PETER RABBIT (2018)

14 komentar
Everyone is allergic to something nowadays”, demikian ucap Peter (disuarakan James Corden). Kebetulan kalimat ini mengundang paralel terkait tudingan bahwa film ini melakukan “allergic bullying”. Sebab di salah satu adegan, Peter dan teman-temannya memanfaatkan alergi blackberry yang diderita Thomas McGregor (Domhnall Gleeson) untuk melemparinya menggunakan buah tersebut. Fenomena ini memperlihatkan mengapa tontonan macam Peter Rabbit dibutuhkan. Sebuah film dengan satu-satunya tujuan adalah bersenang-senang, meski hiburan miliknya takkan awet di ingatan penonton.

Ketika hampir segala hal di dunia dipandang sebagai permasalahan, Peter Rabbit enggan peduli, tanpa takut menggelar petualangan anarkis yang bagai adaptasi Tom & Jerry.  Apabila Tom dan Jerry saling melempar meriam, maka Peter beserta saudara-saudaranya memasang perangkap listrik yang dapat membuat seseorang tersetrum hingga terlempar. Kedua tontonan itu pun sama-sama menampilkan karakernya dihantam pegangan garpu taman yang mereka injak. Bedanya, Peter Rabbit berani menunjukkan kematian  tokoh manusia secara on-screen.
Mr. McGregor (Sam Neill) yang amat membenci kelinci dan pernah membunuh ayah Peter lalu memakannya, mendadak tewas karena serangan jantung. Dia tewas kala memburu Peter yang kerap mencuri sayur serta buah di ladangnya. Baru sebentar hewan-hewan berpesta pora, datanglah Thomas, keponakan jauh Mr. McGregor yang mewarisi rumah tersebut. Thomas rupanya tidak kalah kejam dibanding sang paman soal memburu kelinci. Malang bagi Peter, keberuntungan bagi penonton, karena kemunculan Gleeson memperbaiki dinamika film yang sempat kurang stabil di awal.

Domhnall Gleeson menyimpan talenta komedi luar biasa melalui histeria komikal yang selalu berhasil menyentuh urat tertawa. Gleeson menjadikan Thomas sosok antagonis yang menyenangkan ditonton pula mudah disukai. Bukan hanya oleh penonton, juga Bea (Rose Byrne), pelukis yang selama ini melindungi para kelinci dari kejaran Mr. McGregor. Ya, Bea dan Thomas saling jatuh cinta. Peter yang selama ini merupakan kelinci favorit Bea pun cemburu, memfasilitasi naskah buatan Will Gluck (juga selaku sutradara) dan Rob Lieber berpetuah soal cinta. Bahwa cinta semestinya dibagi, disebarkan ke semua makhluk alih-alih jadi bahan obsesi diri sendiri.
Walau mengandung pesan, pemaknaan terhadapnya urung diposisikan selaku fokus terdepan. Peter Rabbit tetap menyimpan secuil momen hangat seputar keluarga, tapi bersenang-senang masih jadi tujuan utama. Film ini boleh berasal dari buku cerita anak yang dipublikasikan pertama kali pada tahun 1902, Will Gluck berusaha membuat filmnya sebisa mungkin terasa kekinian. Tengok saja penggunaan deretan lagu “Top 40” macam Feel it Still yang sekilas merupakan pilihan klise nan malas, namun efektif mendukung niatnya bersenang-senang.

Semakin brutal pertarungan Peter dan saudara-saudaranya melawan Thomas, semakin menyenangkan. Pula seiring bergulirnya kejenakaan aneh nan kreatif berbungkus kesempurnaan timing dari Gluck, turut bertambah daya pikat filmnya. Peter Rabbit bagai enggan menahan diri, menggila guna menghadirkan hiburan. Lagipula, ini sajian petualangan kental komponen slapstick tentang kelinci-kelinci yang bisa bicara dan mengenakan jaket (tanpa celana)? Jadi untuk apa menahan diri?

14 komentar :

Comment Page:
Satria Wibawa mengatakan...

Komedinya hit and miss sih..tapi lebih banyak hit nya sampek ngakak ngakak di bioskop ��

Aldi Lumbangaol mengatakan...

Jadi film ini worth it kah mas? Soalnya melihat trailernya, film ini kayak rip-offnya film Hop (yang sangat gue nggak suka itu).

Rasyidharry mengatakan...

Humornya beda sama Hop. Kalau demen Tom & Jerry pasti enjoy nonton Peter Rabbit

Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

cocok untuk anak?

Rasyidharry mengatakan...

Cocok dong, kan emang film semua umur :)

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Nonton "Peter Rabbit" emang karena suka film yang ngegabungin animasi sama dunia nyata kayak "Paddington" dan "Alvin And The Chipmunk". Btw apa komedi slapstick gak bahaya buat anak, Mas ?

Muhammad Faisal Aulia mengatakan...

Animation Sony dari sisi Penceritaan habis Emoji Movie semakin membaik ya. Semoga Spiderman into the verse juga bagus

Satria Wibawa mengatakan...

Komedinya ada yang hit and miss tapi banyak yang hit nya,ga berhenti ngakak sampai akhir

Rasyidharry mengatakan...

@Muhammad Lah? Kan animasi Sony habis Emoji baru The Star sama Peter Rabbit

@Satria True, yang hit bisa nutup kekurangan yang miss

Azmi Balqis mengatakan...

Udah nonton mas, dan buat hiburan ketawa sama anak2 sih, sangat oke

Rasyidharry mengatakan...

@Pramudya Nggak kok, tinggal gimana orang tua mendampingi dan monitor tontonan anak. Asal slapstick-nya "cartoonish" ya, macam Tom & Jerry atau Peter Rabbit. (Ini yang ngomong Rasyid Harry sebagai Sarjana Psikologi, bukan reviewer haha)

Kasamago mengatakan...

Ada aura Tom n Jerry nya.. kdg musuh kdng partner

Rasyidharry mengatakan...

Perangkapnya apalagi, jenis slapstick yang di kartun dipopulerkan sama Tom & Jerry

benny salim mengatakan...

Red sparrow ditunggu mas :)