BIRDMAN (2014)

13 komentar
Karir Michael Keaton mencapai puncak setelah menjadi Batman dalam dua film garapan Tim Burton (Batman & Batman Returns). Tapi begitu sang sutradara menolak menggarap film ketiga, Keaton pun tidak melanjutkan perannya sebagai Bruce Wayne. Pasca-Batman, karir Keaton tidak bisa dibilang terpuruk, tapi jelas tidak pernah meyaingi masa jayanya tersebut. Bagi kebanyakan orang pun, Keaton akan selalu lekat sebagai Batman meski peran tersebut sudah ia tinggalkan selama lebih dari 20 tahun. Sedangkan dalam kehidupan pribadinya, Keaton pernah menikah dengan aktris Carlone McWilliams selama delapan tahun sebelum akhirnya bercerai. Pernikahan itu memberikan Keaton seorang anak. Dalam Birdman yang disutradarai oleh Alejandro Gonzales Inarritu, Keaton berperan sebagai Riggan Thomson, seorang aktor yang meraih masa jaya saat memerankan karakter superhero Birdman. Tapi 20 tahun setelah berhenti dari peran tersebut, karirnya meredup. Kehidupan pribadinya pun tidak terlalu mulus. Riggan bercerai dengan sang istri, dan kesulitan membangun hubungan baik dengan puteri tunggalnya, Sam (Emma Stone) yang baru keluar dari panti rehab.

Kemiripan yang ada diantara Keaton dan Riggan bukan sekedar kebetulan. Hal inilah yang menyebabkan Keaton adalah sosok sempurna untuk memerankan Riggan Thomson. Tapi kemirian keduanya tidak hanya sampai disitu. Birdman menceritakan usaha Riggan dalam menulis, menyutradarai, sekaligus menjadi aktor dalam sebuah pementasan teater yang ceritanya bagaikan cerminan hidup serta perasaan Riggan. Lewat pementasan itu juga ia berharap serta punya kesempatan untuk menghidupkan kembali karirnya. Hal yang sama juga terjadi pada Keaton. Birdman adalah cerminan hidupnya, dan lewat film ini sang aktor punya kesempatan kembali berada di puncak. Nominasi Oscar untuk Best Actor (besar kemungkinan bakal ia menangkan) jadi salah satu bukti ia ada di "jalan yang benar". Tapi ceritanya bukan sekedar sebuah meta tanpa makna. Birdman adalah kisah mendalam tentang sosok individu yang terjebak dalam ketakutan terbesarnya. Ketakutan bahwa ia bukan lagi sosok yang dicintai dan tidak lagi dianggap penting eksistensinya. 


Inarritu sungguh memahami pergolakan hati mereka yang terjebak dalam ketakutan tersebut. Hal itu ditunjukkan lewat bagaimana Riggan terus meyakini bahwa ia adalah seorang aktor hebat, seniman sejati. Cara "termudah" bagi seseorang untuk menutupi ketakutan akan "ketidak eksisan" dirinya adalah lewat penolakan. Penolakan yang diwujudkan dengan mati-matian meyakini bahwa dia adalah "something". Ada rasa drama psikoogis kental disini yang erat kaitannya dengan "delusi". Diluar Riggan tampak begitu yakin akan kemampuannya, tapi di hati kecil dia dipenuhi ketakutan dna keraguan akan hal itu. Jadi apakah Riggan adalah seorang aktor hebat seperti yang ia yakini? Ataukah ia hanya selebritis yang popularitasnya telah meredup tapi terus terjebak di masa lalu? Ya, Riggan terjebak di masa lalu. Dia memang berusaha menyingkirkan semua itu dengan cara berhenti sebagai Birdman. Tapi keyakinan kuat bahwa ia masihlah sosok besar membuktikan bahwa dia belum lepas dari masa lalu, sesuatu yang pada akhirnya menjadi perwujudan sosok Birdman. Sosok Birdman yang selalu berbisik pada Riggan memang halusinasi perwujudan ketakutannya, tapi bagaimana dengan segala kekuatan super tersebut?
Bagi saya semua kekuatan super itu adalah metafora cantik dari Inarritu. Pada awalnya Riggan percaya ia bisa menggerakkan barang, bahkan terbang. Sama seperti bagaimana ia percaya bahwa dirinya masihlah aktor yang dianggap. Tapi semua yang terjadi sebelum ending adalah tidak nyata, sama seperti fakta bahwa Riggan bukan lagi sosok yang penting bagi masyarakat luas. Tapi setelah ending semuanya berubah. Riggan kembali jadi bahan pembicaraan entah itu karena sensasi diluar keaktoran atau performa aktingnya diatas panggung pertunjukkan. Satu yang pasti, semua "waham" Riggan tentang popularitasnya itu akhirnya menjadi kenyataan. Disaat itulah kekuatan supernya pun benar-benar menjadi kenyataan. Itu menjelaskan senyuman Emma Stone yang menatap ke langit di akhir film. Siapa sangka setelah berbagai kerumitan teknis tingkat tingginya Birdman justru diakhiri lewat sebuah momen sederhana tapi bermakna. Hanya berbekal senyuman penuh kebahagiaan dari Emma Stone saya dibuat tersentuh. 
Dramanya kuat, begitu pula dengan sentuhan komedinya yang tidak jarang masuk ke ranah dark comedy. Walau berfokus pada karakter yang tengah begitu tertekan, Inarritu mengemasnya dengan komedi penuh lelucon cerdas yang uniknya banyak hadir lewat situasi-situasi tidak nyaman seperti ereksi di tengah panggung, atau Keaton yang berlari nyaris telanjang di tengah kerumunan asli kota New York (yap, orang-orang termasuk drum band itu bukan figuran melainkan pengguna jalan asli). Keputusan sempurna saat memilih komedi dalam situasi tidak nyaman untuk dimasukkan dalam cerita tentang karakter yang jauh dari perasaan nyaman. Tapi pencapaian terbesar Birdman sesungguhnya hadir lewat aspek teknisnya. Dipimpin oleh sinematografer Emmanuel Lubezki, film ini secara luar biasa menyuguhkan apa yang disebut Lubezki sebagai magic trick untuk mengemas filmnya seolah diambil tanpa cut selama hampir dua jam penuh. Ini adalah penyempurnaan dari teknik yang dipakai Alfred Hitchcock dalam Rope. Jika Rope menggunakan cara "simpel" yang bisa dideteksi oleh mata telanjang, Birdman tidak begitu.
Kenapa disebut magic trick, karena apa yang dilakukan Lubezki dan timnya disini memang penuh manipulasi yang tidak bisa dideteksi bagaimana caranya dengan hanya menonton filmnya. Hebatnya lagi Birdman dipenuhi move rumit dari banyak karakter, pergantian setting yang tidak sedikit, setting waktu yang tidak hanya satu hari, sampai penggunaan efek CGI. Saya pun meraa apa yang dilakukan Lubezki lewat Gravity (khususnya adegan pembuka sampai kecelakaan) adalah persiapan untuk pertunjukkan besarnya disini. Tapi ini bukan hanya hasil sinematografi Lubezki, karena editing cermat dari Douglas Crise dan Stephen Mirrione turut ambil bagian. Sungguh disayangkan editing hebat ini tidak diapresiasi lewat nominasi untuk Best Editing Oscar. Kesan bahwa film ini diambil lewat one-take bukan "gaya-gayaan" semata, karena lewat pengemasan ini pendalaman serta eksplorasi emosi tiap karakternya mampu tersaji dengan sempurna dan begitu nyata. 

Untuk akting, ada dua jenis akting dalam film ini. Pertama adalah akting hebat dari pemain yang memerankan karakter cerminan diri mereka, dan kedua adalah akting hebat dari pemain yang memerankan karakter bertolak belakang dari ciri khas mereka selama ini. Michael Keaton dan Edward Norton ada di golongan pertama. Keduanya sempurna karena memahami betul sosok yang diperankan, sehingga tiap momen akting benar-benar nampak dari dalam bukan sekedar menjalankan naskah. Keaton seolah melampiaskan segala kegetiran dan ketakutan yang ia alami akan karirnya dan kemarahan yang selama ini ia pendam. Penonton mengasihaninya tapi juga diajak mentertawakannya. Norton seperti yang selama ini kita tahu sama seperti Mike dalam film ini. Sering mengacau di set dan tidak segan mengambil alih kontrol kendali. Tapi bagaimanapun menyebalkannya Norton/Mike penonton mau tidak mau harus mengaku kehebatan akting mereka. Sedangkan golongan kedua diisi Emma Stone dan Zach Galifianakis. Emma bukanlah gadis manis disini, melainkan gadis bermasalah yang tidak segan berteriak pada sang ayah. Begitu pula dengan Galifianakis yang bukan karakter komedik menyebalkan yang ada diantara jenius dan idiot. Menyenangkan melihatnya meluapkan amarah karena frustrasi di beberapa adegan.

Film ini juga menyelipkan sebuah pergesekan antara "seniman" dan selebiritis money maker. Dalam kehidupan sehari-hari pun saya sudah sering menjumpai kedua pihak ini saling sindir, termasuk mereka para (pengaku) seniman yang seringkali merendahkan karya berorientasi uang tidak peduli apakah karya tersebut memang buruk atau tidak. Birdman dengan teknis dan cerita penuh imajinasinya menghadirkan kesan yang tidak jauh berbeda dengan Boyhood-nya Richard Linklater. Keduanya sama-sama menyihir penonton lewat pengemasan dan proses yang menghadirkan kesan magis. Pada akhirnya mana diantara kedua film ini yang akan memenangkan penghargaan tertinggi Oscar tidak jadi masalah.

Verdict: Pencapaian teknis memukau yang tidak pernah melupakan cerita sebagai pondasi utama. Magical mystery tour from Inarritu. 

13 komentar :

Comment Page:
Alvi Fadhollah mengatakan...

Melihat Keaton dan Pike yg mnjdi unggulan di masing-masing kategori, jujur ane rada kasian aja ama Leo Di Caprio. Akting yg stabil namun gak pernah menang, bhkan jadi unggulan aja kykny gak pernah. Dan ini si Keaton dan Pike yg notabene nya akting nya gak stabil, sekali masuk oscar langsung jadi unggulan.. Maaf bang curhat hahah

Rasyidharry mengatakan...

Hehe itu nasib jeleknya DiCaprio. Kalau aja tahun 2007 yang dinominasi akting dia di The Departed, bukan Blood Diamond mungkin dia menang

Don Grigory Leviathan mengatakan...

Capek ah jadi Silent Reader hehe salam kenal bang. Semalem baru nonton nih bang Birdman. Tapi, agak kurang durasi filmnya, jadi banyak yg gak kegali karakternya. Contoh Naomi Watts, berasa pemanis doang (Btw, agak deja vu sama karakter dia di King Kong hehe). Overall two thumbs up sama filmnya apalagi ada mantan2 superhero macem Bruce Wayne sama Bruce Banner hehehe (Gwen Stacy gak keitung yah bang)

Alvi Fadhollah mengatakan...

Dengar2 sih karena di Blood Diamond dia pake logat African-English, gatau juga.. Moga aja Leo lebih beruntung di next projectnya. Kabarnya dia bermain di film yg disutradarai oleh sutradara Birdman ini deh..
Btw bang, kenapa gak sesekali ngebahas Oscar? Misalnya ngereview hasil Oscar gitu..

Rasyidharry mengatakan...

Permainan produser juga sih Oscar tuh
Besok deh, kalau mendekati pengumuman :)

Rasyidharry mengatakan...

Dengan segitu banyak karakter bejubel emang susah sih kalau mau kegali semuanya.
Ditambah Val Kilmer nih makin lengkap

Don Grigory Leviathan mengatakan...

Iya juga sih kebanyakan. Boleh juga Val Kilmer, jangan lupa Tobey Maguire. Terus kasih tag line di filmnya "Dulu Mereka Superhero Hebat Pada Masanya. Tapi kini ...?" Dan 20 tahun mendatang Robert Downey, Jr dan teman2 Avenger-nya bakal percaya kalo film kyk gini tuh pernah dibikin, dan roda berputar. Ahahaha cuma ocehan gak jelas gue bang, abaikan. Keep posting bang.

THE JACKAL mengatakan...

Lumayan kocak gan, gw barusan liat movienya di sini

Birdman

Putra Taufan Surya mengatakan...

haloo salam kenal. coba share dong perspektif kalian soal ending filnya, pas emma ngeliat si keaton "terbang"

Rasyidharry mengatakan...

Udah saya tulis kok tentang ending-nya itu :)

Leonardo Lintang mengatakan...

Bang bisa jelasin gk maksud dari judul lainnya yg "The Unexpected Virtue of Ignorance". ane udh cari kemana-mana maksudnya dan coba ngertiin sendiri tpi gk nangkep maksudnya...... tolong jelasin ya bang penasaran bangt

Rasyidharry mengatakan...

Kalo di film, kalimat itu jadi judul review si kritikus. Kalo maknanya kurang lebih "keberhasilan yang tidak terduga dari sosok yang nggak bertalenta/kurang pemahaman"

Ryna Safitri mengatakan...

The song of "Don't Let Me Be Misunderstood" becomes a perfect expression of the sort of self-justifying stories. https://www.youtube.com/watch?v=aY7SgCx4mKI