REVIEW - THE PERIOD OF HER
"Tiap menstruasi rasanya seperti dihukum", ucap salah satu protagonis The Period of Her, omnibus berisi empat cerita seputar perempuan karya empat sutradara. Kalimat di atas bertindak selaku benang merah. Bukan semata soal menstruasi, tapi bagaimana di Indonesia, keperempuanan seolah merupakan bentuk hukuman.
Di Serixad Patah Hati karya Linda Andriyani yang jadi segmen pembuka, dibarengi take panjang yang menghasilkan gambaran utuh atas latar lokasinya, yakni keriuhan persiapan acara kuda lumping, kita melihat keriuhan lain berupa patahnya hati Shela (Ika Dihardjo) kala menangkap basah perselingkuhan sang kekasih, Rendi (Rindang Arga).
Alih-alih dibanjiri penyesalan, Rendi justru menyebut Shela murahan karena "wis ora segelan". Biarpun pertengkaran pasangan ini dikemas dengan diksi banal yang terlampau menyuapi penonton, efektivitasnya dalam menyampaikan pesan terbukti efektif. Di mata masyarakat, hilangnya keperawanan melucuti harga diri perempuan, sedangkan tanpa keperjakaan, laki-laki malah mendapat puja-puji akan maskulinitasnya.
Sebagai anggota kelompok kuda lumping yang bertugas kesurupan, Shela pun mencetuskan ide unik guna membalas kelakuan Rendi. Ketika dunia nyata punya tendensi membungkam para perempuan, mistisisme memberi ruang aman untuk bersuara, biarpun ujungnya, slut-shaming terhadap mereka sering jadi efek samping kala kebejatan laki-laki diungkap. Pada akhirnya perempuan hanya memiliki satu sama lain guna bertukar manis-pahit kehidupan.
Sedangkan Romansa Keparat karya Praditha Blifa menyoroti keinginan Wati (Claresta Taufan) memiliki momongan, yang selama ini senantiasa berujung kekecewaan sewaktu menstruasi menyambanginya lagi dan lagi. Suaminya, Aan (Ben Bening), terus menyalahkan Wati, sembari menampik adanya kemungkinan bahwa dirinya mandul.
Terciptalah komparasi. Jika Wati (perempuan) ingin punya anak demi membagi cinta, maka Aan (laki-laki) hanya berhasrat memamerkan kejantanan. Sebagaimana yang ia tampilkan di Pangku, Claresta Taufan memamerkan kesubtilan seni peran, dengan ekspresi yang mengajak penonton bertandang memasuki isi kepala Wati yang diisi penolakan untuk tunduk pada ego laki-laki, bahkan takdir semesta.
Swim Swimming to the Shore karya Sarah Adilah membawa kita sejenak beralih dari latar Jawa ke Sulawesi, mengamati kegundahan yang dirasakan Annisa (Afiqa Kirana), tatkala keikutsertaannya dalam turnamen renang terancam pasca mendapatkan menstruasi pertama. Pasalnya, pihak sekolah mewajibkan siswi yang sudah balig untuk memakai hijab, yang mana bertentangan dengan standar pakaian turnamen tersebut.
"Terbuka salah, tertutup juga salah", keluh Annisa di satu kesempatan, yang menunjukkan keseimbangan perspektif filmnya. Kekangan sekolah atas tubuh perempuan mendapat kritik, begitu pula diskriminasi aturan turnamen terhadap pemakai hijab. Sekali lagi, menjadi perempuan di Indonesia terasa serba salah.
Tapi tidak ada yang salah dalam performa Afiqa Kirana, yang bersama Omara Esteghlal (Tinggal Meninggal), menyabet piala Best Performance di JAFF 2025 untuk seksi Indonesian Screen Awards. Kendati bibirnya lebih banyak membisu, sorot matanya menyuarakan perlawanan atas penyegelan kebebasan oleh kunci bernama seksisme.
Not Dead Enough garapan Erlina Rakhmawati hadir sebagai penutup menyenangkan lewat presentasi komedi gender-swap absurd miliknya. Alkisah, Kempes (Rendra Bagus Pamungkas) si suami mokondo, mendapati dirinya bertukar peran gender dengan sang istri, Watik (Yessy Yoanne). Kini, Kempes lah yang harus terkurung di rumah sementara sang istri kelayapan, terkekang perihal cara berpakaian, dan dipusingkan oleh "men" yang datang tiap bulan.
Segmen inilah yang paling sesuai dipresentasikan selaku bagian dari omnibus, mengingat humornya bakal segera terasa monoton andai dialihkan ke format feature. Tapi sebagai film pendek berdurasi sekitar 25 menit kejenakaannya luar biasa menghibur. Musiknya menambahkan bumbu penyedap melalui peleburan bunyi-bunyian gamelan dengan vokalisasi unik yang mewakili keheranan dalam benak protagonis (dan penonton) terhadap deretan peristiwa aneh yang filmnya munculkan.
Harus diakui, keterbatasan durasi berujung membatasi eksplorasi mayoritas segmen, pula dampak emosional yang mungkin dihasilkan. Tapi setidaknya keempat cerita The Period of Her berhasil mencapai tujuan paling mendasar, yaitu memberi ruang bersuara bagi perempuan ketika paham patriarki negeri ini acap kali membisukan mereka.
(KlikFilm)

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar