TALE OF TALES (2015) / WEINER (2016) / THINGS TO COME (2016)

2 komentar
Tale of Tales - Raja dan Ratu yang begitu mendambakan anak hingga bersedia memburu monster laut, seorang raja menemukan kutu raksasa lalu memelihara dan menyayanginya lebih dari sang puteri yang ingin segera dinikahkan, kakak beradik tua nan buruk rupa kebingungan kala sang Raja jatuh cinta setelah mendengar indahnya nyanyian salah satu dari mereka. Tiga kisah berbeda setting tersebut hadir silih berganti, hanya bersinggungan di awal dan akhir dalam adaptasi "Pentamerone", koleksi dongeng dari abad 17 karya Giambattista Basile ini. Jangan harapkan kisah happily ever after, sebab "Tale of Tales" merupakan dark fantasy penuh kematian, tragedi, pula ironi tentang cinta yang tidak berjalan semestinya.
Tercipta keanehan adiktif dunia fantasi. Ketika Raja Longtrellis (John C. Reilly) memburu naga, kombinasi sempurna antara practical effect, CGI secukupnya, dan suasana keruh bawah air membuatnya nampak lebih nyata dan meyakinkan dibanding Hollywood blockbuster dengan bujet ratusan juta dollar sekalipun. Sinematografi Peter Suschitzky turut menguatkan visual fairy tale-nya, semisal pada penampakan gadis berambut merah di tengah hutan. Naskahnya urung memperhatikan logika sebab-akibat maupun psikis karakter selaku pendorong tiap perbuatan. Tapi dongeng memang tak mengutamakan kompleksitas karakter, karena mereka sebatas alat demi menyampaikan pesan cerita. Film ini berhasil berpesan walau lewat cara yang twisted. (4/5)

Weiner - Menonton "Weiner" tanpa terlebih dahulu mengenal subjek beserta skandal dan resolusinya membuat dokumenter bergaya fly on the wall ini bak political thriller dinamis berbalut twist. Opening-nya memperkenalkan pada kita Anthony Weiner, anggota kongres New York yang begitu vokal, berapi-api menyuarakan hak rakyat kecil, membuatnya  meski kontroversial  disukai publik. Bagi penonton awam seperti saya, dia bagai politikus idaman. Lalu semua berbalik ketika pada 2011, foto celana dalamnya beredar di Twitter, mengubah Weiner dari pahlawan menjadi pesakitan mesum, memaksanya mundur dari kongres. Selang dua tahun, Weiner mencalonkan diri sebagai Walikota New York, kembali ke ranah politik.
Pada masa kampanye inilah eksplorasi filmnya berpusat. "Weiner" berlangsung dramatis, penuh naik-turun fase perjalanan Anthony Weiner, konstan memunculkan fakta mengejutkan sekaligus mempermainkan persepsi penonton akan sang titular subject. Duo sutradara Josh Kriegman dan Elyse Steinberg tidak banyak "ikut campur", membiarkan kamera bergerak menangkap kisah yang bagai sudah tertulis dengan sendirinya. Keduanya tidak memihak atau memojokkan Weiner, tidak pula menaruh simpati berlebih pada sang istri, Huma yang walau sekilas nampak seperti korban perilaku dan ambisi suami, isi hatinya tetaplah misteri. Kriegman merupakan mantan karyawan Weiner, sehingga memudahkan akses menangkap momen-momen personal seperti keheningan intens antara Weiner dan Huma selepas mendengar berita mengejutkan. (4.5/5)

Things to Come - Nathalie (Isabelle Huppert) adalah guru filsafat yang piawai membedah pemikiran para filsuf besar, menyaring pemaknaan atasnya. Tapi nyatanya kemampuan itu urung membantu Nathalie menghadapi setumpuk masalah hidup yang bergantian hadir. Sang ibu (Edith Scob) selalu menelepon pagi dan malam akibat panic attack. Buku karyanya kurang laku di pasar, sehingga tim marketing berusaha mengemasnya lebih komersil, suatu hal yang tak disukai Nathalie. Terakhir, suaminya, Heinz (Andre Marcon) mengaku telah berselingkuh. Ketiadaan putera-puteri yang telah dewasa membuat Nathalie hanya memiliki Fabien (Roman Kolinka), mantan murid kesayangannya yang kini tinggal di gunung, bergabung dengan komunitas filsuf radikal.
Kentalnya unsur perpisahan dan kehilangan tidak membuat Mia Hansen-Love selaku sutradara sekaligus penulis naskah mengusung nuansa depresif. Pengadeganan dinamis, pergerakan alur taktis (pelan tanpa harus menyeret), ditambah pencahayaan terang sinematografi Denis Lenoir menjadikan perjalanan Nathalie  yang berkat akting Isabelle Huppert terlihat bersemangat di luar namun kentara rapuh di dalam  tersaji ringan, mudah diikuti. Contohnya saat salah seorang tokoh meninggal, filmnya urung berdiam diri terjebak di kesedihan, bagai waktu yang terasa bergulir cepat dalam hidup. Mia Hansen-Love turut mempertanyakan makna kebebasan. Apakah suatu hal memang bentuk kemerdekaan atau penjara baru berupa ketidakmampuan? (4/5)

2 komentar :

Comment Page:
Iftikar Mukti mengatakan...

wah wah.... review tiga film sekaligus...

ada apa gerangan mas movfreak?

Rasyidharry mengatakan...

Namanya kejar setoran akhir tahun mas haha