THE AMAZING SPIDER-MAN (2012)

6 komentar
Pada tahun 2005 lalu Christopher Nolan datang dengan reboot bagi manusia kelelawar setelah Batman & Robin jeblok dari semua sisi baik itu finansial ataupun kualitas. Hal itu terasa wajar karena Batman layak mendapat film yang lebih baik, jadi setelah film buruk seperti itu sangat bisa dimaklumi saat dilakukan reboot. Jika dihitung juga jarak antara film terakhir dengan reboot-nya sudah delapan tahun dan jika ditarik lebih jauh lagi jarak reboot dengan film Batman pertama sudah 16 tahun, jadi memang waktu dan momentumnya sudah tepat. Toh film pertama yang disutradarai Tim Burton dulu masih belum terlalu melakukan eksplorasi terhadap asal usul Batman. Tapi lain halnya jika kita membicarakan tentang sang manusia laba-laba. Film terakhirnya yaitu Spider-Man 3 rilis baru lima tahun yang lalu, dan jika menengok perolehan uangnya juga termasuk bagus dengan mendapat $890 Juta di seluruh dunia dan merupakan yang tertinggi dibanding dua film pertamanya. Dari segi kualitas memang mengalami penurunan drastis dari film keduanya, tapi toh masih tidak bisa dibilang film sampah dan tidak terselamatkan layaknya Batman & Robin. Tapi akibat perselisihan Raimi dengan pihak studio akhirnya 10 tahun setelah film pertamanya dirilis sang manusia laba-laba mendapat reboot lewat The Amazing Spider-Man.

Meski disutradarai oleh Marc Webb yang membuat film favorit saya, (500) Days of Summer, keraguan dan rasa kurang antusias tetap saya rasakan. Tidak seperti film superhero lain macam The Avengers, The Dark Knight Rises hingga Man of Steel, The Amazing Spider-Man mendapat perhatian paling minim dari saya. Apalagi jika menengok fatka bahwa sebenarnya (atau sepertinya) sudah tidak terlalu banyak yang bisa digali tentang origin sang manusia laba-laba. Dalam pikiran saya paling yang akan saya dapat tidak jauh beda dari film karya Raimi yakni tentang Peter Parker yang tidak sengaja tergigit laba-laba dan mendapat kekuatan super, tidak akan ada kisah baru yang lebih dalam seperti petualangan Bruce Wayne di Batman Begins. Bedanya hanya kali ini sosok Peter Parker (Andrew Garfield) masih berada di SMA dan bukan berhubungan dengan Mary Jane melainkan Gwen Stacy (Emma Stone) yang dalam komiknya memang merupakan pujaan hati Peter yang pertama. Selain itu kita akan dibawa melihat kisah Peter sedari kecil yang tiba-tiba ditinggalkan kedua orang tuanya dan dititpkan kepada Paman dan Bibinya, Ben Parker (Martin Sheen) dan May Parker (Sally Field). 
Saat memasuki masa SMA Peter yang sedang menyusup kedalam gedung Oscorp sebagai pegawai magang Dr. Curt Connors (Rhys Ifans) tidak sengaja masuk ke laboratorium Curt Connors yang berisi banyak laba-laba hasil eksperimen yang tentu kita tahu akan menggigit Peter dan memberinya kekuatan super. Disisi lain Dr. Connors yang sedang melangsungkan eksperimen untuk membuat sebuah serum yang akan digunakan untuk regenerasi tubuh manusia justru menyuntikkan hasil eksperimen tersebut pada dirinya sendiri untuk menumbuhkan tangan kanannya. Memang tangannya tumbuh tapi Dr. Connors juga malah berubah menajdi The Lizard yang buas. Memang pada akhirnya saya merasa The Amazing Spider-Man tidak menawarkan banyak hal baru dibandingkan pendahulunya tapi ternyata film ini jauh lebih baik dari ekspektasi saya. Jajaran cast TASM membuktikan bahwa mereka adalah pilihan tepat dan memberikan semua kemampuan terbaiknya. Andrew Garfield bagi saya jauh lebih cocok memerankan Spider-Man dibanding Tobey Maguire. Saya bukanlah pengikut setia komiknya, tapi pernah membaca beberapa jilidnya dan merasa Garfield punya ciri-ciri fisik yang lebih mirip dengan Peter ataupun Spidey di komiknya. Begitu pula dengan karakterisasi Spider-Man yang disini terasa lebih tengil dengan seringkali melontarkan lelucon saat sedang beraksi. Tapi justru Spidey seperti inilah yang saya kenal di komik. Selain itu Emma Stone jelas cocok sebagai Gwen Stacy dan akan dengan mudah disukai oleh penonton.
Hubungan yang dibangun antara Peter dengan Gwen mungkin belum maksimal digali, tapi sejauh ini sudah cukup berhasil memberikan simpati. Hal ini akan mengarah pada pertanyaan "Apakah M.J. akan muncul?" dan "Apakah tokoh Gwen akan dimatikan?". Untuk pertanyaan pertama masih abu-abu, tapi untuk pertanyaan kedua saya rasa tinggal menunggu kapan dilakukan sama halnya seperti kapan Norman Osborn akan dimunculkan. Melihat bagaimana hubungan Peter-Gwen dan sosok Gwen yang lovable disini saya rasa momen saat Gwen nantinya akan dimatikan akan menjadi sebuah tragedi yang begitu efektif dan mengharu biru. Hal itu menandakan bahwa pembangunan hubungan romansa Peter-Gwen sudah berhasil. Hubungan antara Peter dengan paman dan bibinya juga tidak bisa dikatakan buruk. Sebuah momen saat Ben memarahi Peter adalah salah satu momen terbaik Martin Sheen disini, sedangkan untuk Sally Field adegan May di akhir film adalah salah satu yang terbaik. Sedangkan untuk karakter Dr. Curt Connors/ The Lizard mengingatkan pada Dr. Jekyll/ Mr. Hyde dan memang Rhys Ifans sendiri mengatakan bahwa basisnya dalam mendalami tokoh ini adalah dari Jekyll/Hyde. Selalu unik melihat sosok villain yang tidak murni jahat. Namun transofrmasi dari baik ke jahat yang terjadi pada The Lizard adalah akibat sebuah serum dan bukan sebuah masa lalu yang kelam. Itulah yang menyebabkan sosoknya kurang dalam. Tapi toh untuk menebar teror The Lizard sudah sangat baik dengan sosoknya yang menyeramkan dan intimidatif.

Untuk adegan aksinya memang tidak se-amazing judulnya, tapi bagi saya sudah cukup menghibur. Keseruan melihat The Lizard yang ganas dan sebenarnya jauh lebih kuat daripada Spidey dilawan dengan otak yang dipadu kekuatan super dari Spider-Man selalu jadi sebuah momen yang menyenangkan, meskipun adegan pertarungan klimaksnya masih kalah keren dibanding pertarungan didalam sekolah. Tapi keseluruhan untuk adegan aksi, The Amazing Spider-Man sudah memberikan hiburan yang memuaskan. Memang secara keseluruhan tidak ada yang benar-benar baru dan untold story yang dijanjikan tidaklah terlalu banyak, tapi setidaknya pergantian setting waktu menjadi Peter masa SMA, jajaran pemain dan sutradara yang diganti turut membuat filmnya menjadi tetap terasa segar dengan nuansa yang lebih remaja dan dengan berbagai selipan humor yang efektif ala film-film remaja. Menjadi lebih remaja bukan berarti TASM kehilangan kedewasaan, karena pada dasarnya ini adalah tentang perubahan remaja menjadi pria dewasa, dan Webb mampu menyajikannya dalam berbagai adegan yang menarik. Film ini juga meninggalkan banyak misteri dan hal-hal yang dibiarkan tak terjawab untuk kemudian membuat sekuelnya makin dinanti, dan mungkin bergabungnya Spider-Man dalam Avengers? Siapa tahu, karena sebenarnya beberapa misteri yang ditinggalkan dan tone ceritanya benar-benar mungkin untuk dimasukkan dalam Marvel Cinematic Universe. Jangan beranjak dulu saat filmnya selesai karena akan ada mid-credit scene yang sampai sekarang masih menjadi perdebatan tentang fakta sesungguhnya dari adegan tersebut. Overall bukan sebuah reboot yang gagal, masih menjanjikan berbagai hal yang tidak baru namun tetap menarik dengan beberapa penyegaran.

RATING:

6 komentar :

  1. Akhir-nya bro nonton juga nich TASM... wkwkwk...

    Mank sich gw juga gedek sama kata2 "reboot" apalagi baru kemaren film terakhir rilis... Tapi aneh-nya udah kaya gitu masih aja laku dibioskop... haha!!!

    BalasHapus
  2. Hehe berkat m-tix ni
    Yah gimana lagi walaupun reboot juga kalo denger nama Spider-Man pasti dah orang-orang pada rame

    BalasHapus
  3. Setuju bgt, pertarungan di sekolah lebih seru daripada pas di klimaks haha lumayan filmnya, masih lebih suka versi raimi sih, cuman not bad laah

    BalasHapus
  4. Iyatuh pas disekolah seru, lumayan tegang sama ditutupnya keren pas Spidey ngelempar si Gwen :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. gw juga mau ngelempar si Gwen n diem2 ngendep masuk ke kamar Apartemen-nya kayak Peter... Haha!!!!

      LOL

      Hapus
    2. Diem2 masuk kamarnya? Itu antara Peter Parker atau Edward Cullen dah haha

      Hapus