MODUS (2016)

14 komentar
Komedi bertemakan kultur percintaan anak muda zaman sekarang apalagi bersenjatakan sosok protagonis jomblo masih selalu memiliki tempat di hati penonton. Tengok saja rangkaian film Raditya Dika khususnya Single yang tahun lalu ditonton lebih dari 1,3 juta penonton sekaligus menempati posisi kedua daftar film terlaris Indonesia 2015. Saya pun meyakini bahwa Modus garapan duo sutradara Fajar Bustomi dan Adhe Dharmastriya ini bakal merenggut kesuksesan, terlebih jajaran cast-nya diisi para Youtuber ternama. Modus (bisa jadi) mewakili dinamika romansa masa kini, tapi di sisi lain juga merupakan bukti stagnansi kualitas komedi dalam negeri yang berisikan kedangkalan lelucon bahkan sering menjurus ke ranah offensive.

Film ini mengisahkan empat orang sahabat dengan gaya modus masing-masing untuk merebut hati wanita. Jovial (Jovial da Lopez) sebagai mahasiswa perfilman kerap curi-curi kesempatan kala mengarahkan aktrisnya. Reza (Reza Oktovian) memanfaatkan kekayannya, sedangkan Liem (Tommy Limmm) menggunakan pengetahuan (baca: obsesi) miliknya terhadap feng shui. Berbeda dengan ketiga teman dan kakaknya, Andovi (Andovi da Lopez) tak memiliki senjata modus apapun. Alhasil ketika ia jatuh hati pada Kirana (Melayu Nicole Hall) sang gadis populer, Andovi tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya mereka mulai bekerja sama menjalankan strategi modus demi mendekatkan Andovi dan Kirana, meski harus melalui banyak rintangan termasuk keberadaan sahabat Kirana, Dipa (Kemal Palevi).
Terdapat dua hal ingin disampaikan oleh film ini, yaitu parodi tren modus dalam PDKT dan perjuangan Andovi merebut hati Kirana. Jovial da Lopez dan Reza Aditya Irawan selaku penulis naskah tampak jelas memahami materi yang diusung, tapi sayang keduanya sekedar menyelipkan hal bersifat trivial sebanyak mungkin  eksistensi di Instagram, berbagai tipe modus  daripada berusaha mengemasnya menjadi sindiran cerdas bagi fenomena tersebut. Komedi memang sifatnya amat subjektif, efeknya berbeda untuk tiap penonton. Tidak wajib pula dituturkan secara cerdas. Namun ada perbedaan antara kebodohan yang dikemas dengan pintar (ex: Anchorman) dengan kebodohan total berujung menyebalkan. Modus  tergolong kategori kedua.

Modus berusaha keras mengemas karakternya sebodoh mungkin tanpa mempedulikan alasan di balik tindakannya. Komedi bukan dibangun berdasarkan detail penokohan misal Reza si kaya atau Jovial sang sutradara melainkan membuat mereka nampak sebodoh-bodohnya sampai ke taraf annoying. Liem memang konsisten pada obsesinya kepada feng shui, tapi tipikal leluconnya terlampau malas  bertindak tak masuk akal karena feng shui. Namun aspek paling parah adalah bagaimana komedinya begitu offensive terhadap lelaki feminin (baca: banci). Saya tidak mempermasalahkan tokoh banci sebagai comic relief, namun Modus begitu kentara memperlakukan mereka sebagai bahan olok-olok, seolah feminitas laki-laki adalah aib, hal menjijikkan, layak dicela. Stupid comedy is one thing, but offensive? That's painful.
Perasaan menyiksa turut dihadirkan oleh akting jajaran cast-nya. Melayu Nicole Hall tak sampai memberi performa luar biasa, tapi ia berusaha maksimal melakoni tiap adegan, total menjadikan Kirana sosok likeable. Hal itu terjadi saat para aktor utama justru mempermalukan diri sendiri. Ada dua kesan muncul kala menyaksikan keempat lead-nya berakting, yakni bodoh sekaligus menyebalkan, seolah akting mereka ditujukan hanya untuk menciptakan karakter sebodoh mungkin baik melalui ekspresi maupun penghantaran dialog. Sepanjang film, Tommy Limmm konsisten membuka lebar mulutnya, Reza Oktovian melotot, sedangkan da Lopez bersaudara mengucapkan baris kalimat begitu ngotot seolah meminta ditampar penonton. Mudah bagi saya membenci keempatnya.

Selain komedi, Modus juga merupakan sajian romansa, sehingga wajib hukumnya bagi penonton mendukung perjuangan karakter utama, yaitu Andovi. Sah-sah saja membuat tokoh utama jauh dari kesan keren cenderung cupu. Raditya Dika selalu menggunakan formula ini namun sosoknya tetap likebale bahkan terasa membumi, dekat dengan penonton berkat unsur "fighting against all odds". Andovi berbeda. Dia tampak sebagai pecundang kelas kakap akibat selalu bergantung pada saran teman-temannya. Lalu ketika saran tersebut gagal, ia pun marah seolah kegagalan itu merupakan kesalahan mereka. Jika karakter-karakter Dika murni quirky, maka Andovi murni annoying. Bagian mana yang romantis dari berlari telanjang dada di bandara sambil berteriak? Cukup banyak saya menuliskan kata "bodoh" dalam tulisan ini karena memang begitulah Modus. Bodoh. 


Ticket Powered by: Bookmyshow ID

14 komentar :

Comment Page:
Angga Saputra mengatakan...

kalo film mars gak direview apa bro..kan ada acha septyasa yg main..

Rasyidharry mengatakan...

Lagi males sama "inspirational movie" hehe

Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

akhir2 ini emang terlalu banyak film begitu, jatuhbya jd bosen diceramahin sih

Rasyidharry mengatakan...

Yak, betul!

Hizkia Yosurandri mengatakan...

Mereka sepertinya ga butuh apresiasi atau kepuasan krn membuat karya yg bagus. Mereka toh sudah merasa bagai 'dewa' karena eksistensi (baca:popularitas) mereka sbg youtuber dan celebgram. Yah mw bgmn lagi.. Seandainya mereka masih memiliki 'hati' seperti Raditya Dika.. :D atau ko Ernest. Anyway, sy mnta link film bang Rasyid dnk yg d youtube. :D thank you. Ditunggu suatu saat sang movfreak ini karyanya terpampang di layar lebar. Hehhe

Rasyidharry mengatakan...

Yap, Ernest & Radit pintar di penulisan soalnya.
Hehe sayangnya channel saya udah nggak ada dan belum sempet upload lagi, tapi mungkin segera.
Amin amin :)

Hizkia Yosurandri mengatakan...

Hehehe. Kl gt saya tunggu film layar lebarnya aja.

Hendra Siswandi mengatakan...

Saya pun nonton film ini hanya sebagai modus biar bisa berduaan dengan gebetan.

Leonard fresly mengatakan...

Era seleb media sosial dimulai, sayang banget kaya cuma sebagai tempelan biar film laku, tanpa punya kekuatan cerita. Sinopsis dan Jalan Cerita Film

Rasyidharry mengatakan...

Kasihan gebetannya nonton ginian haha

Rasyidharry mengatakan...

Nah betul. Padahal nama mereka cukup kuat mengundang penonton

lani yahya mengatakan...

Hanya satu bintang...weww....i guess it is a crap movie

Syamsu Rijal mengatakan...

jujur, smua pmerannya blum prnah skalipun saya lhat sblumnya. itu bneran artis kah? soalnya di indonesia tdk bsa dibedakan yg mana artis yg mana orang yg ketangkep kamera. dan jujur saya sama skali tdk pduli dngan artis sampah indonesia apalagi mau nonton film indonesia. huekkhhhh....... najis......!!! mnding nonton film luar yg lbih brkualitas.

Rasyidharry mengatakan...

Oh, najis ya nonton film Indonesia? Udah berapa film lokal yang ditonton tahun ini mas, sampai bisa bilang begitu?