REVIEW - AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU!
Di tengah industri yang kerap memperlakukan genrenya bagai entitas kelas dua, Agak Laen: Menyala Pantiku! memberi definisi sejati terhadap istilah "blockbuster comedy". Bukan asal mencanangkan ambisi sampai membuatnya kehilangan identitas, tapi penegas bahwa komedi, di luar tugasnya sebagai spektakel pengocok perut, juga patut digarap secara sungguh-sungguh di segala lini, dari penceritaan hingga artistik.
Tahun lalu film pertamanya mengumpulkan lebih dari 9 juta penonton, dan sejak adegan pembuka berbentuk aksi bombastis, Muhadkly Acho selaku sutradara sekaligus penulis naskah, memastikan profit menggunung itu dimanfaatkan sebaik-baiknya. Perhatikan berbagai pilihan shot di sepanjang durasinya yang mencuatkan kesan "lebih mahal".
Sebagaimana semesta sinema Warkop DKI dahulu bekerja, Menyala Pantiku! tak punya kaitan dengan pendahulunya. Oki Rengga, Boris Bokir, Bene Dion Rajagukguk, dan Indra Jegel masih memerankan versi fiktif diri mereka, namun bukan sebagai pemilik rumah hantu, melainkan detektif kepolisian. Bukan pula detektif kepolisian biasa. Mereka berempat di ambang pemecatan akibat berkali-kali salah menangkap buronan.
Walau berbeda, pondasinya masih serupa film pertama. Kuartet jagoan kita tetap bergelut dengan masalah finansial keluarga, di mana kali ini Boris yang tengah menjalani proses perceraian, menerima tongkat estafet dari Oki untuk dijadikan figur sentral. Komparasi lain dapat ditemukan, yang bisa menciptakan identitas menarik bagi waralaba layar lebar ini, selama tak terjatuh menjadi repetisi di kemudian hari.
Setup-nya memerlukan waktu, tapi daya bunuh komedinya mulai menyala begitu para tokoh utama ditugaskan dalam misi penyamaran ke sebuah panti jompo, yang ditengarai jadi lokasi persembunyian seorang pelaku pembunuhan. Para lansia penghuni hingga jajaran karyawan, tidak ada yang lolos dari kecurigaan.
Ceritanya tidak mendobrak pakem police procedural, namun dipaparkan begitu rapi, menolak terlampau bersikap semau sendiri atas nama komedi, sembari disisipi misteri ringan berbasis aksi tebak-tebakan tentang identitas si pelaku pembunuhan, yang cukup untuk membawa alurnya terus menarik perhatian. Acho terlebih dahulu memastikan hal-hal filmis mendasarnya sudah terpenuhi, barulah kemudian melempar banyolan.
"Ketidakterdugaan" dijadikan prinsip. Apa pun bentuk komedinya, entah permainan kata melalui celotehan jenaka karakternya, maupun humor fisik termasuk sebuah perkelahian gila yang membuat panti milik Linda Rajagukguk (Ghita Bhebhita) semakin "menyala". Agak Laen: Menyala Pantiku! begitu jago mengecoh ekspektasi.
Hebatnya, biarpun film pertamanya sempat mengundang beberapa kontroversi di media sosial (sebuah kepastian tak tertulis yang menandakan suatu film Indonesia telah mengumpulkan banyak penonton), Menyala Pantiku! tetap tidak takut berjalan di "pinggir jurang" kala melontarkan leluconnya. Sebutlah saat lagu balada Terlalu Cinta kepunyaan Lyodra "dirusak" kesenduannya.
Tapi filmnya bukan semata ingin tampil sok liar. Beberapa keberaniannya turut didasari keprihatinan atas berbagai fenomena sosial negeri ini. Ide sinting berlatar musala yang mengkritisi sebegitu mudahnya seseorang mendapat status "ulama besar" hanya karena gaya berpakaian, atau pesan tajam mengenai "ada banyak cara untuk mengabdi" yang dipakai selaku konklusi, menandakan bahwa geng Agak Laen lebih dari sekumpulan orang konyol yang doyan berperilaku tolol.
Klimaks yang nyaris tidak eksis dan membuat saya terkejut filmnya tiba-tiba sudah sampai garis akhir memang mendatangkan sedikit ganjalan, tapi rasanya itu bukan sesuatu yang bakal diambil pusing oleh penonton. Tawa mereka berkali-kali meledak hebat, tepuk tangan pun terdengar bergemuruh mengiri kredit penutup. Agak Laen: Menyala Pantiku! mengingatkan betapa penting peranan film komedi lewat kemampuannya mendatangkan kebahagiaan bagi manusia.

.png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar