MOOD INDIGO (2013)

Tidak ada komentar
Michel Gondry adalah sutradara yang terkenal dengan gaya visualnya yang unik hingga membuat narasi filmnya menjadi terasa imajinatif, surreal dan penuh dengan fantasi dimana-mana. Karya terbaiknya dan juga salah satu film favorit saya sepanjang masa tentu saja adalah Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Film itu juga merupakan kolaborasi keduanya dengan penulis naskah Charlie Kaufman yang juga punya style sureal dalam penulisan naskahnya. Karir Gondry benar-benar melambung setelah kesuksesan tersebut sebelum akhirnya membuat The Green Hornet yang dicela kritikus dan tidak terlalu sukses di pasaran meski punya bujet besar. Saya sendiri membenci film itu karena Seth Rogen yang menyebalkan dan talenta serta style Gondry disia-siakan demi sebuah komedi superhero yang sama sekali tidak lucu. Maka dari itu Mood Indigo yang menandai kembalinya Gondry ke style aslinya juga menjadi pertaruhan untuk mengembalikan nama baiknya. Turut dibintangi oleh si lovable Audrey Tautou (Amelie), film yang naskahnya ditulis oleh Luc Bossi dan Gondy ini diangkat dari novel karya Boris Vian yang berjudul Froth on the Daydream.

Kisahnya adalah tentang Colin (Romain Duris), seorang pemuda yang kaya raya tanpa harus bekerja. Hidupnya diisi dengan kemudahan dan kebahagiaan bersama sang juru masak Nicolas (Omar Sy). Suatu hari saat tengah makan siang bersama salah seorang sahabatnya, Chick (Gad Elmaleh), Colin yang selama ini merasa hidupnya lengkap akhirnya menyadari bahwa ada yang kurang. Kekurangan itu adalah ketidak adanya cinta dalam hidupnya. Semenjak itu Colin pun bertekad untuk bisa jatuh cinta dan menemukan pendamping hidupnya. Akhirnya pada sebuah pesta Colin bertemu dengan Chloe (Audrey Tautou) dan tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk saling mencintai. Singkat cerita mereka berdua akhirnya menikah dan melakukan bulan madu. Tapi disanalah babak baru kehidupan Colin dimulai saat Chloe menderita sebuah penyakit parah akibat sebuah bunga water lily yang masuk ke dalam paru-parunya. 
Jika sebuah penyakit yang disebabkan sebuah water lily di dalam paru-paru terdengar aneh, tunggu sampai anda melihat bagaimana Gondry mengemas sinopsis yang nampak cukup normal diatas menjadi sebuah perjalanan penuh sajian visual unik dan penuh warna. Disini Gondry mengemas hampir semua aspeknya hingga yang terkecil sekalipun dengan kemasan yang absurd seperti makanan yang bergerak dengan stop motion, sepatu yang bisa bergerak sendiri, bel pintu rumah yang seperti serangga, dan masih banyak lagi. Berbagai propert yan hadir disini hampir semuanya menghadirkan kesan sureal, begitu pula dengan beberapa momen yang penuh simbolisme dan hiperbola. Pengemasannya mengingatkan saya pada video klip Knives Out-nya Radiohead yang juga dibuat oleh Gondry. Penyakit yang diderita Chloe sendiri jika di kehidupan nyata adalah tuberkulosis. Sedangkan penggunaan water lily sendiri karena bunga tersebut sering digunakan dalam literatur dan pusi Tamil sebagai perlambang dari duka yang muncul karena sebuah perpisahan (masuk akal bukan?). Visual dari Gondry memang luar biasa liar disini dengan keanehan yang mencapai tingkat maksimal, tapi jika diamati lagi tidak terlalu memusingkan. Banyak simbolisme yang absurd tapi tidaklah sulit memaknai apa yang coba dihadirkan oleh Gondry setidaknya secara keseluruhan. Beberapa tataran kecil memang tetap uniexplainable bagi saya tapi itu tidak mempengaruhi keseluruhan cerita.
Mood Indigo terasa sebagai proyek balas dendam yang egois dari Gondry. Seolah dia ingin menumpahkan kekesalannya akibat The Green Hornet dengan membuat film yang semau dia tanpa mempedulikan orang lain termasuk penonton. Memang gaya Gondry disini terasa sedikit kebablasan dan terlalu aneh bahkan jika dibandingkan Eternal Sunshine of the Spotless Mind sekalipun. Saya tidak akan heran jika ada penonton yang merasa muak karena itu, meski bagi saya sendiri keanehan berlebihan itu termaafkan berkat gaya visualnya yang amat menarik. Film ini berhasil membuat saya tidak berpaling sedikitpun karena tidak ingin melewatkan sedetik saja pameran visual gila yang dihadirkan Gondry, dan bagi saya itu sudah merupakan nilai positif. Tapi begitu filmnya mendekati akhir dimana tone ceria itu mulai berubah menjadi kelam dan visual penuh warnanya tanpa saya sadari telah beralih menjadi hitam putih, saya akhirnya paham alasan Gondry mengemas filmnya sedemikian rupa. Semua ini bukan sekedar kegilaan tak terkontrol tapi untuk memberikan kesan kontras dalam dua bagian filmnya. Keceriaan dan warna-warni diawal begitu terasa sehingga saat semuanya berubah menjadi tragedi yang dibungkus dalam monochrome efeknya jadi lebih kuat. Seperti judunya, segala hiperbola dalam visual Mood Indigo terasa aneh karena memang semua itu menggambarkan mood, menggambarkan sebuah rasa. Film ini lebih kepada penggambaran "rasa" daripada sebuah narasi biasa.

Hal tersebut memang amat berhasil membangun keterikatan saya pada perasaan filmnya, karena jika Gondry menanggalkan semua visualnya, maka karakter-karakter yang ada termasuk kedua karakter utama sebenarnya kurang tergali. Tentu saja Audrey Tautou sebagai Chloe adalah karakter yang amat sangat mudah untuk dicintai, tapi tidak begitu dengan hubungan yang ia jalin bersama Colin. Jika hanya bermodalkan Tautou saja mungkin penonton hanya akan bersimpati pada Chloe, tidak pada hubungannya dengan Colin. Tapi berkat keceriaan yang hadir dalam visualnya, simpati akan hubungan itupun hadir. Mood Indigo pada akhirnya memang amat memuaskan. Semua ini bukan hanya sajian visual belaka tapi juga berhasil menghadirkan romansa yang menyentuh. Saya berhasil terbawa oleh pengemasan Gondry sehingga tidak sadar disaat secara perlahan tone filmnya mulai berubah, dan disaat filmnya berakhir dan terdiam sesaat, barulah saya ikut merasakan kesedihan dan sesak yang cukup mengena. Ternyata dibalik semua momen absurd visualnya,  Mood Indigo merupakan sebuah tragedi yang menyedihkan dan "jahat". Andai saja durasinya yang sedikit diatas dua jam itu dipangkas, mungkin film ini bakal menjadi yang terbaik bagi saya tahun ini.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar