MEREKA YANG TAK TERLIHAT (2017)

11 komentar
Sayang sekali Mereka Yang Tak Terlihat akan lebih ramai dibicarakan karena rekor MURI untuk "Film drama horor dengan pemeran karakter makhluk astral terbanyak" alih-alih sebagai horor terbaik karya Billy Christian (Rumah Malaikat, Tuyul Part 1, Petak Umpet Minako) sejauh ini. Mengesampingkan trik jump scare klise andalannya, Billy merangkai drama coming-of-age berbumbu dunia supernatural di mana penampakan jadi bentuk komunikasi dan hantu bukan semata ancaman, melainkan makhluk yang hidup berdampingan dengan manusia. Tentu itu dilakukan tanpa melupakan sentuhan horor lewat tampilan mereka.

Saras (Estelle Linden) mampu melihat hantu sedari kecil, tepatnya sejak sang nenek meninggal. Walau awalnya ketakutan, Saras coba terbiasa, apalagi kala beberapa arwah mulai berusaha menjalin komunikasi, entah sekedar curhat sampai meminta bantuan terkait persoalan yang belum tuntas. Di sisi lain kehidupan pribadi Saras jauh dari kemudahan. Bersama sang adik, Laras (Bianca Hello), Saras kerap terlibat perselisihan dengan ibunya (Sophia Latjuba) yang dituntut menghidupi kedua puterinya seorang diri hasil berjualan kue. 
Billy bersama Estelle Linden menyusun naskah Mereka Yang Tak Terlihat sebagai kisah coming-of-age. Bedanya, tumbuh kembang karakter dipengaruhi oleh hal-hal berbau mistis. Di balik itu adalah proses yang kita semua alami, seperti mendapati sisi kelam dunia yang ditunjukkan saat Saras memergoki tuyul sebagai pelaris warung bakso, memanfaatkan kelebihan demi menolong orang lain (atau hantu untuk film ini), hingga yang paling relatable yakni berdamai dengan keluarga. Pun isu seputar pergaulan remaja termasuk pesan anti-bullying turut disuarakan meski presentasinya tergolong standar.

Secara garis besar, film ini terbagi dalam tiga fragmen yang mengetengahkan hubungan Saras dan para arwah: persahabatannya dengan bocah laki-laki di masa kecil, curahan hati Dinda (Frislly Herlind) si korban penindasan, dan usaha penyelamatan yang dilakukan Saras. Ketiganya dijembatani konflik Saras dan ibunya. Masalahnya, dua tuturan awal kekurangan "magnet". Kisah pertama berlalu bagai tengah mendengarkan pembacaan cerita minim rasa akibat kurangnya penonton mengenal mereka yang terlibat, pun minim tensi ketika kejutan diungkap terlebih dahulu. Kisah kedua tertolong saat Dayu Wijanto kembali tampil meyakinkan lewat gestur, ucapan, dan tatapan mata yang penuh pancaran kasih sayang seorang ibu. 
Fragmen terakhir adalah bagaimana semestinya keseluruhan Mereka Yang Tak Terlihat digarap. Ketegangan, kengerian, kejutan, dan terpenting emosi berhasil disatukan. Penyutradaraan Billy mencapai puncaknya di sini, memainkan tensi melalui nuansa kekacauan bertempo dinamis pula mempertahankan kesan realistis berkat bantuan akting Estelle Linden yang meremukkan perasaan. Momen ini berpotensi jadi pengantar sempurna menuju epilog andai konklusinya dikemas rapi. Dengan sisa durasi terbatas, terlalu banyak hal dipaksa menyatu, menghasilkan aliran narasi berantakan. Dan pilihan ending-nya sungguh suatu cara malas guna memancing haru.

Upaya menciptakan sajian atmosferik belum sepenuhnya sukses, tapi keputusan menekan jump scare seminimal mungkin patut diapresiasi, sebab itulah senjata sekaligus kelemahan utama Billy Christian di karya-karya sebelumnya. Juga tidak seutuhnya gagal, karena tata suara yang memperdengarkan tangisan, erangan, sampai tawa hantu nyatanya lumayan mengerikan. Kalau eksploitasi penyiksaan dalam horor disebut "torture porn", maka parade 67 makhluk astral (entah jumlah ini tepat atau tidak) film ini, setidaknya pada setengah durasi awal adalah "ghost porn". Tak seberapa mengerikan, tapi cukup mengasyikkan. 

11 komentar :

Comment Page:
Muhammad Faisal Aulia mengatakan...

Dibandingkan Pengabdi Setan, perbedaan nya apa ya bang? Hehe ragu sm film ini

nouvaleka mengatakan...

Kalo cuman pny dana utk 1 tiket buoskop, mending ntn ini atau OFD bang? 😢

Ungki Haeri mengatakan...

Akhirnya karya Billy Christian dapet bintang 3 di movfreak....nunggu review Posesif mas Rasyid Harry katanya Cut Mini dapet peran selingkuhan Adipati (tidak tahu dalam hubungan asmara atau apa)

Rasyidharry mengatakan...

@Muhammad Faisal Aulia Kalah di semua sisi lah, alurnya, tingkat seremnya.

@nouvaleka Tergantung. Fans Screenplay bukan? Kalau bukan Mereka yang Tak Terlihat aja :)

@Ungki Haeri Hehe hampir 3,5 malah

Jackman mengatakan...

Trailernya cukup menarik
Tapi kok kaya sepi penonton ya?
Tayangnya terbatas cuma dibeberapa bioskop saja

Rasyidharry mengatakan...

@Jackman Karena jatah layar horor lokal masih diutamakan buat Pengabdi Setan, yang sampai hari ini masih konsisten 100 ribuan penonton per-hari. Filmnya Billy juga sejauh ini nggak seberapa laku

wins mengatakan...

Mark Felt kapan nih om?

Ezra Brillyantama mengatakan...

Om kalo cuma punya jatah satu film, mending geostrom apa blade runner ya?

Rasyidharry mengatakan...

@wins Mark Felt nggak tertarik. Dari review yang ada (mostly negatif), selalu kritik naskah, dan film macam Mark Felt ini kalau naskahnya jelek, bubar. Milih simpan uang :)

@Ezra Brillyantama Karena Geostorm jelek, mending Blade Runner, asal:
- Udah nonton film pertama
- Nggak berharap action
- Kuat nonton durasi 163 menit yang temponya pelan

Lirikraja.blogspot.co.id mengatakan...

Bingung nih mau nonton film horor lokal di bioskop. Sebenarnya Gue kangeng ama film horor indonesia yang berformat Omnibus. Btw, ada film horor lokal omnibus terbaru nggak?

Rasyidharry mengatakan...

Yang kedengeran baru 'Dongeng Mistis', itu juga tahun depan