THE MONKEY KING (2014)

3 komentar
Kisah Journey to the West yang menampilkan sosok Sun Wukong sang raja kera sebagai sosok sentralnya memang tidak pernah kehilangan daya tarik meski sudah berulang kali diangkat ke dalam medium apapun. Untuk film sendiri, salah satu yang paling baru adalah Journey to the West: Conquering the Demons (review) milik Stephen Chow yang bagi saya merupakan salah satu film paling menghibur tahun ini. Tapi ada satu lagi proyek yang mengangkat Sun Wukong sebagai karakter sentralnya, dan proyek ini bisa dibilang adalah proyek besar yang sudah cukup lama dinantikan. Disutradarai oleh Cheang Pou-soi, The Monkey King adalah film besar dengan bujet mencapai $82 juta dan dibintangi oleh nama-nama tenar seperti Donnie Yen, Chow Yun-fat, Aaron Kwok, Joe Chen, Peter Ho hingga Gigi Leung. Film ini pun sukses besar dengan meraih pendapatan lebih dari $175 juta. Nama Donnie Yen sebagai Sun Wukong memang sudah menarik banyak perhatian penonton bahkan jauh sebelum filmnya dirilis. Jadi apakah film yang lebih besar ini juga lebih baik dari milik Stephen Chow?

Sama seperti film Stephen Chow, The Monkey King juga tidak akan mengisahkan perjalanan Sun Wukong dan bikso Tong mengambil kitab suci ke Barat, melainkan menyoroti kejadian yang terjadi jauh sebelum itu, tepatnya sejak sebelum sang raja kera lahir ke dunia. Pada saat itu, peperangan besar antara dewa yang dipimpin Jade Emperor (Chow Yun-fat) dengan para siluman yang dipimpin oleh Raja Siluman Kerbau (Aaron Kwok) sedang terjadi. Dalam peperangan besar itu, pihak siluman berhasil dikalahkan dan kerajaan langit pun disegel supaya para siluman tidak lagi bisa masuk. Namun disaat yang bersamaan, kristal dari kerajaan langit jatuh ke Bumi, dan di dalamnya terdapat seekor kera yang tak lain adalah Sun Wukong. Terlahir dari kristal surga, Wukong pun memiliki kekuatan yang jauh diatas rata-rata siluman kera lainnya. Meski punya kepribadian yang nakal dan seenaknya sendiri, sesungguhnya Wukong adalah sosok yang terlahir baik dan penuh kepedulian. Hal itulah yang disadari oleh para dewa yang akhirnya memutuskan melatih Wukong. Tapi disisi lain Raja Siluman Kerbau yang mengetahui keberadaan Wukong mulai menyusun rencana untuk memanfaatkan kekuatannya guna mengambil alih kerajaan langit.
Tentu saja melihat bujet sebesar itu dan kehadiran Donnie Yen yang saya harapkan adalah sebuah tontonan penuh adegan aksi yang menghibur serta dibumbui banyak efek CGI yang baik. Usaha untuk melakukan itu sudah terlihat semenjak opening yang dibuka dengan pertempuran besar antara dewa dan siluman. Tapi justru pada adegan pembuka itu jugalah saya langsung dibuat kecewa oleh film ini. Adegan peperangan di awal itu sudha dipenuhi oleh polesan CGI dimana-mana yang ternyata luar biasa buruk. Untuk ukuran film dengan bujet mendekati $100 juta, efek CGI dalam film ini hanyalah sekelas serial televisi kolosal. Jika anda sering menonton serial-serial kolosal di televisi entah itu produksi India ataupun Cina, maka The Monkey King punya kualitas CGI yang tidak jauh beda. Tentunya lebih baik tapi tidak terasa jauh, apalagi melihat bujet besar film ini. Semuanya terjadi karena penggunaannya yang terlalu banyak. Seolah kalap melihat tumpukan uang, para pembuat efek visual film ini memoles hampir semua setting dan efeknya dengan komputer. Bandingkan dengan film Stephen Chow yang meski tidak punya bujet besar tapi menyadari keterbatasn itu sehingga penggunaan CGI dilakukan seperlunya dan efektif. Tidak hanya adegan pembuka, karena sampai akhir efek komputernya selalu berlebihan dan buruk. 
Efek CGI yang buruk itu makin diperparah dengan pengemasan Cheang Pou-soi terhadap adegan aksi yang begitu berantakan. Adegan aksinya seolah asal tabrak, asal hantam dan asal hancur-hancuran. Bukannya menghibur dan terasa seru, rentetan adegan aksinya justru melelahkan dan membuat sakit mata. Kehadiran Donnie Yen pun terasa sia-sia disaat sang aktor tidak banyak mendapat porsi untuk memamerkan keahliannya berkelahi. Memang Donnie Yen berakting bagus sebagai Sun Wukong lewat gesturnya yang meyakinkan sebagai seekor kera, tapi yang saya harapkan dari menonton film yang mempunyai Donnie Yen didalamnya adalah rentetan adegan aksi yang terkoreografi dengan rapih. Dengan hancurnya efek CGI serta kemasan adegan aksi, praktis The Monkey King tidak punya banyak hal untuk dibanggakan. Pada dasarnya film seperti ini akan teraa style over substance dimana adegan aksi dan CGI-nya mengesankan disaat naskah dan ceritanya kurang bagus.Tapi yang terjadi justru kedua aspek tersebut sama-sama buruk. Disaat naskahnya dipinggirkan, aspek style-nya justru hancur-hancuran. 

Alur ceritanya sendiri berjalan seperti sebuah video game yang bergerak dari satu check point ke check point berikutnya tanpa ada eksplorasi berarti dalam setiap tahap. Masing-masing karakternya pun kurang digali, bahkan akting bagus Donnie Yen tidak bisa membuat Sun Wukong menjadi karakter yang simpatik. Banyak karakter yang hadir jadi terasa tidak bermakna dan sekedar numpang lewat meski pada dasarnya punya potensi besar. Hal tersebut juga makin diperparah dengan subplot yang tidak berhasil meningkatkan tensi film. Padahal subplot yang ada cukup berpoteni juga membuat film ini punya cerita yang lebih kuat. Kisah percintaan Sun Wukong apabila digarap dengan baik bia menciptakan klimaks yang emosional dan sedikit sentuhan tragedi. Tapi pada akhirnya setiap kisah hanya dituturkan sesaat, untuk kemudian dilupakan setelah mencapai konklusi. Saya menunggu The Monkey King berharap film ini akan menjadi salah satu hiburan paling menyenangkan tahun ini. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, film ini merupakan tontonan paling mengecewakan tahun ini. Hampir tidak ada aspek positif yang bisa dinikmati kecuali akting Donnie Yen. Desain para karakternya cukup bagus tapi juga tidak terasa spesial. The Monkey King membuktikan bahwa ambisi besar itu boleh saja asal kita tahu seberapa batasan kita dan tidak asal melakukan sesuatu diluar batasan yang ada. 

3 komentar :

  1. yg part 2 nya kagak di review juga apa mas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah nggak tertarik, yang pertama aja busuk begini :)

      Hapus
    2. saya sdh menonton yg ke dua walau lewat donlotan....di seri kedua nya ini juga efek cgi nya juga agak berantakan...tapi ceritanya lumayan teratur akting pemain nya juga tdk terlalu buruk meski tdk bisa di katakan bagus juga

      Hapus