THE KING OF COMEDY (1983)

4 komentar
Film ini dibuat pada masa dimana Martin Scorsese dan Robert DeNiro sedang berada di puncak masa jaya dalam kolaborasi mereka. Selama tiga dekade mulai dari 70-an sampai tahun 90-an keduanya memang begitu sering berkolaborasi dan menghasilkan berbagai film hebat. Dalam kurun waktu sekitar 23 tahun tersebut Scorsese dan DeNiro sanggup menghasilkan delapan film yang sukses meraih 21 nominasi Oscar meski hanya berhasil memenangkan tiga piala. Ya, sebelum berkolaborasi dengan DiCaprio yang sampai sekarang sudah menghasilkan empat film (hampir lima, The Wolf of Wall Street rilis tahun depan) Scorsese dan DeNiro lebih dulu dikenal sebagai kolaborasi aktor-sutradara yang sukses. The King of Comedy sendiri adalah film pertama dari mereka berdua yang mempunyai unsur komedi didalamnya setelah dalam kolaborasi sebelumnya unsur crime menjadi unsur yang sangat dominan. Tapi sebenarnya The King of Comedy sendiri masih tidak lepas dari unsur kriminalitas dan komedinya sendiri adalah komedi hitam dengan suasana film yang bisa dibilang cukup miris. Film ini berkisah tentang Rupert Pupkin (Robert DeNiro) yang sedang merintis karir sebagai seorang stand-up comedian. 

Rupert selama ini adalah seorang pemburu tanda tangan selebritis dan sudah mempunyai begitu banyak koleksi. Tapi mimpi sebenarnya dari Rupert adalah menjadi stand-up comedian terkenal. Sampai suatu hari saat Rupert sedang berada di lokasi syuting sebuah talk show yang dibintangi oleh Jerry Langford (Jerry Lewis) terjadi sebuah insiden dimana salah seorang fans berat Jerry yang sedikit gila, Masha (Sandra Bernhard) nekat masuk kedalam mobil Jerry. Saat itulah Rupert mencoba mengendalikan situasi dan akhirnya berhasil "menyelamatkan" Jerry dan ikut masuk kedalam mobil sang bintang. Disitulah Rupert merasa bahwa jalannya menjadi sukses mulai terbuka. Rupert yang begitu naif dan polos yakin bahwa Jerry bisa membantunya menjadi terkenal dengan tampil di acara talk show yang ia bawakan. Tapi kenyataan memang tidak semudah dan seindah mimpi Rupert. Entah sudah berapa film yang mengangkat tentang mimpi karrakternya untuk menjadi selebirits. Semuanya diakhiri dengan cara yang berbeda. Ada yang di akhir sang tokoh utama berhasil, namun ada juga yang gagal. Tapi sejauh ini tidak ada yang tampil dengan begitu menyedihkan dan penuh ironi menyakitkan seperti ini.

Film ini adalah sebuah gambaran tentang berbagai hal yang berkaitan dengan ketenaran. Dalam karakter Rupert Pupkin ada gambaran tentang orang biasa yang punya mimpi untuk bisa menjadi terkenal dengan jalan yang bisa dibilang mudah. Rupert sangat berharap Jerry bisa membantunya meraih kesuksesan dan memberinya tempat dalam acara talk show yang ia bawakan. Rupert bersikeras supaya Jerry mau mengakui kemampuannya begitu saja dan memberikannya sebuah posisi dalam acara tersebut. Bahkan saat video rekamannya ditolak dan Rupert diminta mengasah pengalamannya dulu di acara-acara kecil ia menolak. Yang ia mau adalah langsung tampil di acara besar yang dipandu oleh Jerry Langford. Tapi disisi lain, sosok Jerry Langford juga menggambarkan sosok seorang selebritis yang berada dalam puncak ketenaran. Seringkali ia terlihat tidak ramah bahkan mungkin sombong tapi hal tersebut serta merta juga diakibatkan kesibukannya yang luar biasa. Dalam The King of Comedy, sosok ini digambarkan tidak hanya sekedar sebagai selebritis yang sombong dan termakan popularitas, tapi kita dapat melihat bahwa semua itu adalah akibat dari berbagai tekanan yang ia terima. Mungkin Jerry melakukan hal yang salah saat tidak melihat rekaman yang dikirim Rupert, tapi ia bukannya tanpa alasan. Dalam The King of Comedy kedua sosok diatas tidak ada yang dipersalahkan karena mereka memang punya alasan dan kehidupan masing-masing.
Rupert Pupkin juga adalah gambaran menyedihkan tentang pria berusia 34 tahun yang kehidupannya erat dengan kesendirian. Dia tidak mempunyai sahabat, wanita yang ia suka menolaknya dan karirnya tidak terlihat cerah. Rupert menjalani semuanya sendiri dan sungguh menyedihkan melihat nasibnya. Sosok yang begitu naif dan mengira semuanya akan berjalan dengan mudah. Dia mengira dengan berbicara langsung dengan Jerry Langford maka kesuksesan sudah pasti di tangan. Dia mengira dengan menculik Jerry Langford dan tampil di acara tersebut kesuksesan akan dengan mudah ia raih. Rupert tidak pernah memikirkan segala hal dengan konsekuensi dan detailnya. Yang ia lihat adalah semuanya akan berhasil dan baik-baik saja. Setidaknya memang itulah yang terjadi dalam mimpi-mimpinya. Semua itu didasari oleh kepolosoan yang dimiliki Rupert. Dia menjalani semuanya dengan tawa dan senyuman yang terasa begitu miris dan menyedihkan. Penonton tahu bahwa semuanya tidak akan mudah bagi Rupert, tapi penonton terus diperlihatkan sosok Rupert yang begitu yakin bahwa semuanya akan berhasil.Melihat Rupert bagaikan melihat sebuah gunung berapi yang sudah begitu dekat dengan erupsi namun akhirnya tidak meledak. Bagi yang berharap film ini akan berakhir dengan meledaknya kegilaan dan segala emosi Rupert mungkin kecewa, karena pada akhirnya semua hal tersebut masih tersimpan erat dalam diri Rupert, entah akan meledak atau tidak.

Melihat perjalanan Rupert, kita akan merasa bahwa kenyataan dan mimpi seringkali batasannya sangat tipis. Saat seseorang benar-benar tenggelam dalam impiannya, bisa jadi mimpi tersebut akan semakin terasa nyata. Hal itu jugalah yang menimpa Rupert dan akan berujung pada sebuah adegan menarik saat ia dan Rita berkunjung ke rumah Jerry. Pada akhirnya hal itu jugalah yang mengantarkan penonton pada perdebatan mengenai ending-nya yang mengingatkan saya pada ending film Taxi Driver yang juga hasil kolaborasi Scorsese-DeNiro. Robert DeNiro yang saat film ini rilis baru berumur 40 tahun bermain baik meski tidak menghasilkan nominasi Oscar. Sosoknya terlihat begitu menyedihkan namun benar-benar menggambarkan nuansa komedi hitam yang diusung oleh film ini. Memang Rupert menyedihkan namun terkadang nasibnya itu bisa menghadirkan senyum simpul dan miris di wajah penonton. Saya sendiri sangat menantikan momen dimana Robert DeNiro melakukan stand-up comedy di film ini, dan hasilnya memuaskan. Saya yang kurang cocok dengan lawakan di stand-up comedy beberapa kali tertawa mendengar lawakan yang ia bawakan. Overall, The King of Comedy adalah sebuah film yang benar-benar menawarkan manis dan pahitnya sebuah hidup yang berisi perjuangan karakternya. Mungkin film ini salah satu kolaborasi Scorsese-DeNiro yang paling dilupakan, tapi bagi saya pribadi ini adalah salah satu karya terbaik Martin Scorsese.


4 komentar :

  1. Anonim8:12 PM

    After Hours sama The Last Temptation of Christ juga termasuk filmnya Scorsese yg dilupakan. Padahal bagus tuh film.

    Deno

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe belum nonton dua-duanya

      Hapus
  2. Anonim5:54 PM

    film scorsese yang kurang terdengar,, baru tau di imdb dan di situs ini
    gra2 nih film jadi makin suka ama filmnya scorsese,, biasanya orang kenal scorsese dengan film2 yang bertema crime dan ada unsur thrillernya,, beda dengan hugo dan nih film,
    klo suka drama komedi yang gak ribet gak rugi nonton nih film....

    slam dari penggemar movie Ical...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya emang agak berbeda dari kebanyakan film Scorsese dari segi cerita. Tapi kalau diperhatiin lebih detil tema sama karakter yang disorot tetep khas Scorsese kok :)

      Hapus