3 (2015)

4 komentar
Saya menunggu Anggy Umbara membuat film aksi. Dua installment Comic 8 sudah membuktikan bahwa Anggy dengan metode style over substance-nya berpotensi jauh lebih bersinar jika menggarap action tanpa perlu dibumbui komedi. Karena dari situ dia bisa sepuasnya membuat karakter badass yang keren tanpa perlu menjadikan para komedian bertingkah "sok keren". Karena dari situ dia bisa sepuasnya mengumbar peluru dan baku hantam tanpa perlu mendistraksi komedinya. Penantian saya akhirnya usai berkat film berjudul 3 ini. 3 bagi seorang Anggy Umbara layaknya Transfomers bagi Michael Bay, Avatar bagi James Cameron, atau Inception bagi Christopher Nolan. Karya terbaik atau bukan, itu urusan belakangan. Tapi yang jelas semua signature dari sang sutradara ada disini. 3 menegaskan apa yang harus penonton ekspektasikan ada pada film-film Anggy kedepan. Suka atau tidak memang beginilah gayanya.
Penggunaan slow-motion berlebihan, plot yang kerumitannya berlebihan, efek suara penuh dentuman yang terkadang berlebihan, hingga pemakaian gimmick visual lain entah lens flare, CGI, atau hujan yang juga berlebihan. Gaya seorang Anggy Umbara memang penuh dengan hal berlebihan, dan itu pula yang akan kita temui dalam film ini. Saya kurang menyukai style semacam itu, tapi rasa penasaran saya akan seperti apa semuanya jika diterapkan dalam film aksi memang terlalu besar. Belum lagi ditambah premis menarik dari naskah tulisan trio Anggy Umbara-Bounty Umbara-Fajar Umbara. 3 adalah dystopian movie, barang langka di perfilman Indonesia, dan mungkin selain Anggy Umbara, hanya Joko Anwar sutradara gila yang berani membuat film high concept semacam ini (they used to make short movie together, by the way).
Jakarta, tahun 2036 adalah tempat yang jauh berbeda dari saat ini. Sebuah revolusi pada 2026 tidak hanya menyulap kota metropolitan itu jadi penuh puing, tapi turut merubah ideologi berbangsa yang dianut. Para radikal agama telah dihabisi. Penganut agama tidak hanya menjadi minoritas, namun juga dipandang sebagai racun masyarakat. Hak asasi manusia diutamakan dan berbuntut pada banyak hal termasuk dilarangnya penggunaan peluru tajam di kalangan aparat. Mereka hanya boleh memakai peluru karet saat bertugas. Diluar usaha penghapusan agama, bukankah dunia tanpa kekerasan seperti ini adalah impian semua orang? Pada kenyataannya tidak seindah dan sesederhana itu. Kerumitan baik-buruk tersebut memang jadi sasaran tembak Anggy Umbara dalam mengemas filmnya. Dia melempar pertanyaan "benarkah dengan menumpas habis golongan radikal yang mengatasnamakan agama akan menciptakan perdamaian?" 

Menciptakan Indonesia yang hingga saat ini masih menjunjung tinggi agama sebagai hal "wajib" yang bahkan tertera di KTP sebagai dunia anti-agama adalah langkah berani. Meski pada eksekusinya film ini kadang terasa seperti teriakan pemeluk agama (khususnya Islam) terhadap segala tuduhan terorisme daripada murni pengandaian bersifat objektif, 3 tetap mampu menghadirkan konflik dilematis tentang moralitas. Lagipula objektifitas bukanlah satu poin absolut dalam penghadiran konflik suatu film. Jadi andaikan Anggy Umbara berniat mengemas film ini sebagai propaganda keagamaan, bagi saya sah-sah saja selama memiliki struktur narasi kuat. Pada eksekusinya, cerita film ini memang tidak sekuat premisnya. Plot yang overly-convoluted khas Anggy Umbara termasuk hadirnya twist berlapis yang dipaksa masuk menjelang akhir sedikit melemahkan esensi cerita. Dari yang tadinya berisikan drama moralitas berbasis kehidupan sehari-hari menjadi kepingan lebih besar untuk set-up sekuelnya. Tapi overall saya berhasil diikat oleh ceritanya, setidaknya sebelum third-act saat memasuki bagian "Alif-Lam-Mim."

Kali ini Anggy tidak hanya berhasil membuat style-nya tidak mendistraksi cerita, tapi juga menghadirkan karakter beserta konflik yang kuat. Ketiga tokoh utama membawa ideologi masing-masing. Alif (Cornelio Sunny), Lam (Abimana Aryasatya) dan Mim (Agus Kuncoro) telah bersahabat sedari mereka masih berada di satu perguruan silat yang sama. Mereka pun sama-sama dibesarkan dengan ajaran Islam yang cukup kuat. Alif kini menjadi anggota pasukan khusus pembasmi teroris. Lam adalah wartawan idealis di sebuah media ternama. Sedangkan Mim masih tinggal di padepokan Al-Ikhlas tempat ketiganya belajar dulu. Mereka bertiga memiliki konflk masing-masing yang sesungguhnya serupa. Alif dengan ambisinya membasmi terorisme, Lam dengan idelisme yang membuat tulisannya sering ditolak redaksi, Mim dengan statusnya sebagai penganut Islam taat hingga dianggap teroris. Sisi religiusitas mereka pun turut mendapat ujian. 
Penuturan dari Anggy sanggup membuat saya memahami motivasi dan jalan yang dipilih ketiga tokoh tersebut. Hal ini penting, karena di tengah kompleksnya cerita dan konsep tinggi yang diusung, penonton tetap memiliki "pegangan" dalam bentuk karakter yang mengikat. Rasa keterikatan itu bisa berasal dari ikatan emosional maupun dari rasa memahami rasa atau setidaknya situasi yang tengah mereka alami. Secara tidak mengejutkan, Abimana menjadi yang paling menonjol, dan aktingnya pun terbantu oleh konflik personal tentang keluarga yang tersaji mendalam. Cornelio Sunny adalah seorang badass, dan berpotensi sebagai the next Indonesia action hero, meski sayangnya drama romansa antara dia dengan Prisia Nasution sebagai Laras merupakan subplot yang lemah. Agus Kuncoro adalah tipikal karakter favorit penonton. Ekspresi dingin dari Agus memancarkan sisi misterius yang mudah disukai (just because that's cool). Menjadi unik disaat sosok dengan coolness level tinggi seperti dia justru seorang alim ulama. Sebuah twist karakter jenius bagi sosok ustadz yang biasanya lebih banyak digambarkan berceramah dan bersenjatakan doa. 

How's the action sequence? Like I said, I'm not the fans of Anggy Umbara's style. Penggunaan slo-mo berlebihan justru beberapa kali mengurangi keindahan koreografi pertarungan yang dibuat Cecep Arif Rahman. Koreografi silat yang menitik beratkan pada keindahan serta kecepatan gerak jadi berkurang jauh tingkat keefektifannya. Masih menghibur, tapi ketegangan yang seharusnya ada jadi menurun dosisnya. Begitu pula banyaknya penggunaan efek hujan yang diniati menciptakan kesan dramatis tapi justru mengganggu kenikmatan karena pertarungan yang terjadi tidak bisa dilihat secara utuh. Tapi semuanya masih menyenangkan. Sama seperti keseluruhan 3 sendiri yang dipenuhi berbagai kekurangan termasuk penggunaan CGI kasar, namun overall masih sangat menghibur. Pada akhirnya toh konsep premis kontroversial yang ditawarkan tidak hanya berakhir sebagai tempelan, melainkan gambaran berani tentang alternate reality (jika kelak tidak akan terjadi) dari kondisi Indonesia yang berkebalikan dengan masa sekarang. 3 adalah signature movie seorang Anggy Umbara. Suka atau tidak, itu tergantung sejauh mana toleransi anda pada gaya sang sutradara. 

4 komentar :

Comment Page:
Alvi Fadhollah mengatakan...

Jujur ketika baca premisnya, saya menganga secara otomatis. Menyenangkan sekali mengingat gak cuma Joko Anwar yg punya ide segila itu. Dari baca premisnya membuat saya sangat menantikan film ini. Ditayangin di bioskop kan bang?

Rasyidharry mengatakan...

Yap, udah tayang. Go watch it! :)

Andika Hilman mengatakan...

Setuju banget Abimana a.k.a. Lam jadi yang paling menonjol dan menjadi favoritku di film ini, meski Mim yg dibawain Agus Kuncoro juga keren banget! Signature Anggy semoga nggak cuma konsisten, tetapi juga bisa tetap membaik. Aku saranin 'Mama Cake' kalo penasaran sama filmnya Anggy yg lain (kalau belum nonton)

By the way salam kenal ya Mas Rasyid, saya juga suka ngereview film di blog, termasuk film '3' yang bisa dibaca di: http://andikahilman.blogspot.co.id/2015/10/3-short-review.html :)

Rasyidharry mengatakan...

Mama Cake udah, justru penasaran sama gaya dia di CJR the movie
Siip, salam kenal juga ;)