ADA APA DENGAN CINTA 2 (2016)

22 komentar
Banyak orang menyematkan status "fenomenal" untuk Ada Apa dengan Cinta? karena keberhasilannya merepresentasikan remaja di masanya. Bagi saya pencapaian AADC? lebih dari itu. Bukan semata-mata mewakili, filmnya mampu menciptakan kultur, menggiring remaja meniru banyak unsur di dalamnya. Seperti film legendaris lain, kehadiran sekuel memancing pertanyaan sekaligus kekhawatiran. Hendak dibawa ke mana kisahnya? Apa memang perlu dilanjutkan? Bukankah konklusinya sudah sempurna? Bagaimana jika hasilnya buruk lalu mencoreng reputasi pendahulunya? Walau tampuk penyutradaraan berpindah ke Riri Riza, menggantikan Rudi Soedjarwo yang kini kualitas karyanya naik-turun dan naskah masih digarap Prima Rusdi (kali ini bersama Mira Lesmana), rasa khawatir tetaplah ada.

Ber-setting 14 tahun pasca film pertama, kita dipertemukan lagi dengan Cinta (Dian Sastrowardoyo), Karmen (Adinia Wirasti), Maura (Titi Kamal) dan Milly (Sissy Priscillia) yang tengah bereuni   ketiadaan Alya (Ladya Cheryl) nantinya akan dijelaskan   sembari merencanakan liburan bersama ke Jogja. Sementara itu, Rangga (Nicholas Saputra) masih tinggal di New York sembari membuka coffee shop sederhana. Hingga suatu berita membuat Rangga memutuskan kembali ke Indonesia, tepatnya Jogja. Di sanalah Rangga dan Cinta kembali bertemu setelah bertahun-tahun lamanya terpisah. 

Ada beberapa plot point tidak saya singgung demi menjaga kepuasan anda saat menonton. Sinopsis di atas terdengar klise dan sejatinya Ada Apa dengan Cinta 2 memang tak menawarkan inovasi pada tataran alur, tapi bukan berarti penceritaannya lemah. Fokus utama seputaran romantika Rangga-Cinta dikemas ala Before Trilogy-nya Richard Linklater, di mana mayoritas durasi "hanya" memperlihatkan obrolan mereka berdua selama sehari penuh di Jogja. Saya sebut "mayoritas" karena cuma second act-nya saja memakai pendekatan tersebut, namun itu saja sudah cukup mengeksplorasi hubungan keduanya secara lebih intim. Terlebih Riri Riza piawai mengolah supaya situasi sebuah scene tersalur kuat pada penonton.
Pertemuan kembali dua insan saling mencinta setelah sekian lama pastilah takkan mudah, apalagi jika tersimpan permasalahan yang belum terselesaikan. Ada kesan awkward terpancar, but in a cute and romantic way, semisal Cinta yang kerap malu-malu atau saat Rangga kehabisan kata-kata (yes, Rangga is speechless). Riri mampu menjadikan momen sederhana menjadi impactful, dengan contoh sempurna pembicaraan Cinta dan Rangga di cafe yang walau sekedar diisi luapan unek-unek Cinta, jadi terasa intense sekaligus menggelitik berkat banyaknya pemakaian close-up menyoroti ketegasan Cinta atau diamnya Rangga. Kesan serupa rutin terulang sepanjang film, menjadikannya romantis secara natural karena kita menyukai interaksi protagonisnya, bukan dipaksakan lewat baris kalimat puitis berlebih atau momen overly dramatic.

Ada Apa dengan Cinta 2 bukannya tanpa kelemahan. Beberapa menit awal terasa flat, tepatnya sebelum Cinta dan Rangga menjalani hari bersama, bagai prolog yang terlampau panjang. Untung "Geng Cinta" mampu menjaga intensitas berkat hidupnya interaksi di antara mereka yang acapkali memancing tawa. Saya pun sedikit terganggu akan cara penghantaran konklusi. I don't have a problem with happy ending. Rangga and Cinta deserve that. The audience deserve that. Tapi setelah penutup powerful dari setting Jogja, ending tersebut menjadi antiklimaks, tak seberapa menguras emosi. Cukup mengganggu pula karena film mendadak berubah dari talky romance intim menjadi lebih generic walau masih menyunggingkan senyum di bibir saya. 
Jajaran cast-nya (unsurprisingly) jadi aspek terkuat. Dian Sastrowardoyo efektif menangani adegan emosional tanpa harus berlebihan, namun daya pikat terbesarnya ada pada bahasa non-verbal sewaktu merespon ucapan Rangga misal lewat senyuman diam-diam. Karena itu, penonton terpikat, karakter Cinta pun terkuatkan. Nicholas Saputra masih mempertahankan charm-nya. Menyenangkan pula lebih sering melihat Rangga selain sebagai pria bermulut sinis. Keputusan tepat dilakukan ketika memberi porsi lebih pada Karmen. Adinia Wirasti kini merupakan salah satu aktris terbaik Indonesia, dan memberi Karmen konflik personal serta satu momen perselisihan dengan Cinta jadi langkah tepat memaksimalkan kemampuannya. Barter dialog penuh emosi antara Adinia Wirasti dan Dian Sastrowardoyo? Siapa tidak antusias? Sedangkan Sissy Priscillia adalah scene stealer lewat kemampuannya menghadirkan tawa berulang kali. 

Ada Apa dengan Cinta 2 adalah nostalgia memuaskan, apalagi berkat kehadiran beberapa fan service moment yang sukses menciptakan histeria penonton. Tapi tidak hanya itu, karena alurnya tetap memperhatikan eksposisi cerita serta karakter daripada sekedar fokus pada fan service. Is it unnecessary? Probably. Tapi sama halnya Before Sunset, sekuel ini tidak wajib dibuat namun sukses membawa kelanjutan kisah pendahulunya menuju arah yang benar. Berbeda dari film pertamanya, Ada Apa dengan Cinta 2 mungkin tak sampai mewakili apalagi menggiring kehidupan generasi masa kini, tapi sungguh perayaan manis untuk kisah cinta legendaris. Salah satu sekuel terbaik di perfilman Indonesia. 

22 komentar :

  1. film yg wajib nonton juga ni..

    BalasHapus
  2. Dari awal udah menduga konsepnya kayaknya trilogi before sunrise-sunset-midnight. Dan jadi penasaran 14 tahun lagi ada aadc 3 apa g

    BalasHapus
    Balasan
    1. 14 tahun lagi Dian umur 48, Nico 46, masih bisa :D

      Hapus
  3. Update bgt blog ini. Suka! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha yang nulis nggak ada kerjaan lain

      Hapus
  4. memang beberapa adegan radah mirip before trilogi apalagi scane pas ngobrol sambil jalan2..
    dan film ini benar2 membuat saya bernoslagia atas kisah cinta dan rangga ... oustanding lah buat film ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Paling suka emang momen mereka ngobrol & jalan-jalan. Berasa intim :)

      Hapus
  5. Ending nya agak mengecewakannya ya mas. Tak pikir akan dibuat sedikit bertanya2 seperti aadc 1 atau before sunset.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kalo ending nya di bikin gantung kayak Before sunset mungkin lebih baik..

      Hapus
  6. Bayangin endingnya cukup sampai cinta hampir tabrakan pasti keren kayaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah, sampai adegan ciuman di Jogja saja. hahaha

      Hapus
    2. Yah g sampe 2 jam donk filmnya mas

      Hapus
    3. Loh, adegan ciuman itu di-extended 15 menit *mulai ngaco*

      Hapus
    4. biarkanlah bang rasyid berkhayal

      Hapus
    5. Nah bener sekali ini :D

      Hapus
  7. ADA APA DENGAN CIVIL WAR :D jeng jeng jeng

    BalasHapus
  8. Menurut saya sih yg kedua ini ga se greget yang pertama, tapi lebih mature...sempet agak sedikit bosen..
    Tp demi nostalgia...cukup puas deh

    BalasHapus
  9. 4 bintang? Menurut gw ini film pas 2 bintang aja. Film dengan tujuan komersil doang, jalan cerita aneh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak ada yang salah kok dengan film bertujuan komersil, movie is an industry afterall :)

      Hapus
  10. Overall bagus.

    Tapi kurang logis aja menurut saya ceritanya.
    Untuk wanita yang sudah berusia diatas 30 tahun, sepertinya kecil sekali kemungkinan seorang wanita belum menikah meski dengan alasan mengejar karir.

    Tapi demi untuk memuaskan keinginan dan harapan penonton agar jalan ceritanya tidak mengganggu keromantisan film, tentunya kemungkinan kecil ini (usia diatas 30 tahun belum menikah) bisa dijadikan kenyataan di film.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh malah realitanya banyak banget lho kasus begitu :)

      Hapus
  11. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus