FILOSOFI KOPI (2015)

5 komentar
Hadir juga film adaptasi novel Dewi Lestari yang sanggup dengan sempurna mentranslasikan keindahan bertutur sang penulis. Sutradara Angga Dwimas Sasongko beserta penulis naskah Jenny Jusuf tidak mencoba tampil terlalu indah maupun berat meski judul filmnya menyandang kata "Filosofi". Kisahnya murni drama sederhana tentang beberapa hal: persahabatan, hubungan ayah-anak, pertentangan idealisme sampai pencarian makna hidup. Tidak rumit, tidak juga mengandung kalimat-kalimat puitis. Tapi penyajiannya yang mendalam meski sederhana justru menjadikan Filosofi Kopi jauh lebih indah, lebih filosofis dari film adaptasi novel Dee lainnya. Dari 18 cerita pendek dalam Filosofi Kopi, diambil cerita pertama yang berjudul sama dengan bukunya sebagai alur film. Berkisah tentang dua sahabat, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) yang membuka sebuah kedai kopi bernama "Filosofi Kopi". 

Dengan Ben sebagai barista, kedai itu terkenal karena keunikannya memberi filosofi pada tiap kopi yang disajikan. Meski banyak mendatangkan pengunjung, "Filosofi Kopi" nyatanya berada dalam kesulitan finansial akibat hutang 800 juta rupiah yang ditinggalkan mendiang ayah Jody. Masalah ini semakin sulit dicara jalan keluarnya karena pertentangan idealisme antara Ben dan Jody. Sebagai penanam modal yang menanggung segala kebutuhan finansial tentu saja Jody ingin memanfaatkan segala peluang untuk meraup untung termasuk penggunaan WiFi di kedai mereka. Sebaliknya bagi Ben yang penuh rasa cinta serta obsesi pada kopi, kegiatan menikmati/membuat kopi merupakan hal sakral dan harus memperhatikan cita rasa meski hal itu artinya pengeluaran lebih besar demi mendapatkan biji kopi terbaik. Konflik dua sahabat macam ini seringkali hambar dalam banyak drama kita. Tapi Filosofi Kopi menjadikan bromance antara Ben dan Jody sebagai salah motor penggerak utama yang begitu kuat.
Hubungan keduanya tampil dinamis di layar. Setiap pertengkaran bukan hanya pemberi jalan bagi konflik, namun pertentangan nyata dan alamiah antara "hati" dengan "kepala". Baik Jody maupun Ben membawa alasan kuat dalam tiap argumen yang dikemukakan, membuat penonton tidak akan memihak salah satu melainkan terserap dalam ikatan persahabatan penuh perputaran roda kehidupan keduanya. Dialognya hidup tanpa ada kesan cheesy demi memunculkan ikatan persahabatan kuat yang justru berasa dipaksakan. Tentu saja baik Chicco Jerikho maupun Rio Dewanto berperan besar akan terciptanya kesan tersebut. Secara individu, karakter mereka kuat. Chiccho Jerikho dengan gaya eksentrik yang cool tapi penuh perasaan, juga Rio Dewanto yang lebih tertata, mengedepankan logika tapi juga punya hati. Secara interaksi, saya dibuat percaya bahwa keduanya merupakan sahabat sedari lama yang tahu baik dan buruk masing-masing sehingga tidak ada rasa segan untuk beradu argumen meski terasa jelas mereka saling menyayangi. It's a bromance, and one of the best (if not the best) Indonesian bromance movie of all time. Belum pernah saya menjumpai dynamic duo semenarik Chicco-Rio dalam film Indonesia sebelumnya.

Tidak hanya mengandalkan kisah bromance dan konflik mengenai kedai kopi yang susah payah bertahan hidup, Filosofi Kopi juga menuturkan drama yang lebih dalam mengeksplorasi kehidupan manusia. Hal itu terjadi khususnya setelah kehadiran karakter El (Julie Estelle) yang merasa bahwa Perfecto racikan Ben bukanlah kopi terbaik yang pernah ia rasakan. Momen itu menggiring alur film kearah yang lebih "serius". Tetap menjunjung kesederhanaan bertutur, tapi lebih dalam mengeksplorasi dilema batin karakternya. Introspeksi kehidupan tokoh-tokohnya makin diperdalam, rasa haru pun berhasil dimunculkan dari emosi penontonnya. Pada akhirnya penonton bisa ikut merasakan bagaimana benda bernama kopi berpengaruh besar pada pemaknaan serta jalan hidup karakter.
Secara keseluruhan cerita, film ini memang tidak sefilosofis cara bertutur Dee dalam cerita pendeknya. Kartu-kartu bertuliskan filosofi tiap kopi juga kurang mendapat sorotan lebih. Tapi pilihan untuk mengemas filmnya jadi lebih ringan bukan semata-mata tujuan komersil. Angga Dwimas Sasongko berhasil membuktikan itu, karena kesederhanaan bertuturnya seperti yang telah saya singgung di atas jauh lebih bermakna, bahkan lebih filosofis dibandingkan film adaptasi karya Dee lainnya. Beginilah contoh sempurna dari adaptasi karya tulis. Tidak semata-mata menerjamahkan apa adanya isi dari buku, karena Angga Dwimas Sasongko tahu benar bahwa cara bertutur dari literatur dan media film amat berbeda. Penggunaan bahasa-bahasa indah akan tidak begitu bermakna dalam film, sehingga pendalaman makna cerita lebih banyak digali lewat "aksi" daripada ungkapan verbal. 

Film ini hadir layaknya kopi itu sendiri, ada manis sekaligus pahit yang hadir di saat bersamaan. Dua rasa yang sekilas begitu berlawanan tapi tak bisa dipisahkan satu sama lain. Kopi yang hanya manis ataupun hanya pahit tidaklah nikmat. Ceritanya menggunakan perpaduan rasa kopi tersebut sebagai metafora kehidupan yang juga dipenuhi kedua rasa tersebut. Karakternya akrab dengan cinta. Entah cinta dengan orang lain ataupun cinta dengan karya yang mereka hasilkan (baca: kopi). Diracik sempurna dengan chemistry kuat duet pemeran utama serta kisah yang hadir sederhana tapi begitu kaya, Filosofi Kopi menjadi sajian yang begitu nikmat sekaligus film Indonesia terbaik di tahun 2015 sejauh ini. Film yang dibuat dengan cinta tentang kopi yang juga dibuat dengan cinta. Jangan heran begitu selesai menonton anda langsung ingin menikmati secangkir kopi. 

5 komentar :

Comment Page:
Fauzy Husni Mubarok mengatakan...

Pengin liat... tapi saingan kuat sama Fast Furious 7 di bioskop.

the phantomhive mengatakan...

siplah masuk list wajib nonton bulan ini hooo

Rasyidharry mengatakan...

Nggak apa, cuman ngantri bentar demi film Indonesia hehe

Rasyidharry mengatakan...

WAJIB!

Oonk Dudutz mengatakan...

setelah film ini kluar..omset cafe gw naik 2x lipat..
Alhamdulillah..