NAURA & GENK JUARA THE MOVIE (2017)

10 komentar
Adyla Rafa Naura Ayu. Baru berusia 12 tahun, puteri Nola Be3 ini telah merilis dua album sekaligus menjadi idola yang tepat di kalangan anak. Dikatakan tepat karena lagu-lagu Naura bukan bicara cinta, melainkan dunia masa kecil dari mimpi, persahabatan, sampai pesan penting soal anti-bullying. Jadi tepat pula ketika debut layar lebarnya ini diharapkan mampu mengobati kerinduan akan film musikal anak yang belum tentu setahun sekali menghiasi bioskop tanah air. Ditangani oleh Eugene Panji (Cita-citaku Setinggi Tanah), Naura & Genk Juara The Movie mengikuti pakem Petualangan Sherina, menghadapkan karakternya pada konflik pertemanan, adu kepintaran, juga ancaman para penjahat konyol.

Naura (Adyla Rafa Naura Ayu), Bimo (Vickram Abdul Faqih Priyono) dan Okky (Joshua Yorie Rundengan) terpilih mewakili sekolahnya mengikuti kompetisi sains pada acara Kemah Kreatif di Situ Gunung. Perselisihan timbul karena Bimo merasa modifikasi drone miliknya adalah yang terbaik sehingga lebih pantas memimpin tim daripada Naura. Tapi masalah lebih besar hadir dalam bentuk Trio Licik (Panjul Williams, Alfian, Dedy Ilyas) yang berniat mencuri hewan-hewan di penangkaran Situ Gunung. Bersama Kipli (Andryan Sulaiman Bima) si ranger cilik, Naura, Bimo, dan Okky mesti mengesampingkan perpecahan guna menggagalkan aksi Trio Licik.
Naura & Genk Juara The Movie bergerak sederhana sesuai formula, tapi serupa dinamika dunia anak, kompleksitas bukan bagian dari kebutuhan. Rasa riang gembira dibumbui beberapa nilai kehidupan mendasar. Skenario buatan Bagus Bramanti, Dendie Archenius Hutauruk, dan Asaf Antariksa memang menyisakan lubang problematika, semisal saat empat protagonis memilih menyerang Trio Licik alih-alih melapor pada ranger, yang dipaksa ada, semata demi peningkatan konflik utama sembari merampungkan konflik interpersonal. Di luar itu, naskahnya cerdik merangkum pesan-pesan guna membantu orang tua menyampaikan berbagai nilai bagi anak. 

Jika Naura-Bimo-Okky mewakili unsur persahabatan yang mengesampingkan ego sampai kecerdikan, maka Kipli, satu-satunya bocah di antara ranger mengajarkan perlunya kepedulian terhadap hewan. Rangkaian pembelajaran tersebut cukup jelas untuk diserap penonton anak, namun lembut tanpa kesan menggurui. Naura & Genk Juara The Movie adalah tentang proses belajar dari pengalaman nyata di dunia luar yang bersifat praktikal, menjadikannya penting mengingat kesempatan anak berinteraksi dengan alam menipis kala sistem pendidikan teoritis kurang aplikatif makin gencar dijejalkan. Klimaks berisi perlawanan bocah-bocah atas Trio Licik menggunakan karya mereka pun bisa dipakai memancing minat anak bekreasi dalam kegiatan belajar sambil bermain.
Di departemen musik, kolaborasi Andi Rianto bersama duo kakak-beradik, Mhala dan Tantra Numata berhasil mengkreasi deretan lagu yang takkan mudah hilang dari ingatan penonton seusai menonton. Dari keceriaan dalam Juara dan Mendengarkan Alam, Jangan Jangan yang bersemangat, sampai Bawakan Cerita Untukku yang hangat selaku ungkapan kasih seorang ibu berkat performa penuh rasa dari Nola Be3, semuanya catchy nan memorable. Walau eksekusi momen musikal tidak sepenuhnya mulus akibat kurang luasnya eksplorasi pengadeganan Eugene Panji. Karena semua nomor tarian didominasi anak kecil, patut dimaklumi saat tatanan koreografi tersaji belum begitu rapi, dan di sinilah kejelian sang sutradara mestinya lebih berperan, seperti saat menyelipkan satu sekuen animasi.

Harus berbagi porsi dengan para "Genk Juara" urung menghambat sinar Naura. Khususnya ketika melakoni nomor musikal, ia mengerahkan semua daya upaya, total baik dalam gerak maupun ekspresi. Bahkan kelemahan mixing suara yang tidak melebur natural, yang mana merupakan kekurangan terbesar film kita dalam mengemas adegan musik, tak kuasa menahan hentakan berenergi Naura. Bukanlah kejutan apabila suatu hari nanti, bocah ini bertransformasi dari bintang cilik menuju mega bintang, entah di industri musik, perfilman, atau keduanya. Naura & Genk Juara The Movie mungkin tidak akan menjadi fenomena layaknya Petualangan Sherina dulu, namun jelas salah satu musikal anak terbaik di masanya.

10 komentar :

Comment Page:
Anonim mengatakan...

Saya umur 25 tahun, punya semua lagu Naura. Meski lagu baru, namun terasa memorable karena lagu anak dengan lirik anak-anak pula (terlebih liriknya benar2 mengandung pesan). Saya juga niat nonton ini, untuk sekedar nostalgia masa kecil, dan syukurlah reviewnya overall positif. Makin gak ragu buat nonton. Thanks bang!

Rasyidharry mengatakan...

Sama-sama. Haha saya juga 25 tahun tapi nggak aware sama lagu-lagu Naura. Berkat film ini jadi tertarik

Ilham Ramadhan mengatakan...

wah makasih mas udah direview, sempat gak mau nonton ini karena berpikir ceritanya terlalu cheesy dan maksa (cinta2an dll)
kalau ringan2 gini, y berarti bisa jadi list nonton :D

Rasyidharry mengatakan...

Sama-sama. Surprisingly, sama sekali nggak ada sub-plot cinta monyet. Pure fun dunia anak seperti seharusnya :)

Redo Anggara mengatakan...

Admin review film INGRID GOES WEST katanya film nya lumayan bagus.

Rasyidharry mengatakan...

Soon, tapi short review, digabung beberapa film lain :)

angga 7 mengatakan...

pulang kerumah malah nyanyi lagu2nya, hahaha..
liriknya masih nempel di kepala.
btw yg bikin lagu itu vokalis numata kan??

Rasyidharry mengatakan...

Sama, semuanya catchy! :D
Bener, kakak-beradik Numata

lemonvie.net mengatakan...

mas rasyid.. saya denger dr komentar orang... ada adegan di film ini yg mendiskreditkan agama islam y? pas ada adegan yg mencirikan islami banget, tapi tokohnya dibuat sebagai tokoh berwatak buruk. kalau ada emang parah y? soalny saya denger si moviemaker sengaja menyelipkan pesan propoganda (kebencian) scara halus???

Rasyidharry mengatakan...

Nope. Penjahat ucap istighfar, tapi bukan dalam maksud merendahkan Islam. Sebatas ungkapan ekspresi, yang mana sering dilakukan orang-orang kita saat kaget/kesal. Mau orang baik/jahat, di masyarakat kita yang mana kultur Islam sudah sehari-hari, hal gitu pun ada. Apa itu artinya mengucap nama Allah sudah sedemikian ringan? Mungkin, tapi itu kondisi masyarakat kita, bukan salah film ini, dan jelas maksudnya bukan mendiskreditkan. Terlalu gampang menyulut amarah masyarakat kalau bawa agama