THE LUNCHBOX (2013)

3 komentar
Apanya yang menarik dari sebuah film yang menghadirkan rantang dan surat menyurat sebagai sajian utamanya? Sutradara debutan Ritesh Batra membuktikan bahwa kedua hal yang sederhana bahkan terkesan ketinggalan jaman tersebut bisa dikemas untuk menjadi sebuah tontonan yang sangat menarik. Semua berawal dari renana Batra untuk membuat sebuah dokumenter tentang Dabbawala, yaitu para pengantar makan siang yang konon katanya tergabung dalam sebuah organisasi dengan sistem pendataan yang benar-benar efisien sehingga memungkinkan mereka mengantar makan siang tepat waktu dengan memanfaatkan berbagai macam jenis transportasi. Bahkan di hari yang sama pun mereka sudah langsung mengembalikan rantang yang dikirim ke rumah masing-masing. Begitu luar biasanya sistem yang dipakai, pihak Harvard pun sampai tertarik menelitinya. Awalnya Ritesh Batra ingin membuat dokumenter untuk merangkum kehebatan para dabbawala ini pada tahun 2007, sampai kemudian ia justru menemukan banyak cerita personal yang amat menarik berhasil ia temukan dari para pengguna jasa dabbawala. Batra pun memutuskan membuat sebuah drama romantis dengan menjadikan dabbawala sebagai salah satu unsur penggeraknya, dan pada akhirnya jadilah The Lunchbox ini.

Diawal kita akan diajak untuk melihat Ila (Nimrat Kaur), seorang ibu rumah tangga yang sedang sibuk menyiapkan makan siang untuk ia kirim menggunakan jasa dabbawala. Sekilas saja bisa ditebak bahwa Ila sedang menyiapkan makanan untuk seorang pria, entah pacar atau suaminya. Makanan yang ia buat pun diantar melintasi berbagai keramaian dan kumuhnya Mumbai sebelum pada akhirnya diterima oleh seorang pria bernama Saajan Fernandez (Irrfan Khan). Jadi siapakah Mr. Fernandez ini? Apakah ia suami Ila? Atau kekasihnya? Ternyata dia bukan siapa-siapa, karena paket makan siang tersebut tidak sampai pada tujuan. Disaat Saajan mendapatkan rantang makan siang dari Ila, suami Ila, Rajiv (Nakul Vaid) justru mendapat makanan dari restoran yang dipesan oleh Saajan, dengan kata lain makan siang keduanya tertukar. Berawal dari situlah keduanya memulai komunikasi mereka lewat surat yang dimasukkan dalam rantang makanan. Tanpa mereka sadari, kehadiran masing-masing telah menambal kesepian dalam hidup keduanya. Baik Ila yang tidak lagi mendapatkan kehangatan dari sang suami maupun Saajan yang sudah ditinggal mati sang istri. Bagi Saajan khususnya, surat-surat dari Ila perlahan mulai merubah dirinya yang tadinya dingin dan seolah tidak peduli dengan sekitarnya menjadi lebih ramah serta lebih sering mengumbar senyum.
The Lunchbox sudah terasa begitu menarik sedari adegan pembukanya yang dimulai dengan interaksi menarik antara Ila dan tetangganya yang ia panggil Auntie (sepanjang film Auntie tidak pernah menampakkan sosoknya, hanya suara), sampai saat kita diajak untuk sekilas melihat bagaimana para dabbawala menjalankan tugasnya. Semuanya sederhana tapi menarik, apalagi saat kita akhirnya tahu bahwa makanan rantang yang dikirim oleh Ila ternyata telah tertukar. Saya juga suka bagaimana pengemasan adegan yang mengungkap bahwa kedua rantangnya teertukar. Cara Ritesh Batra bertutur pada momen tersebut tidaklah terlalu gamblang tapi berhasil menjelaskan semuanya dengan jelas lewat cara yang bagi saya relatif cerdas meski sederhana. Sederhana. Kata itu memang sangat tepat untuk menggambarkan banyak aspek dalam film ini, termasuk ceritanya. Sebuah kisah cinta tanpa banyak dramatisasi ditambah alur yang berjalan jauh dari kesan rumit. Yang menarik lagi adalah fakta bahwa film ini memakai media surat sebagai penyambung kisah romansanya di zaman sekarang yang bahkan e-mail pun sudah terasa sedikit kuno untuk berinteraksi. Dengan kisah tentang surat menyurat lengkap dengan segala percikan cinta yang membuat jantung berdebar kencang, The Lunchbox punya kisah yang berpotensi menjadi cheesy dan sangat ABG. Tapi naskah yang ditulis Ritesh Batra dan Rutvik Oza membuatnya jauh dari itu.
Film ini pun tetap terasa begitu dewasa berkat selipan kisah berupa retrospeksi tentang kehidupan masing-masing karakternya yang tertuang dalam tulisan surat mereka masing-masing (diluar karakter utamanya yang memang sudah dewasa). Tapi kekuatan utama dari The Lunchbox terletak pada bagaimana kisahnya sanggup mengaduk-aduk emosi penonton. Saya berulang kali dibuat tersenyum, tertawa bahkan bisa bersorak sampai terkadang keceplosan berkata "cieeeee.." Siapa sangka film tentang dua orang yang saling surat menyurat dan menuliskan tentang hidup mereka masing-masing tanpa ada sedikitpun kata gombal bisa terasa semanis, sehangat dan seromantis ini? The Lunchbox juga berhasil memunculkan kembali memori saya tentang bagaimana mendebarkannya menunggu kata-kata dari seseorang yang saya sukai. Setiap kali Saajan mendapatkan rantang makan siang dan mulai mencari surat dari Ila, saya pun ikut dibuat berdebar-debar melihatnya, menantikan sambil harap-harap cemas apakah di dalamnya ada surat dari Ila, dan jika ada seperti apakah isinya. Berkat atmosfer film yang terasa begitu hangat inilah saya turut dibuat peduli akan kedua karakter utamanya, dan yang pasti benar-benar berharap keduanya bisa bersatu atau paling tidak akhirnya bertemu sekali saja dalam film ini.

Tidak hanya menjual kehangatan romantisme, The Lunchbox juga cukup baik dalam mengeksplorasi tiap-tiap karakternya Kita akan melihat bagaimana Saajan yang begitu dingin dan terlihat anti-sosial perlahan mulai berubah dan seolah mendapatkan harapan. Hal yang sama juga terjadi pada karakter-karakter lainnya, yang memperlihatkan bahwa sesungguhnya ini adalah film tentang mereka yang tengah berada dalam fase berat hidupnya akibat kesendirian dan kesepian. Pada akhirnya hal yang membuat mereka mampu bertahan adalah cinta. Terkesan klise memang, tapi berkat karakter-karakter yang menarik, film ini sama sekali tidak terasa klise. Saat saya mengatakan karakternya menarik, saya tidak hanya merujuk pada Saajan dan Ila yang diperankan dengan baik oleh Irrfan Khan dan Nimrat Kaur tapi juga para pemeran pendukungnya, mulai dari Shaikh yang begitu mencuri perhatian sampai sang Auntie yang selalu menarik bahkan mempunyai backstory yang cukup mendalam meski sepanjang film hanya terdengar suaranya saja. The Lunchbox bisa saja menjadi film yang sempurna jika bukan karena ending-nya. Saya sama sekali tidak anti dengan ending yang memunculkan kesan ambigu, bahkan dalam kisah romantis saya begitu menyukainya seperti Before Sunrise sebagai contoh. Saya sendiri tidak menyatakan bahwa ending film ini buruk, hanya saja sulit bagi saya menyukainya karena sedikit "mengkhianati" pengharapan saya. Tapi itu tidak merusak The Lunchbox secara keseluruhan sebagai film Bollywood paling romantis yang pernah saya lihat...dan tanpa nyanyian atau tarian. Can you fall in love with someone you haven't met?

3 komentar :

  1. Saya tuh udah kebiasaan kalo mau nonton film pasti harus tau rekomendasi dari orang lain dulu, dan salah satu sumber rekomendasi saya yah dari blog ini. Saya suka dengan penjelasan atau review filmnya yang mudah dipahami dan ga spoiler, selain itu jumlah film yang direview juga lumayan banyak dan film2nya juga anti mainstream (mulai dari film jadul sampe film kekinian juga ada!). Keep up your good work movfreak!! Ditunggu review film lainnya ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe makasih banyak ya, siap, pasti terus update kok :D

      Hapus
  2. PK direview sisan Syid

    BalasHapus