RAMS (2015)

Tidak ada komentar
Di Islandia, dengan populasi hampir dua kali lipat manusia  600.000 berbanding 330.000  domba turut memegang peranan penting bagi kehidupan masyarakat. Kemampuan domba bertahan di musim dingin dapat dimanfaatkan untuk produksi sandang pangan di negara "Tanah Es" tersebut. Salah seorang karakter film ini sempat mengatakan bahwa hidup seekor domba bergantung peternaknya. Apabila domba bahagia maka kehidupan masyarakat bakal penuh berkah, sebaliknya dapat berujung bahaya jika para domba tidak bahagia. Lalu apa yang terjadi saat sang peternak dirundung kecemburuan, amarah, berlaku curang, serta terlibat konflik satu sama lain?

"Rams" adalah pemenang penghargaan Un Certain Regard pada Cannes Film Festival tahun 2015 sekaligus perwakilan Islandia untuk Oscar tahun ini meski gagal lolos sebagai nominee. Kisahnya mengenai kakak beradik, Gummi (Sigurður Sigurjónsson) dan Kiddi (Theodór Júlíusson) yang sama-sama beternak domba, tinggal bersebelahan, namun sudah 40 tahun tidak bertegur sapa  komunikasi dilakukan lewat surat yang dikirim oleh anjing. Ketika penyakit scrapie ditemukan menjangkiti domba-domba di seluruh pedesaan termasuk kepunyaan mereka. Pertikaian keduanya memuncak tatkala Kiddi menolak memusnahkan peternakannya dan merasa semua itu adalah ulah Gummi, hasil kecemburuan akibat kalah dalam suatu kontes domba.
Seperti arthouse kebanyakan, 92 menit dalam "Rams" bergerak lambat, sepi, minim letupan emosi. Tapi ini bukan semata-mata bentuk sikap pretensius dari Grímur Hákonarson (sutradara, produser, penulis naskah), di mana terdapat substansi sebagai penguat dingin serta sunyinya Islandia. Kesunyian bertutur Hákonarson pun seolah mewakili sosok Gummi yang menyimpan rahasia sekaligus ibarat metafora hubungan saling mendiamkan Gummi-Kiddi. Dominasi sikap diam/mendiamkan karakter berujung pada kesubtilan tutur yang mengharuskan penonton aktif berusaha mencerna guratan emosi tokoh maupun konten sebuah adegan.
Sebagai sutradara, Grímur Hákonarson piawai menangani ketersiratan, sehingga tanpa perlu ungkapan verbal, makna rangkaian aksi-emosi dapat kuat tersampaikan. Hákonarson lebih sering membiarkan gambarnya bicara mengenai banyak hal termasuk memberi pemahaman pada penonton tentang bagaimana puncak pertikaian justru mengingatkan Gimmi dan Kiddi bahwa setelah sekian lama keduanya masih menyimpan kepedulian satu sama lain. It's all there, inside their expressions, gestures and behaviors. Sedangkan dalam peran selaku penulis naskah, Hákonarson mampu mengemas eksposisi berkenaan pemicu timbulnya konflik dua bersaudara tersebut tanpa harus menyita banyak waktu, cukup sepintas momen padat nan efektif.

This movie is quiet and mostly cold, but doesn't mean that it has no soul. Grímur Hákonarson masih sempat menyelipkan beberapa humor segar bersumber dari sikap eksentrik protagonisnya. Masih mengandalkan bahasa non-verbal, pilihan teknik deadpan comedy berujung keberhasilan Hákonarson menjauhkan inkonsistensi tone ketika humornya hadir. It's all about action, weird action, dan favorit saya adalah sewaktu Gimmi membawa Kiddi yang tak sadarkan diri ke rumah sakit dengan bulldozer. "Rams" adalah kisah saat masalah personal kecil berujung bencana besar bagi banyak orang. Kisah tersebut dipaparkan solid di tengah jalinan cerita mengenai keluarga disfungsional unik yang menggelitik.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar