REVIEW - SIAPA DIA

Tidak ada komentar

Keroncong, dangdut, campursari di musik, kecak, jaipong, cakalele di tari. Daftar itu akan begitu panjang bila disebutkan seluruhnya, tapi pada intinya, Indonesia amat kaya akan kesenian, sehingga klaim "Negeri ini adalah negeri nyanyian dan tarian" yang karakter film ini sebut tidaklah berlebihan. Melalui Siapa Dia, Garin Nugroho coba menciptakan kapsul waktu berisi kekayaan tersebut, yang beriringan dengan perjalanan sejarah bangsa. Hasilnya mengingatkan saya pada judul Bahasa Inggris dari salah satu karya sang sineas: Chaotic love poems. 

Begitulah Siapa Dia, yang dipaparkan dalam tiga babak (plus prolog dan epilog) penuh lompatan narasi liar bak puisi cinta yang kacau. Layar (Nicholas Saputra) mengisi sentral penceritaan. Seorang bintang film yang ingin membuat film musikal karena lelah dengan popularitasnya, namun bingung mesti membicarakan apa. Dibantu dua asistennya, Denok (Widi Mulia) dan Rintik (Amanda Rawles), Layar pun menelusuri kisah-kisah leluhurnya yang tersimpan rapat dalam sebuah koper sebagai inspirasi. 

Dari situlah keliarannya bermula, seiring penonton diajak bolak-balik menaiki mesin waktu, mengunjungi ayah, kakek, hingga buyut Layar (semua diperankan Nicholas Saputra), yang riwayatnya berkelindan dengan sejarah bangsa, termasuk perkembangan seninya. 

Buyut Layar menggemari komedi stambul semasa penjajahan, kakek Layar menghadapi perkembangan kesenian di tengah pergolakan tahun 1965, sedangkan si ayah mengakrabi budaya perlawanan yang tumbuh di tengah era sensor orde baru. Alurnya maju-mundur begitu liar, sampai tak sempat menciptakan koneksi rasa antara penonton dengan barisan karakter di atas. Jangan mengharapkan dampak emosional biarpun mereka punya kesamaan: disambangi tragedi percintaan. 

Garin menarik benang merah antara sejarah bangsa, seni termasuk sinema, juga romansa, di mana semua melibatkan proses menemukan serta kehilangan. Kakek buyut Layar misal, yang sebelum mengucap janji setia bersama Juwita (Happy Salma), pernah jatuh hati pada diva komedi stambul bernama Nurlela (Monita Tahalea), yang direnggut nyawanya oleh tuduhan mengkhianati negara. 

Puitis, tragis, namun gaya bertutur Siapa Dia menyulitkan terciptanya simpati, biarpun penampilan mayoritas pemainnya cenderung memuaskan, dari Nicholas Saputra yang senantiasa solid, maupun nama-nama seperti Morgan Oey dengan kelihaian menarinya, serta Dira Sugandi lewat suara powerful miliknya, yang mencuri perhatian meski dalam porsi kemunculan terbatas. 

Petualangan menembus waktu yang dinahkodai Garin bakal memuaskan bagi mereka yang menaruh antusiasme terhadap sejarah, maupun pecinta seni. Sayangnya, besar kemungkinan kalangan awam yang mengharapkan edukasi justru bakal teralienasi. Tanpa pemahaman memadai, sukar menemukan pesona dari kapsul waktu yang Garin tawarkan. 

Lain cerita bila membicarakan para penyuka sinema yang dahaganya akan dipuaskan oleh rangkaian easter eggs seputar perkembangan industri. Berawal dari Loetoeng Kasaroeng (1926) selaku film pertama yang diproduksi di Indonesia, beralih ke judul-judul klasik macam Badai Pasti berlalu (1977) dan Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), hingga judul-judul kekinian, semua dimunculkan. 

Menarik pula menilik keputusan film ini menyandingkan poster KKN di Desa Penari (2022) dengan Yuni (2021), mahakarya ciptaan putrinya sendiri, Kamila Andini. Garin memposisikan diri bukan sebagai penakar nilai, melainkan perekam jejak yang berlaku objektif.

Gelaran musikalnya, yang diiringi deretan lagu legendaris (Nurlela, Payung Fantasi, Badai Pasti Berlalu, Anak Jalanan, dll.) yang efektif memancing dorongan ikut berdendang, digarap dengan apik. Biarpun ketimbang musikal layar perak era kini, pendekatan Garin lebih dekat ke arah musikal panggung. 

Segala sisi Siapa Dia memang dipenuhi mannerism ala teater. Entah gaya berlakon jajaran pemainnya (cara melafalkan dialog, bergestur, atau menari), mise-en-scène tiap adegan yang mengingatkan ke tata panggung, kecenderungan karakternya berbicara ke layar bak aktor teater yang bertutur ke arah penonton, semua terkesan "stagey". Tentunya dalam konotasi positif, sebab inilah cara Garin mengingatkan bahwa pertunjukan panggung berperan besar dalam tumbuh kembang sinema tanah air. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: