FLASH GORDON (1980)

3 komentar
Film ini langsung dibuka dengan penyerangan kaisar kejam bernama Ming (Max von Sydow) terhadap Bumi dengan menggunakan berbagai bencana alam. Sepertinya bakal jadi pembuka yang mengerikan, tapi ternyata tidak. Adegan tersebut justru seorang menjadi pernyataan lantang dari sutradara Mike Hodges bahwa Flash Gordon adalah film campy yang memang sengaja diniati untuk menjadi bodoh. Sedari awal itu sudah terasa. Ming dan pasukannya masih asing dengan Bumi, terbukti dari sebuah dialog dimana Ming menyatakan bahwa dia tidak familiar dengan planet ini. Tapi bagaimana mungkin pada salah satu alat pembuat bencana alamnya terdapat tulisan "earth quake"? Sebuah lubang menganga yang bakal disadari mayoritas penonton. Tapi itu belum apa-apa. Jika contoh kecil itu saja sudah membuat anda terganggu, jelas ini bukan tontonan yang cocok untuk anda.

Flash Gordon yang diangkat dari comic strip era 1930-an ini hanya akan berhasil menghibur penonton yang dengan tangan terbuka bisa menerima segala kebodohan dan campy tone di dalamnya. Film ini merupakan contoh tontonan dimana dialog jelek, plot bodoh, efek ketinggalan zaman, hingga akting kaku merupakan hiburan mengasyikkan daripada faktor pengganggu. Jadi tidak perlu terlalu memikirkan kenapa Flash Gordon (Sam J. Jones) sang bintang tim American Football, New York Jets ini berlibur sendirian. Terima saja fakta bahwa ia adalah superstar badass yang memang ingin menyendiri. Tak perlu juga memikirkan secara berlebihan kenapa seorang travel journalist bernama Dale Arden (Melody Anderson) bisa takut naik pesawat, dan kenapa pula dia naik pesawat jika takut. Filmnya sendiri juga tidak berusaha menjelaskan itu. Bagaimana pula pilot pesawat bisa tiba-tiba menghilang karena sinar merah berbentuk wajah Ming tidak perlu dipikirkan. 
Penonton cukup duduk menikmati petualangan Flash dan teman-temannya di planet Mongo dalam usaha mereka menghentikan rencana penghancuran Bumi oleh Ming. Kita akan diajak melihat transformasi Flash Gordon dari manusia biasa yang bahkan harus susah payah saat berkelahi dengan ilmuwan gila bernama Dr. Hans Zarkov (Chaim Topol) menjadi seorang pahlawan gagah berani, tak bisa dibunuh dan jagoan berkelahi setelah ia memegang sebuah...bola?? Seriously, Flash bisa tiba-tiba mengalahkan sekelompok pasukan Ming setelah Zarkov melemparkan padanya suatu hiasan berbentuk bola yang lalu oleh Flash dianggap sebagai bola American Football. Dia pun mulai menghajar satu per satu pasukan seperti ia beraksi di atas lapangan, lengkap dengan teriakan "set...hut!" Tapi para musuh tidak tinggal diam. General Klytus (Peter Wyngarde) langsung memberikan instruksi pada anak buahnya, layaknya seorang pelatih tengah berstrategi. Pertempuran pun dimenangkan oleh pasukan Mongo setelah Zarkov tanpa sengaja melempar sebuah bola yang mengenai kepala Flash. Epic!
Ada begitu banyak adegan lain yang kental nuansa humor, baik yang disengaja maupun yang tidak. Sang penulis naskah Lorenzo Semple, Jr. mengakui bahwa Mike Hodges memang berniat menciptakan sebuah komedi, sesuatu yang oleh Lorenzo disesali saat ini. Tapi tanpa komedi itu Flash Gordon tidak akan menjadi cult classic. Setelah 35 tahun, semua adegan aksi, efek CGI, hingga tata artistik lain bakal terasa ketinggalan zaman. Jika filmnya dibuat dengan tone serius, kesan so-bad-it's-good mungkin tidak akan hadir. Segala kekonyolan yang ada justru membuat Flash Gordon tak lekang oleh waktu. Keuntungan juga didapat dari akting buruk para pemainnya. Ada yang berlebihan macam Brian Blessed sebagai Prince Vultan, ada pula yang kaku seperti Sam J. Jones. Tapi kualitas akting tersebut begitu senada dengan tone filmnya. Begitu pula penulisan dialog buruk penuh one-line menggelikan, sampai kehadiran sexual innuendo pada beberapa aspek (adegan, dialog, kostum). Untuk hal kedua, kehadiran Ornella Muti sebagai Princess Aura berperan besar. Dia pun sukses menjadikan setiap kemunculannya patut dimasukkan dalam film porno. Atau mungkin Flesh Gordon yang merupakan erotic parody dari film ini. 

Tapi tidak semua keasyikan film ini berasal dari keburukannya. Desain set dan kostumnya yang penuh warna dan punya banyak bentuk unik memberikan hiburan visual. Keunikan kostumnya membuat tiap kali sebuah adegan mengumpulkan banyak warga planet Mongo, saya seperti sedang melihat the weirdest fashion show ever, but in a good way. Begitu pula efek CGI laser atau rendering kasar dalam beberapa adegan yang makin menjadikan filmnya penuh warna. Tapi keasyikan paling besar tentu saja mendengarkan soundtrack "Flash's Theme" yang dibawakan oleh Queen. Siapa yang tidak terpacu adrenaline-nya saat Frddy Mercury menyanyikan lirik "Flash!....Aaaah!" Sempurna menggambarkan sosok Flash Gordon sebagai pahlawan yang macho dan keren saat beraksi. 

Verdict: Tidak menawarkan apapun kecuali petualangan menyenangkan yang hadir berkat tone campy. Tapi kesenangan penuh kebodohan ini memang timeless.


3 komentar :

  1. Pertama kali menonton Flash Gordon waktu SD plus didampingi ibu. Gak nyangka kalo itu tontonan favoritnya waktu kecil di tv hitam putih, selain serial Chip.

    Kalau Flash Gordon dibilang memiliki tone campy, mungkin bisa disamakan dengan Batman TV Movie versi Adam West. Konyol dan lucu sih emang iya, tapi juga bikin shock sama nyesek. hikz hikz

    Tidak menyangka saja kalau Batman pernah dibuat dengan style seperti itu, aduuhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sama2 campy walaupun Batman lebih komedik haha
      I like it though, much more than Schumacher's

      Hapus
    2. hahaha, banyak yg menyebut sebagai "Schumacher's Error"

      Btw, baru nyadar kalo yg jadi Ming adlh Max von Sydow, soalnya tiap kali ingat Ming bawaannya keinget Ben Kingsley mulu, heleh

      Hapus