MADAME X (2010)

Tidak ada komentar
Perfilman kita beberapa tahun terakhir bukan hanya kering film berkualitas tapi juga kering dalam inovasi genre film yang diangkat. Jika tidak drama pastilah horror atau komedi sex. Mungkin beberapa film berkualitas sudah berusaha menjamah area lain tapi pada dasarnya masih ber-genre drama atau romance. Untungnya orang-orang seperti Lucky Kuswandi dan produser Nia Dinata masih bersedia untuk bereksplorasi dalam kreasi film terbaru mereka ini. Mereka mengangkat tema superhero yang memang sudah mati suri di perfilman Indonesia. Bahkan superhero yang mereka angkat bukan superhero biasa tapi bisa dibilang "transgender superhero" karena jagoannya adalah seorang banci.

Adam (Amink) adalah banci yang bekerja di sebuah salon bersama dua sahabatnya, Cun Cun (Fitri Tropica) dan seorang banci juga bernama Aline (Joko Anwar). Di hari ulang tahunnya yang dirayakan kecil-kecilan, Adam mendapat seorang pelanggan bernama Bunda Lilis (Sarah Sechan). Saat itulah Bunda Lilis yang punya kemampuan meramal melarang Adam untuk mempelajari sebuah tarian misterius yang nantinya akan membahayakan nyawanya sendiri. Mesikpun begitu Adam tidak terlalu memikirkan ramalan tersebut. Malam harinya, mereka bertiga memilih dugem di sebuah club khusus waria.

Disanalah terjadi bencana yang tidak diduga. Club tersebut digerebek oleh Ormas Bogem pimpinan Kanjeng Badai (Marcell) yang memang terkenal sering melakukan pemberantasan pada kaum waria menggunakan kekerasan. Amink, Aline dan waria-waria lainnya diangkut ke sebuah truk dan dibawa pergi. Berawal dari situlah peristiwa-peristiwa yang tidak diduga oleh Adam baik yang menyedihkan maupun menyenangkan segera terjadi, yang mana akan membawa Adam kepada kehidupan baru sebagai seorang pahlawan super!

Film ini adalah salah satu film terlucu yang pernah saya tonton. Hampir segala aspek yang ditampilkan mampu memancing tawa, baik itu akting pemain, dialog, sampai berbagai spesial efek "murahan" yang disajikan semuanya mampu tampil begitu lucu dan menghibur. Untuk urusan akting, Amink yang sudah terbiasa menjadi banci terlihat tidak kesulitan mendalami karakternya bahkan sempat muncul celetukan ataupun banyolan yang terlihat begitu alami dan seperti sebuah improvisasi. Hal yang bisa muncul jika seorang aktor benar-benar sudah meyatu dengan perannya.
Tentu saja saya tidak terkejut Amink bisa melakukannya. Tapi lain halnya dengan Joko Anwar dan Vincent yang tampil sama baiknya. Joko Anwar bahkan sampai kemunculan terakhirnya masih tetap bisa memberikan gelak tawa saya yang terkeras. Sedangkan Vincent meskipun tanpa dialog sedikitpun dia tetap bisa bermain baik. Jangan lupakan pula akting Shanty yang diganjar piala "Best Supporting Actress" di 'Asian Film Awards'

Komedi yang ada juga tidak ketinggalan menyindir segala aspek di negeri kita ini. Memang film ini ber-setting disebuah negeri antah berantah, tapi segala hal yang terjadi disana terasa bagaikan sindirian bagi negeri ini. Mulai dari kehidupan waria yang terasa dipandang sebelah mata, sindiran kepada infotainment, sampai penggunaan kekerasan atas nama kebenaran dan Agama yang jujur sudah membuat saya muak. Semua itu dirangkum dalam rangkaian komedi cerdas dan sangat lucu tapi pesan yang ada berhasil diterima penonton dengan mudah.

Bicara film superhero tentu tidak bisa dilepaskan dari faktor special effect. "Madame X" menunjukkan apa arti dari kata "special effect" itu sendiri. Efek visual di film ini memang spesial tapi bukan dalam artian megah dan bertaburan CGI melainkan sangat cheesy dan terlihat murahan. Tapi hal itu sama sekali tidak membuat film ini terlihat buruk dan murahan karena pengemasannya yang memang spesial. Segala ke-cheesyan itu memang berbanding lurus dengan kekonyolan film ini dan terlihat memang disengaja tampil seperti itu. Selain efek, film ini juga mampu memunculkan sebuah scoring yang menjadi ciri khas dan musik tema dengan sangat enak didengar. Sebuah keberhasilan bagi departemen musik karena menciptakan musik tema yang lama tinggal di benak penonton bukan hal mudah.

"Madame X" tetaplah bukan sebuah film sempurna walaupun punya begitu banyak kelebihan. Yang paling terasa adalah di bagian dialog yang sering menggunakan kosakata banci. Jujur saya hanya menangkap sekitar 70-80% dari dialog yang diucapkan. Alangkah baiknya jika film ini dibuat sekuel atau film lain yang dibuat dengan menggunakan mayoritas dialog serupa, ditambahkan subtitle untuk mempermudah penonton awam seperti saya mengikuti dialog yang ada. Padahal mungkin dalam dialog tersebut tersisip juga pesan-pesan lain. Sayang kan kalau cuma karena penonton tidak paham bahasa yang diucapkan pesan tersebut jadi tidak sampai.

OVERALL: Sebuah film berkualitas yang unik dan amat sangat lucu, tapi sayangnya tetap tidak terlalu dilirik pasar lokal terbukti dalam ajang award pun film ini masih tidak berbicara banyak, padahal di ajang penghargaan tingkat Asia film ini sudah dilirik. Serendah itukah selera kita?

RATING:

Tidak ada komentar :

Comment Page: