JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL - KNIFE IN THE CLEAR WATER (2016)

Tidak ada komentar
Berdasarkan survei tahun 2010, penganut Islam di China sebesar 1,7%, hanya lebih tinggi dari Taoism (0,8%). Tidak mengherankan apabila media film masih jarang menjadikannya sentral cerita, sehingga debut penyutradaraan Wang Xuebo ini terasa menyegarkan, menyoroti sudut Negeri Tirai Bambu yang jarang diangkat ke permukaan. Bertempat di kawasan pegunungan di Provinsi Ningxia, "Knife in the Clear Water" berkisah mengenai Ma Zishan (Yang Shengcang), seorang pria tua yang istrinya baru meninggal dunia. Tentu ia berduka, namun ada alasan lain di balik kegamangan hati Ma Zishan, yakni persiapan peringatan 40 hari meninggalnya sang istri.

Bukan masalah ekonomi yang mengganggu Ma Zishan, melainkan kehendak anaknya (Yang Shengcang, aktor berbeda) menyembelih kerbau kesayangannya sebagai suguhan untuk para tamu. Setelahnya penonton diajak mengamati sang tokoh utama menenggelamkan diri dalam kesendirian, merenungi situasi. Naskah hasil tulisan Shi Shuqing, Wang Xuebo, Ma Jinlian, dan Ma Yue selaku adaptasi novel karya Shi Shuqing tak hanya menampilkan kesendirian karakter secara literal, tapi juga di tataran batin, sewaktu interaksinya dengan orang-orang di sekitar selalu berisi pertanyaan perihal acara peringatan. Tidak heran hati Ma Zishan makin tak menentu.
"Knife in the Clear Water" bukan ingin menggugat tradisi keagamaan, tapi memancing pertanyaan melalui ironi. Putra Ma Zishan begitu sibuk menyiapkan peringatan 40 hari, mencurahkan segala daya upaya bahkan meluangkan uang cukup banyak meski bukan tergolong keluarga berada. Kondisi kampung pun digambarkan tengah dilanda kekeringan. Timbul tanda tanya soal mereka yang hidup dan yang telah mati. Tepatkah segala pengorbanan bagi almarhumah dilakukan kala kehidupan sendiri sedang sulit? Pertanyaan lembut tapi tajam yang pantas direnungkan. 

Sayang, gagasan tentang hidup-mati tersebut  yang semestinya jadi poin utama  dituangkan terlampau minim, mendangkalkan eksplorasi. Filmnya justru lebih sering mengetengahkan kesendirian Ma Zishan, berusaha menyatukan penonton dengan rasa itu lewat penyampaian kesehariannya seperti mandi, berjalan seorang diri, atau sesekali merawat kerbau. Namun kedekatan sang protagonis dengan peliharaan kesayangannya itu hadir ala kadarnya, tidak cukup membuat penonton percaya apalagi turut merasakan ikatan keduanya. Kita hanya dibuat yakin Ma Zishan tengah dirundung kemuraman.
Wang Xuebo bertutur menggunakan gaya khas arthouse. Alur bergerak dalam tempo sangat pelan, penuh keheningan minim dialog, kamera statis, serta emosi "tertahan" nihil dramatisasi. Selain melelahkan, gaya ini adalah klise bagi sinema sidestream. Wang bagai terjebak klise, bahwa paparan "film seni" harus lambat dan berisi kontemplasi mengenai kesepian. That kind of treatment is getting repetitive and predictable. Untung konklusinya kuat berkat semburat emosi yang terpancar kuat dari mata berkaca-kaca Yang Shengcang saat karakternya membaca Al Qur'an di tengah kegelapan, semalam sebelum penyembelihan. Suatu momen sederhana yang intim sekaligus lebih efektif mempresentasikan isi hati sang tokoh ketimbang kehampaan sepanjang film.

Setting bukan sekedar panorama menghibur mata, melainkan serupa karakter yang ikut menyokong keseluruhan penceritaan. Sinematografi garapan Wang Weihua merangkum dua jenis setting. Indoor memaksimalkan pencahayaan ala pertunjukkan panggung lewat spotlight, menempatkan fokus di tengah layar, membiarkan sekelilingnya gelap supaya penonton memahami kesan terisolir Ma Zishan. Sedangkan outdoor banyak memunculkan kabut dan lahan kering guna memvisualisasikan buruknya kondisi tempat tinggal mereka yang masih hidup. 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar