REVIEW - THE BRIDE!
Di Bride of Frankenstein (1935), meski namanya terpampang di judul, "sang pengantin perempuan" hanya muncul sekitar lima menit di penghujung cerita. Dia tak ubahnya alat bagi si monster laki-laki untuk merasakan cinta kemudian patah hati. Dari situlah eksistensi The Bride! buatan Maggie Gyllenhaal memiliki makna, yakni mengubah "The Bride" dari entitas nihil identitas menjadi makhluk yang utuh.
Film orisinalnya membawa elemen meta ketika mengawali durasi dengan menampilkan Mary Shelley menarasikan ide untuk kelanjutan dari novel Frankenstein; or, The Modern Prometheus buatannya. Ada sekat antara fiksi dan realita. The Bride! hadir lewat pendekatan kreatif yang memburamkan batasan keduanya, tatkala memposisikan Mary Shelley layaknya arwah yang merasuki jiwa tokoh utamanya.
Sebelum kematiannya, Ida (Jessie Buckley) mendadak bertingkah aneh di hadapan para laki-laki yang memandangnya selaku objek hiburan. Kepatuhan serta sopan santun lenyap, kata-kata manis dari mulutnya pun digantikan celotehan tajam. Semua terjadi pasca "hantu" Mary Shelley (juga diperankan Buckley) tiba-tiba memasukinya. Di mata Maggie Gyllenhaal, Mary Shelley bukan sebatas novelis, namun personifikasi dari gagasan feminisme.
Sayang, Ida mesti membayar pemberontakan kecil tersebut dengan nyawa, karena ucapannya menyinggung Lupino (Zlatko Burić) si bos mafia. Kemudian kisahnya mengalihkan fokus pada monster buatan Victor Frankenstein, yang setelah hidup ratusan tahun, mengadopsi nama sang pencipta. Kini dia dipanggil "Frank" (Christian Bale).
Frank yang kesepian, meminta bantuan Dr. Euphronious (Annette Bening) supaya dibuatkan "teman". Mayat Ida pun mereka gali, lalu coba dihidupkan kembali untuk dijadikan calon pengantin bagi Frank. Jika Jacob Elordi dalam versi Guillermo del Toro tahun lalu maupun Boris Karloff di judul klasiknya memotret sang monster sebagai figur tragis, Bale memberi interpretasi yang sedikit berbeda.
Sang aktor mengedepankan sisi yang lebih canggung, cenderung ramah, pula manusiawi. Wajar. Frank bukan lagi monster kemarin sore. Dia telah mengitari dunia selama lebih dari seabad. Ketimbang anomali dunia, Frank tak ubahnya pemuda dengan kecanggungan sosial yang bergulat dengan insekuritas akibat terlalu sering dihakimi masyarakat.
Di sisi lain, Ida yang sekarang menyandang identitas "The Bride" justru lebih liar. Masih dirasuki arwah Mary Shelley yang piawai merangkai kalimat, The Bride bicara layaknya mesin kosakata. Ucapannya tak terkendali, mewakili hasrat perempuan untuk bebas berbicara setelah sekian lama terpenjara. Jessie Buckley tampil 1000% dalam tiap situasi, mengeksplorasi ragam gestur dan ekspresi khas seni peran panggung, yang bakal dicap "berlebihan" oleh segelintir penonton yang gagal memahami cabang keilmuan itu.
Tidak butuh waktu lama bagi dua protagonisnya guna mengobrak-abrik tatanan ibarat Bonnie dan Clyde versi monster. Kepanikan massal pun pecah setelah wajah keduanya terpotret di TKP sebuah pembunuhan. Hubungan The Bride dan Frank merepresentasikan konsen. Mereka menggila bersama, bukannya secara sepihak tanpa persetujuan si pasangan, yang semasa hidupnya, jadi rutinitas pahit yang Ida kerap saksikan bahkan alami sendiri.
Kemunculan The Bride memercikkan api perlawanan. Banyak perempuan mengenakan riasan serupa dirinya, kemudian menyulut perlawanan secara terang-terangan terhadap persekusi oleh laki-laki. Sayang, naskah buatan Maggie Gyllenhaal mengolahnya dengan kurang matang. Alih-alih dikembangkan sebagai salah satu menu utama, perihal perlawanan ini sekadar remah-remah bumbu yang ditaburkan sekenanya.
Bicara tentang penceritaan, The Bride! memang kacau balau: Alurnya menggelembung tak terkendali seiring meluasnya cakupan yang ditandai munculnya dua karakter detektif, Jake Wiles (Peter Sarsgaard) dan asistennya yang kurang dihargai akibat seksisme dalam sistem kepolisian, Myrna Mallow (Penélope Cruz); struktur narasinya berkeliaran bak seseorang yang didera kecemasan kala tersesat dalam labirin; fokusnya pun kesulitan menentukan apakah hendak menyajikan romantika atau membuat The Bride berdiri mandiri tanpa memerlukan belahan hati.
Tapi prinsip filmnya yang menomorsatukan keliaran dan penolakan terhadap norma lama (isu gender yang diangkat pun mengarah ke sana) memang sukar ditolak. Visi tersebut paling sempurna diwakili oleh sebuah duet dansa dua tokoh utamanya di tengah suatu pesta, di mana para hadirin lain mendadak turut serta seolah tengah kerasukan. Tidak ada alasan logis dibutuhkan, karena fenomena itu merupakan wujud ledakan ekspresi emosi.

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar