THE MARTIAN (2015)

4 komentar
Do we really need another space-exploration movie after "Gravity" and "Interstellar"? Kedua film yang masing-masing rilis pada 2013 dan 2014 itu telah memberikan standar tinggi baik dari aspek teknis maupun narasi. Jadi apakah tahun 2015 membutuhkan film dengan tema serupa? Mungkin tidak. Jangka waktu relatif berdekatan tentu membuat perbandingan antara The Martian dengan kedua film tersebut tidak terelakkan. Apalagi film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Andy Weir ini juga menampilkan Matt Damon serta Jessica Chastain dalam peran yang tidak jauh berbeda dari peran mereka di Interstellar. Matt Damon berperan sebagai Mark Watney, astronot yang terdampar sendirian di Mars setelah mengalami kecelakaan dalam suatu misi. Sedangkan Chastain adalah astronot wanita tangguh bernama Melissa Lewis yang juga merupakan komandan dari misi tersebut. Sounds familiar indeed

Langsung saya tekankan bahwa The Martian bukanlah sajian groundbreaking. Tidak peduli jenis treatment apapun yang dipilih, entah sebagai survival story, mengejar keakuratan sains, atau eksplorasi betapa luar biasanya penjelajahan luar angkasa, memang amat sulit menyamai standar yang sudah ditetapkan oleh kedua contoh film di atas. Padahal sejujurnya, ketiga hal tadi sudah berhasil dipaparkan dengan baik oleh film ini. Tapi pertanyaannya, adakah pembeda dalam The Martian sehingga meski tidak mampu menandingi pencapaian dua mahakarya tersebut, filmnya tetap berakhir memuaskan? Untungnya ada, dan pembeda itu sesungguhnya berasal dari kekuatan novel selaku sumber cerita. 
Tanpa basa-basi, Ridley Scott langsung melemparkan opening menegangkan saat misi "Ares 3" terpaksa dihentikan akibat sebuah badai. Belum mencapai opening kecelakaan impresif layaknya yang Alfonso Cuaron lakukan, tapi eksekusi cepat dan kebisingan sebagai penyirat bahaya kehancuran besar tetap memberikan ketegangan. Dikira telah tewas oleh rekan-rekannya, Mark Watney pun ditinggalkan di Planet Mars. Setelah "kehebohan" pada pembukanya, kita dibawa pada suatu adegan menyakitkan serta jauh dari kesan nyaman untuk ditonton saat Watney berusaha mengobati luka di perutnya akibat tusukan sebuah logam. Kita melihat ia membuka sendiri luka tersebut, mengeluarkan sisa logam dalam perut, dan menjahit luka dengan peralatan seadanya. Diiringi oleh teriakan Watney serta darah yang tidak berhenti mengalir, tidak salah jika saya mengira ini adalah awal dari usaha bertahan hidup sang astronot yang kelam dan penuh penderitaan. Pada kenyataannya, Watney memang banyak menghadapi masalah tak terkira serta penderitaan, tapi pemaparannya jauh dari kesan kelam. Berasal dari situlah kelebihan The Martian

Film ini bukanlah sajian grandious, melainkan rangkaian tahapan untuk membuat penonton jatuh cinta pada sang karakter, hingga akhirnya peduli pada dia. Caranya adalah dengan menjadikan Mark Watney sebagai sosok playful, tidak pantang menyerah, dan seolah tak pernah kehabisan celetukan menggelitik saat mengomentari situasi berat yang dialami. Alih-alih menjadi observasi kelam tentang pergulatan karakter dalam kesendirian, The Martian diluar dugaan terasa ringan berkat humor-humor efektif. Disaat pihak NASA mengkhawatirkan kondisi kejiwaannya, Watney justru tengah mengomentari musik disko 80-an milik Melissa yang pada masa ini terdengar corny. Sosoknya memang sudah sejak awal digambarkan sebagai pria yang gemar melontarkan lelucon. Daripada hanya diam meratapi nasib, Watney memilih untuk "science the shit out of this". Daripada tenggelam dalam kesepian isolasi, Watney memiih untuk merekam kegiatan sehari-harinya sambil melontarkan kelakar penuh sarkasme tentang nasibnya. 
Di tengah usahanya untuk menjadi scientifically correct movie, memang keberhasilan Watney bertahan dalam "kewarasan" sedikit melunturkan sisi realistis cerita. Tapi The Martian memang tidak pernah bertujuan sebagai film survival bernuansa gloomy. Sebaliknya, feel-good movie menjadi tujuan utama. Pada dasarnya, cerita film ini ditujukan sebagai "kisah inspiratif" disaat karakternya mampu terus bersikap positif meski berada di tengah konflik yang tidak hanya serius tapi besar kemungkinan bakal menghabisi nyawanya. Namun ini bukan tontonan inspiratif yang corny. Usaha menyuguhkan itu dilakukan secara subtil lewat momen-momen uplifting serta rasa terikat pada karakter. Segala kelucuan yang mengiringi pun tidak lantas mengacaukan tone film, karena dampaknya justru saya lebih bersimpati pada Mark, dan saat ancaman menghampiri, kekhawatiran berujung pada ketegangan pun hadir. 

Bicara soal corny, film ini memang sangat berpotensi berakhir seperti itu. Jika bukan karena pengemasan Ridley Scott yang tidak berlebihan, klimaks film ini bisa berada pada level serupa dengan Armageddon-nya Michael Bay saat seluruh umat manusia berkumpul penuh kecemasan untuk kemudian bersuka cita menyambut misi penyelamatan Mark Watney. Berkat keberhasilan sang sutradara itulah The Martian tidak hanya berujung pada kisah usaha bertahan hidup dan misi penyelamatan biasa, tapi juga menyuntikkan drama kemanusiaan. Sebuah drama yang dikemas lewat jalan sederhana kalau tidak boleh dibilang mudah, namun memberikan efek maksimal dalam mempermainkan emosi penonton. The Martian bukan menitik beratkan pada pameran high concept ambisius, melainkan sajian drama kemanusiaan hangat penuh optimisme. 

4 komentar :

Comment Page:
Niken Aridinanti mengatakan...

I love The Martian more than Interstellar and Gravity!

Mark Watney try to show you that sarcasm is one way to keep you stay positive. In yo face, Neil Armstrong!

Rasyidharry mengatakan...

Yeah I love his sarcasm....but my love for Gravity is much bigger haha

Lukman Arifin mengatakan...

I hate this film. Ga tau kenapa terasa sangat biasa setelah menonton film ini

Rasyidharry mengatakan...

Haha masa sampe benci sih?