UANG PANAI' = MAHA(R)L (2016)

15 komentar
Uang panai' merupakan budaya yang menarik untuk dikulik. Sejatinya, pembayaran panai' adalah bentuk penghargaan calon mempelai pria terhadap wanita yang hendak ia nikahi. Namun banyak pihak beranggapan nominal uang panai' semakin terasa mencekik, terlalu tinggi dan dimanfaatkan sebagai ajang pamer sehingga melenceng dari esensinya. Mengangkat budaya tersebut, "Uang Panai' = Maha(r)l" yang digawangi oleh para sineas muda Makassar ini jadi menarik menengok potensinya mencuatkan satu isu sosial serta budaya lokal ke khalayak lebih luas. Walaupun timbul keraguan mengingat kualitas "film daerah" yang diputar di jaringan bioskop nasional mayoritas masih di bawah rata-rata. 

Sosok yang harus berurusan dengan uang panai' adalah Anca (Ikram Noer), pemuda Bugis yang baru kembali dari perantauan. Setibanya di kampung halaman, ia tanpa sengaja bertemu dengan Risna (Nur Fadillah) sang mantan kekasih. Meski empat tahun lalu ditinggal tanpa kabar, nyatanya Risna masih mencintai Anca, begitu pula sebaliknya. Keduanya menjalin romansa lagi hingga Risna meminta Anca menikahinya, padahal saat itu Anca belum berhasil mendapat pekerjaan. Anca makin terpojok tatkala keluarga Risna meminta uang panai' sebesar 120 juta rupiah.
Saya cukup dikejutkan dengan kemampuan "Uang Panai' = Maha(r)l" memberi hiburan pada separuh pertama durasi. Susunan lelucon dari naskah Amril Nuryan dan Halim Gani Safia mungkin jauh dari kesan cerdas dan memang tak memiliki intensi ke sana, tapi justru kebodohan berlebih itu daya pikat utamanya. Semangat absurditas di mana para tokoh menunjukkan kebodohan random di luar batas dieksploitasi. Berfokus pada kuantitas ketimbang kualitas membuat banyak humornya meleset, tapi bukankah keanehan hiperbolik selalu menarik disimak? Apalagi bukan cuma Tumming (Tumming) dan Abu (Abu) selaku idiotic comic relief duo yang memperlihatkan itu, pula Anca  saat kebodohan membuatnya sulit mendapat kerja  atau sang ibu dengan sikap antik plus penggunaan Bahasa Inggris seenaknya.

Permasalahan mencuat tatkala film mulai beralih konsentrasi menuju drama-romansa, mengesampingkan komedi. Percintaan Anca dan Risna mungkin salah satu romantika paling tak simpatik yang pernah saya saksikan. Anca tak ubahnya pecundang, mengacaukan berbagai kesempatan dan baru sukses mendapat kerja berkat bantuan (rahasia) Risna. Sulit mendukung perjuangannya mengumpulkan uang panai' saat pria tanpa kemampuan apapun ini kerap meninggikan harga diri daripada menjaga perasaan orang lain. Sedangkan Risna begitu egois, selalu menuntut keinginan tanpa memperhatikan logika dan realita. Sebagai wanita karir, tentu ia tahu keluarganya bakal meminta nominal panai' tinggi. Tapi Risna memaksa Anca menikahinya kala baru sebulan bekerja, lalu meragukan kesungguhan sang kekasih yang kesulitan mengumpulkan 120 juta walau tahu gaji Anca tak seberapa.
Kualitas drama bisa terbantu oleh kekuatan akting, sayangnya hal ini tidak dimiliki "Uang Panai' = Maha(r)l". Sewaktu menangani momen komedik, jajaran cast-nya tampak menikmati keharusan bertingkah bodoh, tapi beda cerita saat melakoni bagian dramatik. Beberapa kali saya dibuat terganggu oleh gestur tidak natural nan kaku dari Ikram Noer. Dia bergerak seolah karena keharusan, bukan refleks sebagai dorongan alami emosi dalam hati. Bahkan aktor pemeran ayah Risna (saya tidak menemukan namanya) sukses menyuguhkan tawa melalui akting marah yang sungguh menggelikan. 

Pesan yang coba diutarakan pun berakhir tidak jelas. Awalnya Amril Nuryan dan Halim Gani Safia nampak ingin melontarkan kritik, rasa tidak setuju akan lonjakan nominal tak masuk akal uang panai'. Namun entah karena takut mengkritisi adat atau kehabisan akal, konklusinya cenderung bermain aman. Alhasil, setelah menghabiskan terlalu banyak waktu  durasi hampir 2 jam jelas kepanjangan  berceramah lewat kata-kata mengenai "orang tua jangan mempersulit pernikahan dengan memahalkan uang panai'" atau "di Islam yang wajib adalah mahar", pemilihan konklusi tersebut membuat rangkaian pesannya terdengar bak omong kosong belaka. Patut disayangkan, "Uang Panai' = Maha(r)l" mengorbankan potensi komedi hanya demi balutan pesan berlarut-larut yang disuarakan penuh keraguan. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID

15 komentar :

  1. , saya kira film nya sangat bagus krn tiketnya selalu sold out... Tapi ternyata setelah mendengar riviewny,yah... Sesuai dgn apa yg ada di fikiran saya.. Pasti kualitadnya masih jauh dr ekspektasi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalahhnya jumlah penonton nggak selalu berbanding lurus sama kualitas :)

      Hapus
  2. Di Makassar, kota ane, ni film laku banget. Tiketnya sampai habis. Disini Tumming Abu memang terkenal sekali. Udah jadi pop culture nya Makassar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. I like them, absurd!

      Hapus
    2. Ane Bener2 kaget film "daerah" ini masih lebih baik (2 bintang) daripada film nasional lainnya macam Triangle, Untuk Angeline, Lasjkar, Langit Belitong yang dibawah 2 bintang di Movfreak.

      Hapus
    3. memang tenar sekali ni film selalu sold out tiket na

      Hapus
  3. Bang coba review film when harry met sally tahun 1989 dong 😄.. sejenis before sunset genrenyaa

    BalasHapus
  4. Mas, pernah nonton Kwaliteit 2?? Bikin review nya dong kalo pernah hehehe

    BalasHapus
  5. Hai Rasyidharry. Saya nominasikan blog anda untuk Sunshine Blogger Awards 2016: http://eigarebyu.blogspot.co.id/2016/08/the-sunshine-blogger-awards-2016.html

    Silahkan kunjungi postnya. Good luck. -Radira-

    BalasHapus
  6. 'Winter in Tokyo' sama 'Surat Untukmu'-nya Tio Pakusadewo belom di review ya Bro?

    BalasHapus
  7. Misi mas, numpang lewat mau ngasih tau aja masnya saya kasih nominasi buat Sunshine Blogger Awards 2016: http://itcaughtmyeyes.com/?p=1975

    Dicek boleh ya kak daripada tidur terus di kosan~~~

    BalasHapus
  8. Menurut ane filmnya keren, dari segi pengambilan gambar sangat kekinian. . . Cerita yang diambil memang sangat nyata yang terjadi di suku bugis jadi filmnya kena banget :v

    BalasHapus
  9. Yaps benar sekali, kekurangan film ini ada di akting para cast-nya (kecuali tumming, abu & ibunya ancha) yg kaku . Sy sempat merasa jenuh saat dipertengahan film yg mengfokuskan drama romansanya sampai-sampai bbrp kali sy melirik jam sy, tapi ke-absurd-annya tumming dan abu cukup menolong film ini XD

    BalasHapus
  10. Keinginan UP=M sebenarnya jelas, bhw kondisi kekinian adat lokal kita di Bugis dan Makassar sbg satu suku yg tak terpisahkan...., khususnya uang panai (yang sebenarnya itu bukan mahar melainkan biaya seluruh prosesi pernikahan) sangat ingin dikoreksi, namun kelihatannya secara total UP=M telah gagal!!!!

    BalasHapus
  11. Yah, review yg sangat membantu saya dalam mengambil keputusan, jadi atau tidaknya nonton film ini. :)

    BalasHapus