REVIEW - PANJI TENGKORAK

Tidak ada komentar

Selepas Jumbo membuktikan kalau animasi punya tempat di hati masyarakat Indonesia dengan memecahkan rekor jumlah penonton, juga terkait kualitas para pelaku industrinya yang pantang dianggap remeh, maka Panji Tengkorak terasa seperti langkah lanjutan yang logis. Daryl Wilson dan tim mengajarkan bahwa animasi bukanlah medium yang hanya diperuntukkan bagi konsumen anak. 

Tengok saja penokohan si Panji Tengkorak (Denny Sumargo). Dia adalah antihero yang bersedia mengorbankan keselamatan warga sipil asalkan misinya tercapai. Tentu seiring durasi ia bakal berproses ke arah lebih baik, namun di awal perkenalannya, nurani merupakan omong kosong di mata Panji. 

Si protagonis bertransformasi menjadi pendekar ilmu hitam yang tak bisa mati pasca istrinya, Murni (Aisha Nurra Datau), tewas di tangan perompak. Dikuasai api dendam, Panji pun menggali makam Murni, lalu memakai tengkorak mendiang sang istri sebagai topeng. Panji ingin Murni bisa melihat apa yang ia lihat, seolah berharap dapat memberinya kehidupan kedua. Panji memang gila, tapi ia juga memiliki sisi puitis. 

Fokus alurnya terletak pada perjalanan Panji bersama Bramantya (Donny Damara), Gantari (Aghniny Haque), dan Kuwuk (Candra Mukti), yang bertujuan merebut kembali sebuah pusaka keramat dari tangan penjahat keji bernama Kalawereng (Tanta Ginting). Ceritanya cenderung tipis. Sebatas mengajak kita melihat si jagoan berkeliaran di hutan, sambil sesekali menumpas para penjahat yang menghalangi jalan. 

Setidaknya alur tipis tersebut menyimpan subteks penting seputar ambiguitas moral, bahwasanya, dunia tidak bisa dilihat sebagai perwujudan warna hitam dan putih. Di pertarungan puncak, Panji mengeluarkan aura hitam dari tubuhnya, sedangkan si antagonis memancarkan warna putih. 

Tentu perspektif serta simbolisme kompleks di atas belum sepenuhnya bisa dimengerti oleh penonton anak. Belum lagi bila membicarakan gelaran aksinya, yang bukan sekadar mencipratkan darah, pula tak segan menyajikan anggota tubuh yang terpotong. Kebrutalan filmnya turut dibarengi kreativitas. Salah satunya nampak dari kekuatan unik Panji, yang ludahnya mengandung racun hingga sanggup melelehkan tubuh lawan layaknya Xenomorph dari film Alien. 

Animasinya memang belum sempurna, terutama soal gerakan karakter yang cenderung patah-patah dan jauh dari kata "mulus". Tapi tengok bagaimana keterbatasan ini berhasil ditutupi oleh daya kreasi tinggi jajaran animator yang melahirkan banyak desain unik nan keren bagi tokoh-tokohnya. 

Satu aspek yang juga patut mendapat apresiasi adalah lagu Bunga Terakhir yang dibawakan oleh Isyana Sarasvati dan Iwan Fals. Biarpun pemakaiannya agak berlebihan karena diputar sampai enam kali (termasuk saat menutupi obrolan penting beberapa karakternya), ia tetaplah nomor soulful yang sempurna mewakili gejolak perasaan si pendekar. 

Panji Tengkorak memang pencapaian audiovisual. Klimaksnya yang dihiasi gelaran visual mencolok, pengarahan aksi apik dari Daryl Wilson, juga alunan musik yang meminjam nuansa gamelan, jadi puncak performa seluruh departemen, yang bagi saya tidak berlebihan bila disebut "membanggakan".

Tidak ada komentar :

Comment Page: