IN FEAR (2013)

Tidak ada komentar
Dari judulnya sudah bisa ditebak bahwa film garapan sutradara Jeremy Lovering ini merupakan sebuah film yang akan menjadikan rasa takut sebagai poros penggerak utama filmnya. Menariknya, film yang diputar perdana pada Sundance Film Festival tahun lalu ini memecah respon penontonnya. Sebagai pembanding, para kritikus di Rotten Tomatoes memuji film ini setinggi langit dan menyebutnya sebagai sebuah horor psikologis yang mendebarkan sekaligus cerdas. Disisi lain, para reviewer di IMDb justru mencaci habis-habisan film ini. In Fear sendiri sesungguhnya mempunyai sebuah premis yang sangat sederhana kalau tidak mau dibilang klise namun punya potensi yang luar biasa besar untuk bisa menjadi sebuah sajian horor psikologis yang mencekam sekaligus penuh misteri dan kejutan. Film ini bercerita tentang Tom (Iain De Caestecker) dan Lucy (Alice Englert) sepasang kekasih baru yang bepergian bersama untuk menonton sebuah festival musik di Irlandia. Untuk menghabiskan waktu bersama, Tom pun mengajak Lucy untuk menginap di sebuah hotel yang menjanjikan sebuah tempat menginap layaknya surga. Mereka berdua pun mulai mencari hotel yang terletak di pedesaan tersebut dengan menaiki mobil. Tapi setelah berputar-putar cukup lama, hotel yang mereka cari tidak juga berhasil ditemukan. Baik peta maupun penunjuk jalan yang ada malah makin menyesatkan mereka di dalam hutan.


Keadaan pun semakin bertambah menyeramkan bagi Tom dan Lucy disaat mereka mulai merasa bahwa ada orang lain yang mengikuti dan perlahan menebar teror untuk mereka di sepanjang perjalanan. Yang membuat In Fear menarik sesungguhnya adalah bagaimana film ini menjadikan rasa takut sebagai sajian utamanya. Memang masih ada sedikit scare jump maupun false alarm yang ditebar, tapi secara keseluruhan film ini terlihat berusaha untuk menghindari segala keklisean yang dipunyai film-film horor dari Hollywood. In Fear adalah film yang memfokuskan diri bukan kepada teror yang ada melainkan kepada bagaimana tokoh-tokoh di dalamnya bereaksi terhadap situasi yang ada, bagaimana mereka terpengaruh oleh rasa takut yang perlahan mulai menjalar. Ada berbagai macam situasi yang memberikan stimulus pada karakternya yang akan berujung pada sebuah respon yang sama, yakni rasa takut. Ada kegelapan, tempat asing, tersesat, pemandangan mengerikan, rasa ketidak tahuan, sampai keberadaan sosok lain yang mengancam. Semuah al tersebut adalah stimulus yang menciptakan rasa takut dimana sesungguhnya kesemua aspek tersebut hampir semuanya muncul dalam setiap film horor, tapi jarang yang memfokuskan terornya pada "rasa", dan In Fear mencoba hal tersebut meski sayangnya gagal.
Saya mengatakan usaha tersebut gagal karena meskipun paruh pertamanya benar-benar memfokuskan diri kepada aspek tersebut, saya sama sekali tidak merasakan ketegangan yang cukup untuk membuat penonton ikut merasakan ketakutan yang sama dengan yang dialami oleh karakter di dalamnya. Meski mempunyai setting yang mendukung di hutan gelap maupun mobil sempit yang (harusnya) bisa menciptakan efek claustrophobic, iringan musik yang tidak berlebihan tapi cukup efektif, serta camera work yang bagus, In Fear tetap tidak berhasil memberikan ketegangan yang cukup. Saya juga terganggu oleh dua karakter utamanya yang sering melakukan hal bodoh. Tentu saja kelakuan bodoh seorang karakter dalam film horor amat sangat biasa dan layak untuk dimaafkan, tapi In Fear merupakah horor/thriller psikologis yang seharusnya berpijak pada realisme berkaitan dengan karakternya, mulai dari sifat, tingkah laku, sampai aspek-aspek psikologis lain yang ada dalam diri mereka. Selain itu karakter Tom juga benar-benar menyebalkan disini. Sebagai seorang laki-laki yang tengah menghadapi kejadian mengerikan bersama pacarnya, Tom terus bertindak sebagai seorang pengecut yang pemarah dan annoying. Jelas saja hal tersebut semakin membuat saya tidak bisa terikat pada karakter yang ada, khususnya Tom.
Paruh pertama yang kurang maksimal harusnya bisa dimaafkan andai film ini punya paruh kedua yang menarik dengan klimaks menegangkan serta konklusi memuaskan. In Fear lagi-lagi punya potensi untuk menuju kearah sana khususnya berkat beberapa misteri yang disebar di paruh pertama. Tapi sayangnya justru paruh keduanya yang semakin menghancurkan film ini. Semenjak kemunculan karakter Max (Allen Leech) film ini semakin kehilangan arah dan makin tidak menarik apalagi menegangkan. Semuanya berujung pada klimaks yang melempem serta konklusi tidak jelas yang "sukses" menghancurkan segala ekspektasi saya terhadap berbagai misteri yang ada. Pada awal film tentu saja pertanyaan yang jamak muncul adalah "siapa yang meneror Tom dan Lucy? Seorang psikopat? hantu? atau sekedar imajinasi dari seorang karakter yang skizofrenik?" In Fear memberikan batasan yang buram atas ketiga opsi tersebut dan itu hal yang bagus. Tapi disaat jawaban diberikan film ini jadi terasa bodoh apalagi disaat filmnya tidak memberikan jawaban berkaitan dengan motif dibalik segala kejadian yang ada. Mungkin Jeremy Lovering salah mengartikan esensi kisah misteri yang "tidak boleh" membeberkan semua misterinya secara gamblang. Belum lagi klimaksnya yang benar-benar antiklimaks bahkan bodoh mulai dari adegan mud fight sampai car chase yang melempem itu.

Dalam sekejap, paruh akhirnya membuat In Fear berubah dari sebuah horor/thriller psikologis yang kurang maksimal menjadi sebuah thriller standar dengan unsur slasher yang terasa bodoh dan membosankan. Semuanya masih ditambah dengan twist yang mudah ditebak. In Fear pada akhirnya berakhir menjadi salah satu dari sekian banyak film yang punya premis dasar menarik tapi berakhir buruk akibat pengembangan serta konklusi yang buruk dan justru mengambil jalan standar. Sebagai contoh lain dari kasus serupa, anda bisa melihat The Call yang dibintangi Halle Berry. In Fear memang punya teknis mulai dari gambar dan musik yang cukup mencerminkan rasa takut, tapi sebagai sebuah film secara keseluruhan, apalagi yang memberikan fokus utamanya pada rasa takut, film ini adalah sebuah kekecewaaan.

Tidak ada komentar :

Comment Page: