ANOTHER TRIP TO THE MOON (2015)

3 komentar
Pernah saya berdebat dengan seorang seniman mengenai aplikasi pengemasan realis dan surealis. Menurutnya, realis adalah mutlak sebuah suguhan yang mencerminkan kehidupan sehari-hari sampai pada detail paling kecil. Sedangkan dalam surealisme, aspek-aspek yang ada haruslah berbentuk simbol/metafora dari kenyataan. Dia berkesimpulan jika ada sajian realis namun kental unsur surealis hal itu artinya inkonsistensi atau ketidak jelasan bertutur. Saya tidak setuju. Sebuah karya hybrid yang memburamkan batasan realita dan absurditas surealisme justru sebuah bentuk imajinasi tinggi. David Lynch sering memakai itu. Apichatpong Weerasethakul memakai itu. Kali ini Ismail Basbeth juga memakai itu untuk menciptakan sebuah dunia yang jelas berada pada dinemsi nyata namun memiliki banyak keajaiban dunia fantasi. Another Trip to the Moon atau yang memiliki judul Indonesia Menuju Rembulan bagaikan cerita rakyat dari negeri dongeng yang diterapkan dalam dunia nyata dengan atmosfer lebih kelam.

Ismail Basbeth membawa penonton dalam dunia antah berantah namun meyajikannya dengan suasana realis yang begitu kental. Melihat dua karakter utamanya, Asa (Tara Basro) dan Laras (Ratu Anandita) yang tinggal di hutan lengkap dengan pakaian ala-suku pedalaman, seorang/seekor manusia anjing (Cornelio Sunny) yang terus mengikuti Asa, dan berbagai ritual yang dilakukan ibu Asa (Endang Sukeksi) jelas menunjukkan unsur fantasi kental. Kita merasa asing dengan tempat itu, ditambah lagi dengan hadirnya kejadian-kejadian yang absurd. Tapi cara Ismail Basbeth bertutur sering menitikberatkan pada realisme. Alurnya lambat dengan seringkali kamera hanya diletakkan pada satu posisi dan sama sekali tidak bergerak. Ini bukan sekedar cara supaya menonton merasa filmnya "deep deep gimana gitu", tapi untuk merangkul kita, mengajak kita turut merasakan suasana dalam fim serta memperhatikan gerak gerik segala hal dalam frame. Ada makna dan tujuan jelas yang pada akhirnya berhasil dicapai.
Suasana hutan yang sunyi amat terasa, apalagi film ini juga tidak memiliki dialog. Kita pun bisa mengamati bahkan mengenali kehidupan yang dijalani Asa dan Laras disana. Mulai dari mereka bangun tidur, mandi, lalu berburu hewan untuk dimakan, semuanya bisa diamati dengan jelas. Penggunaan kamera di satu titik juga makin memperkuat realisme tersebut. Seringkali berbagai sudut yang dikombinasi dengan jump shot dimanfaatkan untuk manipulasi. Tapi dengan hanya satu kamera yang tidak bergerak, Another Trip to the Moon serasa memposisikan penonton tepat di depan sebuah jendela, dimana kita bisa melongok keluar lalu mengamati secara langsung apa saja yang bertempat dalam filmnya. Dengan presentasi semacam ini, filmnya menjadi sebuah pemaparan dunia nyata dengan banyak hal-hal yang sifatnya sureal bertempat disitu. Berada dalam hutan yang sepi dan misterius sambil sesekali melihat kejadian aneh, serta merta kesan mistis yang mencengkeram pun turut hadir.
Terasa sepi dan berjalan lambat, film ini jelas menguji kesabaran penonton, tapi sama sekali tidak membosankan. Bahkan jika durasinya yang 80 menit itu dilipat gandakan saya merasa nyaman-nyaman saja. Keberhasilan mengikat lewat permainan suasana adalah kuncinya. Seperti judulnya, film ini bagaikan membawa saya dalam sebuah perjalanan menuju tempat yang asing. Perjalanan semacam itu pastilah tidak membosankan, apalagi jika kita menemukan hal-hal unik disana. Selain suasana, penggunaan properti serta kostumnya memberikan kepuasan visual selain sinematografi yang memang sudah memikat. Sebenarnya segala properti maupun kostum itu amat sederhana. Para "makhluk asing" memakai topeng atau kain warna-warni yang jelas jauh dari kesan mahal. Properti seperti mainan kelinci atau hiasan berbentuk burung pun bukan barang yang "wah". Tapi bagaimana semua itu dimanfaatkan adalah kenapa bisa terasa spesial. Boleh saja production value-nya tidak mahal, namun kreatifitas untuk menyiasati keterbatasan itu justru merupakan keunggulan.

Cerita yang diusung sesungguhnya sederhana meski aspek sureal bakal membuat penonton harus berpikir lebih keras. Konflik yang hadir cukup sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan pertentangan antara ibu dan anak, dimana sang ibu menginginkan sesuatu bagi anaknya, tapi si anak menolak lalu memilih pergi sebagai bentuk perlawanan. Kurang lebih seperti itu kesan yang dihadirkan ceritanya. Diantara konflik tersebut, hadir pula perbandingan antara hutan sebagai simbol semesta yang alami dengan segala kehidupannya dengan dunia modern yang dipenuhi hal-hal "buatan" yang meski menyerupai aslinya namun jelas tidak memiliki jiwa. Mati dan kosong. Mungkin beberapa pihak bakal berpendapat untuk menuturkan semua itu cukuplah durasi 30-45 menit alias film pendek sehingga tidak perlu membuat alurnya begitu lambat. Mungkin benar. Tapi dengan begitu penonton tidak mempunyai kesempatan untuk terserap oleh suasana serta dunia yang dibangun. 

Verdict: Sayang, sebuah adegan dengan UFO terasa bukan dari keping puzzle yang sama dan berujung memberikan retak kecil pada film ini. Tapi Another Trip to the Moon merupakan kesunyian yang indah, mistis sekaligus adiktif. Film yang mengingatkan saya akan kepuasan menonton slow cinema. 

3 komentar :

  1. Assalamualaikum Wr. Wb
    Mas Rasyid Harry. Saya Pembaca setia blogmu.
    Banyak sekali film bagus yang saya tonton berkat blogmu.
    Kalau boleh request, Saya mengharapkan anda untuk mengulas mengenai 'Top 10' film terbaik berdasarkan genre masing2. Tidak harus 10 sih, lebih banyak urutannya lebih baik.
    Jika berkenaan saja mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam
      Makasih banyak udah meluangkan waktu baca2
      Sebenernya ide buat tulisan itu udah lama ada, cuma masih belum ngerasa cukup banyak nonton film dari masing2 genre. Tapi pasti nanti bakal ada kok
      :)

      Hapus