FINDING DORY (2016)

22 komentar
Tepat apabila menyebut "drama emosional" sebagai keunggulan utama Pixar sekaligus salah satu alasan terbesar penonton dewasa menantikan karya-karya mereka. Tapi menjadi keliru tatkala unsur tersebut dianggap wajib ada dan merupakan kegagalan jika gagal menguras air mata. Pixar is more than that. Cerita berselipkan kritik sosial, karakter ikonik nan likeable, sampai visual memikat adalah kekuatan lain yang semestinya tak dikesampingkan. Itu pula yang terjadi pada Finding Dory, sekuel dari Finding Nemo, which is one of Pixar's best and richest movie. Tidak sekalipun saya sesenggukan berlinang air mata karenanya, namun bukan berarti bencana, sebab selama kurang lebih 103 menit durasi, gelak tawa setia menghampiri seolah tanpa henti. 

Enam bulan pasca kisah film pertama, Dory (Ellen DeGeneres) mendadak ingat kepingan-kepingan ingatan masa kecil mengenai kedua orang tuanya serta suatu tempat bernama "the jewel of Morro Bay, California". Tanpa pikir panjang, Dory segera melakukan perjalanan mencari keluarganya ditemani oleh Marlin (Albert Brooks) dan Nemo (Hayden Rolence), sebelum akhirnya terpisah dan terjebak di sebuah marine life institue. Di sanalah Dory bertemu dengan beberapa hewan laut yang turut memberi bantuan mencari keluarganya; Hank (Ed O'Neill) si gurita bertentakel tujuh, Destiny (Kaitlin Olson) hiu paus sekaligus teman masa kecil Dory, dan paus beluga bernama Bailey (Ty Burrell). Now it's time for Dory's adventure and (of course) she's gonna keeps swimming

Originalitas penuh imaji berupa keunikan interpretasi dunia bawah laut milik Finding Nemo sudah tentu takkan terasa lagi, dan sayangnya sulit menanggulanginya mengingat nyaris mustahil sekuel memunculkan sihir serupa pendahulunya. Andrew Stanton selaku sutradara sekaligus penulis naskah (bersama Victoria Strouse) sadar betul dan memilih pendekatan lain yakni fokus menghadirkan petualangan semenyenangkan mungkin. Bagi saya Finding Nemo adalah reka ulang "realis" terhadap kehidupan hewan laut meliputi kebiasaan, cara hidup, pola pikir, atau parodi tentang stereotip yang melekat. Sebaliknya, Finding Dory lebih cartoonish dan adventure-oriented, sebagaimana dicontohkan adegan Hank mengendarai truk di jalan raya yang mana adegan semacam itu tidak akan ditemukan dalam film pertama. 
Apakah itu buruk? Justru sebaliknya, pendekatan berbeda sukses menghindarkan kesan repetitif meski beberapa poin alur  pencarian keluarga, usaha kabur dari "kurungan"  mencerminkan kemiripan. Stanton total mencurahkan ide kreasinya guna membangun petualangan penuh adegan imajinatif plus deretan humor-humor cerdas dengan keefektifan tinggi memancing tawa. Tidak peduli seberapa anehnya seekor gurita kebut-kebutan saya terpukau kala Stanton menggunakan slow motion serta iringan lagu What A Wonderful World sebagai penutup sequence. Begitu pula gelak tawa yang rutin muncul ketika Bailey beraksi layaknya cenayang  sambil bergumam "ooomm". Aneh, tapi keanehan berbalut pengadeganan kreatif juga visual unik itulah daya pikatnya.

Naskah karya Andrew Stanton dan Victoria Strouse masih mempertahankan jalinan drama keluarga, pula paparan isu tentang kesalahan manusia mengartikan "menyelamatkan" dengan "merusak" yang kembali menempatkan manusia sebagai ancaman terbesar di tengah ketiadaan sosok villain layaknya film pertama, walau akibat fokus pada hiburan, eksplorasi berujung tak seberapa emosional meski well-executed dan bukan hanya sepintas lalu. Sentuhan paling berkesan justru ada dalam pesan penuh makna seputar sosok Dory. Dia boleh saja melupakan banyak hal, tapi justru karena itulah, seperti kalimat andalannya "just keep swimming", tiada keraguan menyelimuti Dory sewaktu hendak melakukan sesuatu, seberapa gilanya hal itu. Bahkan saat Marlin dan Nemo tersudut, mereka berusaha memposisikan diri sebagai Dory, because "do something" is what she always does. Berangkat dari situ, saya makin terpikat oleh daya juang Dory, mendukungnya di tiap momen petualangan.
Berkaitan akan perjuangan karakternya, Stanton dan Strouse sukses menuliskan baris kalimat demi kalimat quotable yang saya cukup yakin nantinya bakal bertebaran di internet sebagai meme penebar pesan moral. Di samping itu, selaras dengan semangat mengusung suguhan menghibur, deretan pun (plesetan) menggelitik konsisten dituliskan Stanton dan Strouse. Serangkaian pun seperti "Don't be so Dory, Dory" merupakan bentuk kepiawaian duo penulis naskahnya merangkai kalimat-kalimat yang sejatinya "murahan" jadi terdengar cerdas, renyah dan sudah baran tentu amat lucu berkat kesempurnaan timing dan cara penghantarannya. 

Pada akhirnya Finding Dory belum berada di level setara Finding Nemo, tapi bukan masalah mengingat pendahulunya itu adalah masterpiece animasi. Berada setingkah di bawah bukanlah hal mengecewakan. Justru menganggap Finding Dory suatu kegagalan akibat ketiadaan banjir air mata ibarat merendahkan kapasitas Pixar, karena bukan itu belaka kemampuan studio animasi terbaik di Hollywood ini. Finding Dory telah berhasil melakukan apa yang tak mampu dilakukan dua film Cars maupun Monsters University, yaitu menyuguhkan kesempurnaan hiburan menyenangkan tanpa pernah melupakan pentingnya kekuatan penceritaan. There won't be a bucket full of tears here, but there will be laughter and so much joy. One of Pixar's funniest


STARIUM EXPERIENCE: Selayaknya suguhan animasi Pixar lain, Finding Dory dibalut visual memikat dan saya mereferensikan supaya menontonnya di layar raksasa macam IMAX, Starium maupun Sphere X. Untuk Starium sendiri, tekstur karakter sampai penggambaran lautan dapat dinikmati secara cukup detail, hanya saja tidak sampai pada tingkatan memukau, terlebih seputar kedalaman gambar yang biasa saja. Is it worth the money? Pretty much, but Sphere X or IMAX are a better choice. (3.5/5)

Ticket Sponsored by: Indonesian Film Critics

22 komentar :

  1. I like Monsters University. Y U do dis? :v


    *but i hate Cars 2 karena kurang terikat dengan ceritanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha maafkan, emang ngerasa kalau MU itu sepintas lalu

      Hapus
  2. Entahlah, aku kurang suka film-film Disney/Pixar. Aku selalu coba nonton film-film mereka (dari yang 2D macam Aladdin, Tarzan, Lion King sampai yang 3D macam Nemo, Toy Story, Inside Out, dll...), tapi setelah The Good Dinosaur dan Zootopia, aku memutuskan utk berhenti mengikuti film-film mereka lagi. Alasannya, film mereka terlalu standar, mainstream, predictable, seolah sudah ada template atau formula dalam setiap film mereka (tinggal ubah-ubah karakter, setting, jenis konflik, dll...). Disney/Pixar terlalu main aman demi kesuksesan komersial, tidak berani eksperimen. Aku lebih suka nonton animasi2 layar lebar Jepang macam Tekkonkinkreet, Ping Pong, Paprika, Mind Game, dll... Lebih fresh, lebih baru, inventif, orisinal. Seperti kata seorang kritikus Amerika yang saya lupa namanya: "Animasi Jepang telah mencapai bulan sementara animasi Amerika masih di zaman batu". Tak ada SATU PUN film Disney/Pixar yang menarik perhatianku, bahkan film-film yang katanya terbaik dari mereka macam Lion King, Toy Story Trilogy, Finding Nemo, menurutku biasa-biasa saja (mungkin lebih bagus untuk tontonan anak-anakku). Pada akhirnya, setelah aku nonton Zootopia, aku pikir, well, begitu begitu saja ya, mungkin waktunya akau berhenti mengikuti film-film mereka dan nonton kalau ada kesempatan saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Well benar animasi Jepang lebih berani main high concept & weirdness, tapi Disney & Pixar nggak sestandar itu kok, mereka pintar masukkan isu/kritik apapun secara subtil dalam ceritanya. (Zootopia tentang rasisme, Wall-E tentang lingkungan, etc.) Dan justru akhir-akhir ini film Disney/Pixar lebih "pantas" buat penonton dewasa daripada anak-anak. (The Good Dinosaur sukses bikin anak kecil ketakutan, & Inside Out susah dipahami). Secara konseptual memang sederhana tapi eksplorasi lebih banyak ke unsur emosional.

      Kenapa Hollywood nggak berani ke ranah seaneh animasi Jepang? Ya karena nggak bakal laku di penonton US sana hehe

      Hapus
    2. Anda merupakan penonton minoritas. Saya bisa pastikan, film-film yang sesuai selera Anda akan sangat jarang. Kabar baiknya, karena hal ini, Anda bisa berhemat.

      Hapus
    3. Penonton minoritas? How come? Lebih banyak rating positif yang saya kasih lho daripada negatif :)

      Hapus
    4. Mau mino mau mayo mau mayones...

      Hapus
    5. Itu komentar saya buat Mas Gogon.

      Hapus
    6. Wah, so sorry bro, salah paham hehe

      Hapus
  3. Yess, sekuel pixar yang nggak suck setelah Toy Story 2-3!
    Welp, tapi ane orang yang termasuk rada enjoy ama Monster University :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, semoga The Incredibles 2 juga oke, walaupun ragu sama Cars 3.
      Hehe untuk Monsters University saya emang "minoritas" kok, tapi kalau nonton lagi sekarang mungkin bakal puas, sama kayakk Finding Dory ini

      Hapus
  4. Udah saatnya sih untuk Pixar keluar dari zona aman, semoga Hollywood sadar kalo "Pixar" itu yg jadi nilai jual jadi kalo animasinya pun aneh tetep laku keras, dan berharap pixar bisa buat animasi "epic" kyk The Tale of the Princess Kaguya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalahnya shifting gear begitu bisa riskan buat branding sebuah studio. Apalagi 'The Good Dinosaur' kemarin itungannya rugi, jadi Pixar pasti lebih hati-hati lagi sekarang

      Hapus
  5. Tunggu besok kubo and the twostrings... mungkin bisa memenuhi ekspektasi highconcept a la jepang

    BalasHapus
  6. saya agak malu dsaat smw teman2 mngajak pasangannya nonton independence day yang superfantastic, sy malah ngajak istri nntn film ini. Tp ga nyesel percaya sm review Bang Acid. This movie is really touching that even in the middle of laughter I was crying! Mngkn ga se epic pendahulunya yg memang gbs dbandingkan krn itu merupakan 'pelopor'. Tp overall, like what you said ini cuma 1 tingkat dbawahnya. Mngkin buat saya setengah tingkat. Saya sangat puas. Dan adegan klimaks saat 'wonderful day', is really2 f*^kin' awesome. We'll never forget that. Pasti akan banyak beredar di youtube bagian scene itu. Thank you very much utk review2nya. Smg makin berkah ya bang. :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buat tontonan bareng istri/pacar film-film Pixar emang selalu pas.
      Wah amin amin, makasih udah jadikan tulisan saya referensi dan makasih juga doanya :D

      Hapus
  7. kayanya movfreak ini disney fanboy ya, semua film disney dapet rating bagus, bahkan yang jelek kaya finding dory aja dapet "sangat bagus" -_____-

    saya nonton finding dory setengah mati nahan ngantuk

    1. kerangka ceritanya terlalu mirip finding nemo
    2. joke-joke nya garing abis
    3. karakter2nya ga berkesan
    4. pertemuan dory dan orangtuanya gitu doang?
    5. jalan ceritanya bla bla bla, bertele-tele

    ga ada bagus-bagusnya, ga salah IMDb ngasih rating 7.7 (mungkin lebih cocok 7.0), dan saya semakin yakin RottenTomatoes itu maniak Disney, 94% ?? really?? that crap?? god

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maniak Disney? Really? Don't be that shallow dude :)

      Hapus
  8. ga ada kejutan lagi dari film2 disney, 1000% predictable, kaya antibiotik yang udah ga mempan, mungkin branding Disney yang malah bikin mereka stagnan

    BalasHapus
  9. Entah kenapa...
    Saya rada ga terlalu suka film ini...

    Jujur saya udah lama nonton film Disney/Pixar..
    Dan memang oke punya kualitas cerita, emosi, animasi, dan isu yang memang diatas rata2 dan juga cocok buat penonton dewasa...

    Tapi, Finding Dory punya cerita antiklimaks... bukan karena ga ada emosional scene. Malah ia punya isu seputar makna keluarga yang begitu penting...
    Tapi, dibalik itu semua, Stranton menjejal cerita yang dipaksakan. Entah disengaja atau tidak.... walau scene hank mengendarai mobil itu cukup unik dan menarik.. tapi buat saya scene itu terlalu berlebihan dan terlalu over. meski mau dibilang ini film animasi atau kartun juga...
    Yang nonton bukan anak2 tapi juga dewasa kayak saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalah anak-anak emang bener kok, Finding Dory itu semacam usaha Pixar kasih tontonan yang lebih bersahabat buat anak-anak setelah Inside Out yang rumit The Good Dinosaur yang brutal (dan flop)

      Hapus