20 FILM ASING TERBAIK 2025
Dan usai juga saya menyusun konten tahunan pamungkas untuk 2025. Sebuah tahun di mana akses terhadap film-film penyabet piala festival internasional bergengsi maupun kontender ajang penghargaan, biarpun masih cukup terbatas, sudah jauh lebih mudah didapat ketimbang tahun-tahun sebelumnya.
Tengok saja daftar pendek Best International Feature Film untuk Academy Awards 2026, di mana dari 15 judul yang terpilih, 14 di antaranya sudah tayang di Indonesia, baik dalam penayangan reguler di bioskop, pemutaran terbatas (KlikFilm sangat berjasa untuk ini), festival, hingga di layanan streaming. Hanya Palestine 36 yang masih absen, pun kabarnya, perwakilan Palestina tersebut bakal segera dirilis.
Tidak semuanya sempat saya saksikan karena berbagai alasan, namun fakta bahwa 2025 adalah tahun yang menyenangkan bagi pengalaman ber-sinema tidaklah berkurang.
Jadi ini dia daftar 20 FILM ASING TERBAIK 2025 versi Movfreak!
Cara Sunshine menangani perihal kehamilan remaja sejatinya tidak baru, tapi teknik pengadeganan Antoinette Jadaone memberi warna spesial. Bukan air mata yang coba dihasilkan dari penonton, melainkan pemahaman terkait isunya. Kapan Indonesia siap melempar diskursus perihal pro-choice seperti negara tetangganya ini?
Happyend bertindak selaku pengingat, bahwa segala bentuk perlawanan, tidak peduli sekecil dan seremeh apa pun, tetaplah perlawanan. Entah aktivitas menyuarakan "musik bawah tanah" yang dianggap mengganggu oleh para penguasa, atau sebatas mengusili kenyamanan hidup mereka.
Santosh secara tegas menawarkan solusi yang bisa diambil para aparat jika benar-benar menaruh kepedulian terhadap ketidakadilan yang dilakukan instansinya. Angka "1312" pun seolah menampakkan dirinya di wajah si karakter utama.
On Becoming a Guinea Fowl memotret bagaimana mestinya masyarakat bersikap saat ada perempuan bersuara. Satu suara kecil nan lirih pun bakal terdengar keras, pula berdampak besar, bila kita bersedia mengindahkannya.
Anora mengobrak-abrik pakem dongeng Cinderella, membawanya ke latar modern dengan ragam problematika yang lebih liar, dan tidak kalah penting, luar biasa menghibur. Mikey Madison layak menggenggam piala Oscarnya.
Lesbian Space Princess menghadirkan selebrasi liar sarat kebanggaan atas identitas diri, terutama lesbianisme, yang presentasinya sarat akan kreativitas audiovisual yang menolak menyisakan ruang bagi rasa bosan dan kemonotonan.
I'm Still Here ingin membuat penonton merasa terlibat langsung dengan rangkaian peristiwanya guna menciptakan keintiman, dalam kisah soal angkatan bersenjata Brazil, yang alih-alih memberi rasa aman, justru menebar ketakutan, dan bukannya menjaga malah menghilangkan nyawa.
Blue Moon tampil sebagai biopic dengan pendekatan non-konvensional, berisi tragikomedi memilukan penuh nada minor kehidupan. Ethan Hakwe membawa kompleksitas lewat akting yang membuat penonton serasa ditusuk ratusan jarum secara perlahan.
Cerita lintas masa milik All That's Left of You berguna memaparkan bagaimana pengalaman suatu generasi bukan cuma membentuk perspektif generasi tersebut, pula generasi di bawahnya. Termasuk bagi rakyat Palestina yang jadi korban cakar mematikan para zionis dengan segala keculasan dan tipu daya mereka.
Banyak blockbuster sebatas memikirkan cara mempertontonkan spektakel. Tidak keliru, namun Sinners menunjukkan bahwa ada metode pendekatan berbeda, di mana penceritaan dan penokohan ditempatkan di garis depan, terlebih dahulu dipatenkan sebelum melompat ke upaya menghibur penonton.
Sorry, Baby menangani isu soal kekerasan seksual terhadap perempuan dengan sensitivitas tinggi. Tidak ada bagian yang terasa eksploitatif, tiada pula adegan problematik atau kealpaan merangkai kata yang eksistensinya layak dipertanyakan. Sederhananya, semua terasa benar dalam film ini.
Train Dreams membicarakan pergulatan kefanaan "sang nobody" dengan guliran waktu, yang mengalun lirih & membuai lewat audiovisualnya, yang terkadang tampil bak versi modern dari karya-karya Terrence Malick.
Dreams (Sex Love) jadi satu dari sedikit film yang dengan sempurna merangkum rasanya jatuh cinta. Dipaparkannya bagaimana otak mempermainkan emosi kita, untuk menstimulasi fantasi bahagia sekaligus kecemasan berbasis asumsi liar. Lebih dari sekadar romansa, ia membicarakan koneksi antara pikiran dan jiwa.
Melalui Resurrection, Bi Gan membawa medium film, penciptanya, serta penikmatnya, “mewujud” sebagai satu kesatuan, dalam sebuah surealisme epik yang melahirkan mahakarya visual.
Meski berlatarkan dunia puisi, A Poet enggan terjebak dalam keharusan tampil puitis. Sebab ketimbang medium puisi itu sendiri, Simón Mesa Soto lebih tertarik memberi sorotan ke arah penciptanya. Mengenai para manusia yang melahirkan kata-kata, beserta hidup mereka yang tidak melulu puitis.
A Useful Ghost menyajkan keanehan sarat kreativitas yang dipakai menelusuri wajah kelam suatu negeri, penuh alegori yang mengasyikkan untuk dipecahkan, lalu berpotensi mengundang diskursus panjang.
Cerita The Life of Chuck tidak memenuhi kaidah logika, sebab kita memang tidak perlu memandangnya secara logis. Cukup resapi tiap momen dengan hati, rasakan, renungkan, lalu begitu kredit penutup bergulir, kalian akan duduk terdiam melihat ruang kosong yang nampak di layar, kemudian tanpa sadar berujar, "Hidup ini berharga".
Lewat No Other Choice yang masih penuh gaya ini, Park Chan-wook membicarakan suatu jenis mantra. Mantra berbahaya yang dapat menjustifikasi kesalahan, mengoreksinya sebagai sebuah kebenaran, bahkan menyihir orang baik menjadi iblis jahat. Mantra itu berbunyi "Tidak ada pilihan lain."
It Was Just an Accident adalah karya luar biasa yang ditutup secara luar biasa pula, melalui peleburan bahasa visual (membiarkan gambar bercerita tanpa penjelasan) dan audio (suara decitan tidak pernah semencekam ini), juga bentuk penceritaan nonverbal, yang uniknya, memiliki dampak emosi berkat tuturan bersifat verbal yang hadir beberapa menit sebelumnya.
One Battle After Another memberi potret dinamika dunia kita sekarang, di mana pertikaian terus lahir tanpa akhir dan konflik jadi santapan sehari-hari. Sebuah 162 menit penuh kekacauan yang berpotensi jadi bencana sinematik andai bukan ditangani oleh pengarahan jawara seorang Paul Thomas Anderson yang merevolusi genre aksi, memberinya ruang emansipasi dari tuntutan menyuguhkan hiburan tanpa isi.


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar