Tampilkan postingan dengan label Bianca Hello. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bianca Hello. Tampilkan semua postingan
MAKMUM (2019)
Rasyidharry
Bagaimana cara menjadikan horor
pendek tentang gangguan hantu di tengah salat sebuah film panjang? Cukup
meragukan, apalagi ditambah keterlibatan Baginda Dheeraj Kalwani. Tapi proyek
adaptasi film pendek berjudul sama karya Riza Pahlevi ini rupanya lebih baik
dari perkiraan jauh di atas produksi Baginda Dheeraj lain, meski pencapaian itu
terbilang mudah selama film anda bukan sampah.
Kisahnya membawa kita ke suatu
asrama yang dikepalai oleh Rosa (Reny Yuliana), menggantikan Ibu Kinanti
(Jajang C Noer) yang terbaring sakit. Berbeda dengan sang pendahulu, Rosa
bersikap keras cenderung kecam pada para penghuni, khususnya Nurul (Tissa
Bianni), Nisa (Bianca Hello), dan Putri (Adila Fitri) yang dilarang pulang
selama liburan akibat gagal mendapat rata-rata nilai 8.
Seolah belum cukup sial, bukan cuma
teror pengurus asrama galak saja yang mesti diadapi, pula sesosok makhluk halus
yang dijuluki “Hantu Makmum” karena kerap meneror kala mereka menjalankan
salat. Adegan pembukanya langsung menunjukkan peristiwa gaib tersebut, tatkala
sutradara Hadrah Daeng Ratu (Mars Met
Venus, Jaga Pocong, Malam Jumat the Movie) sanggup mereka ulang nuansa
atmosferik film pendeknya.
Sampai suatu ketika datang Rini
(Titi Kamal), mantan penghuni asrama yang menawarkan diri menjadi mentor pasca
pekerjaannya sebagai perias mayat gagal menghasilkan uang, membuatnya diusir
dari kontrakan. Penokohan Rini menarik. Dia bisa melihat hantu dan tidak takut
pada mereka. Bahkan Rini berani “menghardik” makhluk tak kasat mata yang
berbuat iseng ketika ia sedang bekerja.
Jarang horor lokal mempunyai
protagonis semacam itu. Saya pun menantikan bagaimana duet penulis naskah Alim
Sudio (Ayat-Ayat Cinta 2, Dimsum
Martabak, Kuntilanak) dan Vidya Talisa Ariestya mengembangkan tokoh Rini
begitu ia memutuskan membantu anak-anak asrama menyelidiki teror hantu Makmum. Tapi
harapan tinggal harapan. Di sisa durasi, Rini tak ubahnya protagonis horor
kebanyakan yang hanya mampu kaget, takut, lalu kabur, dan praktis
menyia-nyiakan talenta Titi Kamal.
Potensi Rini pelan-pelan terkubur,
berakhir sebagai satu lagi karakter yang mudah dilupakan. Satu poin yang terus
saya ingat mengenainya adalah luka bakar di tangannya. Mengapa ia tidak
mengenakan sarung tangan? Mungkin itu takkan banyak membantunya memperoleh
pekerjaan di dunia tata rias (manusia hidup), namun setidaknya mengurangi
kecanggungan saat berjabat tangan dengan orang asing.
Bagaimana usaha naskahnya
melebarkan cerita delapan menit menjadi 95 menit? Awalnya semua berjalan baik,
malah menarik kala mitologi soal Kanzan, alias hantu-hantu yang gemar mengusik
ibadah salat, diperkenalkan oleh Ustaz Ganda (Ali Syakieb). Sampai Alim dan Vidya seolah melupakan pembangunan
tersebut, kemudian memperkenalkan twist yang
justru menciptakan kontradiksi mengenai asal-usul si hantu pengganggu.
Masih terkait penulisan, Makmum juga terjebak kebiasaan buruk
film kita, khususnya horor, yakni pemakaian baris kalimat yang asal
mencampurkan diksi santai dan baku, yang berakhir terdengar kaku. Paling mendapat
kerugian dari gaya bahasanya adalah Arief Didu sebagai Slamet si penjaga
asrama. Arief yang biasanya luwes, di sini bak terbebani. Masalah berbeda
menimpa Tissa Biani. Seperti biasa, urusan olah emosi, aktris muda ini piawai,
tapi pelafalan Bahasa Jawanya mengganggu akibat terkurung stereotip buatan
sinetron dan FTV.
Makmum sejatinya bukan sajian murahan. Poin pembeda dari produksi
Baginda Dheeraj lain yakni keberadaan beberapa teror yang efektif. Memasuki
horor ketiganya, Hadrah semakin cerdik memainkan atmosfer sembari meminimalisir
pemakaian musik. Urusan timing pun ia
membaik, terlihat jelas dalam “jump scare
lemari” yang didahului pembangunan mencekam sebelum ditutup gebrakan
mengejutkan.
Sayang, begitu dihadapkan pada
sekuen berintensitas tinggi yang menuntut kejelian mengolah dinamika,
sebagaimana di Jaga Pocong dan Malam Jumat the Movie, Hadrah masih
canggung. Baik dari pilihan shot maupun
gerak kamera (yang artinya juga tanggung jawab Rendra Yusworo selaku sinematografer)
seperti kekurangan daya. Alhasil, kualitas klimaks di mana kekacauan memuncak
terjun bebas, bergerak layaknya orang kelaparan.
Agustus 16, 2019
Adila Fitri
,
Ali Syakieb
,
Alim Sudio
,
Arief Didu
,
Bianca Hello
,
Dheeraj Kalwani
,
Hadrah Daeng Ratu
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jajang C. Noer
,
Kurang
,
Reny Yuliana
,
REVIEW
,
Tissa Biani Azzahra
,
Titi Kamal
MATA BATIN 2 (2019)
Rasyidharry
“Don’t change a winning formula”. Rocky Soraya menuruti petuah
tersebut. Sebab buat apa berubah, bila sebuah formula mampu membawanya meraih
rekor MURI sebagai sutradara pertama yang empat kali beruntun menghasilkan film
jutaan penonton? Alhasil, kecuali Suzzanna:
Bernapas dalam Kubur (2018), sejak The
Doll (2016) Rocky selalu menerapkan templat sama. Dia hanya perlu mengganti
nama karakter. Sisanya, dari konflik, twist,
hingga resolusi, nyaris tanpa perbedaan.
Begitu pula di Mata Batin 2. Hidup Alia (Jessica Mila) boleh mengalami perubahan
drastis pasca kematian adiknya, Abel (Bianca Hello), di tangan makhluk halus.
Tapi peristiwa seterusnya masih berkutat soal teror hantu terhadap sepasang
suami-istri, yang nantinya diketahui menyimpan rahasia. Rahasia yang oleh duet
penulis naskah langganan Rocky, Riheam Junianti dan Fajar Umbara, dijadikan bahan
baku twist khas opera sabun.
Pasangan itu adalah Laksmi (Sophia
Latjuba) dan Fadli (Jeremy Thomas), pemilik panti asuhan megah bak kastil
negeri dongeng, yang jadi tempat Alia menjalani kerja sosial dalam rangka
melangkah menuju hidup baru. Tapi bukan itu saja tujuan protagonis kita. Lewat
penerawangan yang didapat, Alia yakin panti asuhan tersebut memegang kunci
jawaban misteri kematian Abel.
Di sana pula Alia bertemu Nadia
(Nabilah Ayu), gadis dengan mata batin yang juga terbuka sepertinya. Berdua, mereka
menyelidiki teror sesosok hantu bocah yang mengirim pesan melalui suara-suara
di dinding. Suara itu lirih, berbanding terbalik dengan gebrakan-gebrakan efek
suara berisik yang gemar menusuk telinga penonton tiap beberapa menit sekali.
Sekecil apa pun kejanggalan terjadi, Mata
Batin 2 selalu menaikkan volume ke titik maksimum.
Tata suara garapan Khikmawan
Santosa cuma mempedulikan volume, hingga lalai mengatur agar dialognya mudah
didengar. Berkali-kali saya kesulitan mencerna kaliamt apa yang meluncur dari
mulut jajaran pemainnya. Sementara soal dampaknya terhadap teror, beberapa
momen dengan potensi kengerian cukup tinggi berujung kehilangan daya akibat
distraksi efek suara meledak-ledak filmnya.
Mata Batin 2 merupakan titik nadir seorang Rocky Soraya. Sebelum
ini, walau menerapkan pola mirip, Rocky kentara masih mencurahkan segenap daya
upaya. Kali ini, ketimbang presentasi kekhasan, Rocky bagai membuat parodi bagi
cirinya sendiri. “Film saya harus mengandung adegan kaca pecah, gerakan kamera
cepat, lalu ditutup banjir darah”,
mungkin begitu ia pikir. Mata Batin 2
begitu malas, berlawanan dengan karya-karya Rocky sebelunya, tak satu pun jump scare berhasil, apalagi melekat di
ingatan begitu durasi berakhir.
Metode menumpahkan darahnya pun serupa,
di mana salah satu karakter dirasuki arwah pembawa dendam guna membunuh orang
lain atau melukai diri sendiri. Caranya? Tentu saja memakai tusukan pisau
seperti biasa. Beruntung, momen gore penutupnya
lebih inovatif. Kuantitas banjir darahnya menurun, namun dampaknya lebih besar
berkat keberanian Rocky mengeskalasi tingkat sadisme.
Sialnya, keberhasilan parade
kekerasan film ini diganggu upaya memantik emosi lewat dramatisasi menggelikan
dilengkapi ceramah perihal “larangan membalas kejahatan dengan kejahatan”, yang
idealnya hanya dapat ditemui dalam sinetron religi bertema alam baka. Bahkan
penampilan solid Sophia Latjuba maupun Jessica Mila yang makin bisa diandalkan
sebagai scream queen tak kuasa menolong
konklusinya. Saya berharap Rocky mulai perlahan mencoba gaya baru. Tapi dengan
perolehan lebih dari 53 ribu penonton di hari pertama, tipis kemungkinan
harapan tersebut jadi kenyataan.
Januari 19, 2019
Bianca Hello
,
Fajar Umbara
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jeremy Thomas
,
Jessica Mila
,
Kurang
,
Nabilah Ayu
,
REVIEW
,
Riheam Junianti
,
Rocky Soraya
,
Sophia Latjuba
MATA BATIN (2017)
Rasyidharry
Sinema horor tanah air sedang marak oleh karakter dengan kemampuan melihat makhluk halus. Diawali Mereka Yang Tak Terlihat yang mengedepankan drama keluarga, diikuti Keluarga Tak Kasat Mata yang entah maunya apa, kini Mata Batin memilih meletakkan fokus pada penelusuran sisi supranatural yang didukung keterlibatan parapsikolog Citra Prima sebagai pemeran pendukung. Jarangnya perjalanan menyelami dunia lain demi memahami seluk-beluk mistik dalam film kita memberi potensi pembeda, yang sayangnya, kembali dikalahkan obligasi menyajikan repetisi trik-trik teror murahan, meruntuhkan perbedaan tersebut.
Bersama Davin (Denny Sumargo) sang kekasih, Alia (Jessica Mila) memilih pulang dari merantau di Thailand pasca kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan lalu lintas, demi menjaga adiknya, Abel (Bianca Hello). Gagasan kembali ke rumah masa kecil tidak Abel sambut positif, sebab di situlah pernah terjadi peristiwa traumatis, tatkala sesosok makhluk halus menyerangnya. Abel sendiri mampu melihat yang tak terlihat karena mata batinnya terbuka sejak lahir. Menolak percaya, Alia meminta Windu (Citra Prima), seorang paranormal, membuka mata batinnya. Tidak butuh waktu lama sampai Alia mengalami teror serupa Abel, yang makin lama makin berbahaya.
Dwilogi The Doll membawa Rocky Soraya menuju kemantapan gaya, yang dia terapkan pula di Mata Batin. Kekerasan berdarah di mana sekali tusukan pisau takkan cukup merenggut nyawa manusia tetap menjadi titik tertinggi, meski kali ini porsinya tak mendominasi babak akhir. Begitu juga pengadeganan berbasis kekacauan suasana yang mengandalkan gerak kamera dinamis garapan Asep Kalila, kolaborator langganannya sedari The Doll. Setidaknya Mata Batin tampil berenergi berkat kedua aspek itu, sekaligus memunculkan harapan, suatu hari kelak Rocky berminat membuat film slasher.
Bersenjatakan energi sedemikian tinggi, Mata Batin ibarat manusia dengan raga solid. Namun tidak jiwanya, ketika cara menakut-nakuti Rocky masih berkutat di metode penampakan gamblang bersuara berisik, ditambah desain hantu yang menganggap bahwa kengerian berbanding lurus dengan kerusakan wajah. Bisa efektif untuk beberapa penonton, tapi saat pengulangan-pengulangan ngotot dipertahankan, timbul kelelahan juga kebosanan. Pun klimaks "dunia lain" miliknya hadir tumpul bagai rumah hantu pasar malam murahan. Sial bagi Rocky, jump scare terbaik yang melibatkan kain putih belum lama ini sudah kita temui dalam Pengabdi Setan, sehingga dampaknya tidak sekuat harapan.
Citra Prima menuturkan rangkaian pemahaman terkait aturan serta ragam sisi alam gaib dan mata batin. Menarik disimak, tapi kesan "sekilas info" gagal ditampik karena kurang piawaianya duo penulis skenario, Fajar Umbara dan Riheam Junianti, menyusun informasi-informasi berharga tersebut menjadi struktur alur yang bisa membedakan Mata Batin dengan judul-judul bertema serupa di atas. Mengenai beberapa twist, naskahnya pun kedodoran. Ada yang meninggalkan setumpuk lubang logika menganga, ada pula yang bagai kurang akal dalam caranya mengungkap fakta (identitas perampok bertopeng).
Mata Batin sama sekali tidak buruk. Jessica Mila mulus merespon ragam situasi menyeramkan yang Alia alami, bukti dirinya pantas diberi proyek berkelas pasca rentetan film buruk sejak Pacarku Anak Koruptor. Seperti umumnya produksi Hitmaker Studios, tata artistik Mata Batin cukup memuaskan mata, termasuk segelintir efek visual yang walau jauh dari kata sempurna, sama sekali tidak memalukan. Mata Batin is not an embarassing effort, just repetitive, uncreative, and frustratingly boring.
Desember 01, 2017
Asep Kalila
,
Bianca Hello
,
Citra Prima
,
Denny Sumargo
,
Fajar Umbara
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jessica Mila
,
Kurang
,
REVIEW
,
Riheam Junianti
,
Rocky Soraya
MEREKA YANG TAK TERLIHAT (2017)
Rasyidharry
Sayang sekali Mereka Yang Tak Terlihat akan lebih ramai dibicarakan karena rekor MURI untuk "Film drama horor dengan pemeran karakter makhluk astral terbanyak" alih-alih sebagai horor terbaik karya Billy Christian (Rumah Malaikat, Tuyul Part 1, Petak Umpet Minako) sejauh ini. Mengesampingkan trik jump scare klise andalannya, Billy merangkai drama coming-of-age berbumbu dunia supernatural di mana penampakan jadi bentuk komunikasi dan hantu bukan semata ancaman, melainkan makhluk yang hidup berdampingan dengan manusia. Tentu itu dilakukan tanpa melupakan sentuhan horor lewat tampilan mereka.
Saras (Estelle Linden) mampu melihat hantu sedari kecil, tepatnya sejak sang nenek meninggal. Walau awalnya ketakutan, Saras coba terbiasa, apalagi kala beberapa arwah mulai berusaha menjalin komunikasi, entah sekedar curhat sampai meminta bantuan terkait persoalan yang belum tuntas. Di sisi lain kehidupan pribadi Saras jauh dari kemudahan. Bersama sang adik, Laras (Bianca Hello), Saras kerap terlibat perselisihan dengan ibunya (Sophia Latjuba) yang dituntut menghidupi kedua puterinya seorang diri hasil berjualan kue.
Billy bersama Estelle Linden menyusun naskah Mereka Yang Tak Terlihat sebagai kisah coming-of-age. Bedanya, tumbuh kembang karakter dipengaruhi oleh hal-hal berbau mistis. Di balik itu adalah proses yang kita semua alami, seperti mendapati sisi kelam dunia yang ditunjukkan saat Saras memergoki tuyul sebagai pelaris warung bakso, memanfaatkan kelebihan demi menolong orang lain (atau hantu untuk film ini), hingga yang paling relatable yakni berdamai dengan keluarga. Pun isu seputar pergaulan remaja termasuk pesan anti-bullying turut disuarakan meski presentasinya tergolong standar.
Secara garis besar, film ini terbagi dalam tiga fragmen yang mengetengahkan hubungan Saras dan para arwah: persahabatannya dengan bocah laki-laki di masa kecil, curahan hati Dinda (Frislly Herlind) si korban penindasan, dan usaha penyelamatan yang dilakukan Saras. Ketiganya dijembatani konflik Saras dan ibunya. Masalahnya, dua tuturan awal kekurangan "magnet". Kisah pertama berlalu bagai tengah mendengarkan pembacaan cerita minim rasa akibat kurangnya penonton mengenal mereka yang terlibat, pun minim tensi ketika kejutan diungkap terlebih dahulu. Kisah kedua tertolong saat Dayu Wijanto kembali tampil meyakinkan lewat gestur, ucapan, dan tatapan mata yang penuh pancaran kasih sayang seorang ibu.
Fragmen terakhir adalah bagaimana semestinya keseluruhan Mereka Yang Tak Terlihat digarap. Ketegangan, kengerian, kejutan, dan terpenting emosi berhasil disatukan. Penyutradaraan Billy mencapai puncaknya di sini, memainkan tensi melalui nuansa kekacauan bertempo dinamis pula mempertahankan kesan realistis berkat bantuan akting Estelle Linden yang meremukkan perasaan. Momen ini berpotensi jadi pengantar sempurna menuju epilog andai konklusinya dikemas rapi. Dengan sisa durasi terbatas, terlalu banyak hal dipaksa menyatu, menghasilkan aliran narasi berantakan. Dan pilihan ending-nya sungguh suatu cara malas guna memancing haru.
Upaya menciptakan sajian atmosferik belum sepenuhnya sukses, tapi keputusan menekan jump scare seminimal mungkin patut diapresiasi, sebab itulah senjata sekaligus kelemahan utama Billy Christian di karya-karya sebelumnya. Juga tidak seutuhnya gagal, karena tata suara yang memperdengarkan tangisan, erangan, sampai tawa hantu nyatanya lumayan mengerikan. Kalau eksploitasi penyiksaan dalam horor disebut "torture porn", maka parade 67 makhluk astral (entah jumlah ini tepat atau tidak) film ini, setidaknya pada setengah durasi awal adalah "ghost porn". Tak seberapa mengerikan, tapi cukup mengasyikkan.
Oktober 13, 2017
Bianca Hello
,
Billy Christian
,
Cukup
,
Dayu Wijanto
,
Estelle Linden
,
Frislly Herlind
,
horror
,
Indonesian Film
,
REVIEW
,
Sophia Latjuba
Langganan:
Postingan
(
Atom
)











