berdiri tepat di belakang Margot dengan menggenggam kain, siap untuk membunuh wanita tersebut saya lagi-lagi dibuat menahan nafas apalagi saat melihat bagaimana Swann yang nampak ragu-ragu untuk segera mengeksekusi rencana tersebut. Gambar itu juga terlihat begitu menyeramkan. Bayangkan saja anda melihat seorang pembunuh dengan tatapan mengerikan tepat berdiri di belakang korbannya, seorang wanita lemah dan bersiap-siap melancarkann aksinya dalam kegelapan. Satu lagi bukti bahwa Hitchcock memang master of suspense. Sampai akhirnya muncul twist kurang ajar yang membuat segala sumpah serapah saya keluarkan. Mudah untuk mengira bahwa rencana Tony tidak akan berjalan lancar, tapi apa yang tersaji disini benar-benar mengejutkan. Kemudian jika bicara soal twist, setelah kejutan terbesar di tengah film itu masih ada beberapa kejutan lain yang tidak kalah mengejutkan.
Salah satu keunikan dari Dial M for Murder bahkan mungkin mayoritas film Hitchcock adalah keberhasilannya untuk membuat sosok pembunuh menjadi terlihat simpatik. Disini karakter Tony memang begitu menarik dengan segala kecerdasan dan kecepatan berpikirnya. Sangat menyenangkan untuk menanti rencana macam apalagi yang akan muncul dari otaknya disaat ada sedikit gangguan dan error dalam rencana awal miliknya. Observasi terhadap sosoknya pun jadi begitu menarik dan tanpa sadar saya mulai terikat dan bersimpati dengan sosoknya. Apalagi Tony juga mempunyai motif yang cukup bisa dipahami, yaitu karena rasa sakit hati akibat perselingkuhan Margot dengan Mark. Disinilah Dial M for Murder memberikan ambiguitas moral yang luar biasa. Saya jelas sangat bersimpati bahkan mendukung Tony atas aksinya. Saya dibuat lebih mendukung sang kriminal daripada korbannya. Bahkan di akhir saya dibuat makin muak dengan Mark dan Margot. Mark yang seolah sama sekali tidak menyadari bahwa dia bersalah dan berperan besar atas rencana pembunuhan yang dilakukan Tony, dan Margot yang terus-terusan terlihat lemah dan memposisikan dirinya seolah menjadi korban padahal telah memberikan rasa sakit hati yang luar biasa pada Tony. Saya tidak membenarkan pembunuhan dan pemerasan yang dilakukan Tony, tapi saya begitu memahami perbuatannya dan sangat bersimpati akan hal itu.

Tapi saya menyayangkan bagaimana Hitchcock mengemas ending film ini. Setiap ending dari film Alfred Hitchcock selalu menampilkan kejutan dan ketegangan yang luar biasa. Sayangnya kejutan yang muncul pada akhir film ini terasa tidak terlalu mengena akibat pengemasannya yang berbasis pada dialog. Alih-alih menyajikan sebuah adegan dengan intensitas tinggi, Dial M for Murder mengungkap berbagai fakta di akhir dengan dialog demi dialog panjang yang jujur saja terkesan begitu rumit bahkan sesekali membingungkan. Kerumitan tersebut membuat intensitas filmnya menurun drastis pada paruh akhir dan membuat sebuah kejutan yang sebenarnya cukup besar jadi tidak terasa efektif karena saya terlalu sibuk untuk mencerna dialog demi dialog dan mengaitkannya dengan fakta-fakta yang ada. Tapi untungnya Dial M for Murder sudah punya 2/3 bagian yang begitu luar biasa dan menegangkan, sehingga kurang berhasilnya 1/3 akhir film jelas sangat mudah untuk diaafkan  Secara keseluruhan Dial M for Murder sanggup memberikan intensitas ketegangan yang luar biasa, twist demi twist yang mengejutkan, serta eksplorasi karakter yang mendalam dan membuat saya sebagai penonton mampu terikat pada sosok Tony dan bersimpati padanya

Tidak ada komentar :

Posting Komentar