UNTUK ANGELINE (2016)

8 komentar
Masyarakat Indonesia paling suka dua jenis kisah: kisah inspiratif mengharukan dan kisah tragis menyedihkan. Intinya kita senang dibuat menangis, mengasihani, pula dikasihani, tapi menolak berbuat sesuatu atau setidaknya mengambil sisi untuk bersuara. Itu pula yang terjadi dalam "Untuk Angeline", film debut penyutradaraan Jito Banyu dengan naskah hasil karya Laila "Lele" Nurazizah. Dari judulnya bisa ditebak bahwa film ini mengangkat cerita Angeline, bocah berusia 8 tahun yang kasus kematiannya menghebohkan pada pertengahan 2015 lalu. Sebuah topik yang apabila tidak ditangani dengan sensitifitas hanya akan menjadi eksploitasi tanpa arti.

Dikisahkan sepasang suami istri miskin, Santo (Teuku Rifnu Wikana) dan Samidah (Kinaryosih) tak mampu menangung biaya persalinan anak perempuan mereka. Hal itu mendorong Santo menjual sang puteri kepada pasangan kaya, John (Hans de Kraker) dan Terry (Roweina Umboh) tanpa persetujuan istrinya terlebih dahulu. Bayi perempuan itu kemudian diberi nama Angeline oleh John, dibesarkan penuh kasih sayang bak anak sendiri. Rasa sayang John untuk Angeline (diperankan Naomi Ivo dan Audrey Junicka) nyatanya menimbulkan kecemburuan Terry. Dia menganggap John tidak menyimpan cinta serupa pada hasil pernikahan sebelumnya. 
Membuat film berbasis tragedi nyata boleh saja dilakukan, dan terkait kasus Angeline begitu banyak sisi bisa digali termasuk proses persidangan yang beberapa kali muncul tanpa maksud pasti. "Untuk Angeline" bukan sebuah eksplorasi isu, cerminan realita, ataupun tribute, melainkan eksploitasi cerita sedih demi satu tujuan: mengalirkan air mata penonton. Lagi-lagi suguhan tearjerker pun sifatnya tidak haram, namun eksposisi konflik hingga pendalaman karakter seharusnya jangan dilupakan. Sedangkan dalam film ini, tiap sequence semata-mata dipakai untuk memperlihatkan siksaan demi siksaan yang Angeline terima dari sang ibu tiri dilengkapi iringan musik buatan Joseph S. Djafar yang bombastis, setia menggedor gendang telinga meski adegan di layar tidak menampilkan situasi dramatis.
Suatu ketika, Coen Brothers pernah menyatakan alasan mencantumkan kalimat "based on a true story" dalam "Fargo" adalah supaya penonton lebih bisa menerima keanehan yang dimiliki film tersebut. "Untuk Angeline" bagai mencoba jalur serupa, memanfaatkan status "berdasarkan kisah nyata" supaya kebodohan adegan maupun tingkah karakter dapat penonton toleransi. Lagi-lagi berbagai kesan bodoh hadir akibat upaya dramatisasi berlebihan termasuk supaya tokoh-tokoh semisal Terry dan Kevin nampak sejahat mungkin, tanpa peduli caranya terlihat menggelikan sekalipun. Adegan Kevin bermain piano sembari memasang "senyum iblis" mengiringi penyiksaan Terry terhadap Angeline bisa dijadikan contoh terbaik. Kalau itu sungguh terjadi, film ini sukses membuat hal nyata menjadi tidak bisa dipercaya.

Patut disayankan, karena "Untuk Angeline" bukan film sampah asal jadi tanpa memperhatikan teknis sinematik. Akting beberapa penampil cukup solid khususnya Kinaryosih yang mempunyai kedalaman alih-alih overacting dalam interpretasinya bagi penderitaan Samidah. Letupan emosi Teuku Rifnu Wikana menjelang akhir film berpotensi menyayat hati, sama halnya heartwaring performance dari Naomi Ivo yang bisa saja menggaet simpati andaikan penuturan filmnya lebih memperhatikan pembangunan konflik serta karakter. Menjelang kredit akhir, terdapat pernyataan bahwa "Untuk Angeline" bertujuan membangkitkan kesadaran penonton, tapi sepanjang saya cuma bisa merasakan ambisi mengeruk keuntungan hasil eksploitasi kesedihan nasib tragis seseorang. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID

8 komentar :

Comment Page:
Zulfikar Knight mengatakan...

A N O T H E R F A I L U R E

ri_O te mengatakan...

bener bangt bang kalimatnya...! "ambisi mengeruk keuntungan hasil exploitasi kesedihan nasib tragis seseorang" ��

Hendra Siswandi mengatakan...

Lagi lagi sebuah film tentang seorang anak yang berbahaya ditonton anak anak. Lagi lagi failed. Sabar ya Bang Rasyid :)

Rudi Pambudi mengatakan...

"ambisi mengeruk keuntungan hasil eksploitasi kesedihan nasib tragis seseorang" JAHAT :'(

Hanif Uke mengatakan...

Liat trailer nya aja pas kmren d bioskop udah ga minat...hahaha

Zulfikar Knight mengatakan...

"Untuk Angeline" bertujuan membangkitkan kesadaran penonton, tapi sepanjang saya cuma bisa merasakan ambisi mengeruk keuntungan hasil eksploitasi kesedihan nasib tragis seseorang."
.
.
SAVAGE af :v

Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

setuju gan, salah kaprah
bisa bisa aji mumpung untuk yg beginian

Angga Saputra mengatakan...

bang review film Me Before you dong..sya bru nonton tuh film menurut sya film itu lumayan ok juga..pengen tahu pendapat movfreak gmna..?