SOMEWHERE ONLY WE KNOW (2015)

3 komentar
Sebuah karya yang terjebak dalam tuntutan menjadi komersil, begitulah Somewhere Only We Know karya sutradara Xu Jinglei ini. Mengorbankan potensi kualitas demi keberhasilan Box Office merupakan hal biasa kalau tidak mau disebut wajar dalam industri perfilman. Tapi yang patut disayangkan adalah karena film ini bisa saja menjadi romansa epic menggetarkan namun berakhir hanya sebagai drama percintaan ringan demi menggapai penonton sebanyak mungkin, khususnya kalangan remaja. Kisahnya sederhana, bahkan sudah berulang kali diangkat dalam sebuah film. Jin Tian (Wang Likun) yang masih terpukul setelah sang nenek, Chen Lanxin (Xu Jinglei) meninggal dan ditinggalkan oleh tunangannya memilih menghabiskan musim panas di Praha. Bukan tanpa alasan Jin Tian memilih tempat itu, karena disanalah sang nenek dulu sempat tinggal selama beberapa tahun.

Dalam beberapa barang peninggalan sang nenek, Jin Tian menemukan sebuah surat dari seorang pria bernama Josef Noyak (Gordon Alexander). Berangkat dari surat tersebut ia berniat mencari tahu kisah sebenarnya yang terjalin antara sang nenek dengan Josef. Disaat bersamaan Jin Tian bertemu dengan seorang pria bernama Peng Zeyang (Kris). Bisa ditebak keduanya jatuh cinta meski sama-sama masih memendam kisah cinta masa lalu khususnya bagi Jin Tian yang belum sepenuhnya pulih dari patah hati. Somewhere Only We Know adalah sebuah napak tilas sebuah kisah cinta generasi masa lampau yang dilakukan oleh mereka para generasi muda. Menelusuri surat, alamat, jejak-jejak, sampai monumen tempat Chen dan Josef memadu kasih puluhan tahun lalu. Kisah sederhana dan tidak lagi baru, tapi tidak akan pernah usang. Cerita cinta sejati dengan tema kesetiaan memang selalu menarik.
Berangkat dari premis tersebut, film ini bisa begitu romantis, mengharukan, bahkan mengundang berbagai tanya tentang misteri kisah masa lalu. Tapi hasrat meraup keuntungan besar dan ambisi dalam penulisan ceritanya menanggalkan segala potensi itu. Beberapa film sejenis akan menempatkan karakter mudanya sebagai penyusun tiap keping puzzle dan perpanjangan tangan penonton di dalam film. Mereka tidak punya arc story selain berusaha mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Konflik mungkin sesekali dipercikkan, tapi tidak lebih dari sekedar bumbu penyedap sebelum akhirnya setelah semua cerita terungkap, mereka pun mendapat banyak pelajaran demi menyelesaikan masalah mereka sendiri. Film ini bisa saja mengambil jalan tersebut, tapi naskahnya terlalu berlebihan, terlalu ambisius. Tidak heran, beginilah yang terjadi jika satu film naskahnya ditulis oleh tujuh orang!

Alih-alih berfokus pada kisah Chen-Josef, kita justru akan lebih banyak melihat eksplorasi romansa Tian-Zeyang. Fokusnya pun terpecah berantakan. Xu Jinglei selaku sutradara nampak kelabakan menangani dua kisah cinta beda masa dengan porsi yang coba diseimbangkan tersebut. Akhirnya plot tidak mengalir lancar. Lompatan-lompatan timeline yang dilakukan tidak mulus dan berujung pada kegagalan membuat saya terikat akan romansanya. Seolah belum cukup, Tian-Zeyang pun diberikan begitu banyak sub-konflik. Mulai dari konflik hubungan mereka, konflik masa lalu, sampai konflik Zeyang dengan sang ibu. Konflik, konflik, konflik. Muncul tanpa henti tanpa ada pendalaman berarti dan ditutup dengan konklusi yang dipaksakan untuk mengakhirinya secepat mungkin. Akhirnya tidak tercipta koneksi saling menguatkan antara kedua percintaan beda masa itu. Padahal koneksi diantara keduanya, disaat masa lalu mempengaruhi masa kini serta usaha untuk menjadikan masa depan lebih baik dari yang telah lalu menjadi esensi paling utama filmnya.
Di samping terlalu ambisius, pembagian porsi yang dilakukan adalah demi menarik perhatian penonton remaja. Hal ini untuk memfasilitasi keterlibatan Kris dan Wang Likun. Tentu saja tidak mungkin menyia-nyiakan kehadiran dua pemain berparas cantik dan rupawan ini hanya untuk sekedar tampil sekilas sebagai penyambung benang merah. Maka mereka harus diberi porsi besar, bahkan lebih besar dari karakter yang harusnya menjadi fokus utama. Jujur saja saya juga hampir "tertipu". Sempat ada momen dimana saya merasa begitu terpikat dengan romansanya, peduli pada hubungan Jin Tian dan Zeyang. Sampai akhirnya saya menyadari itu bukan karena kualitas penceritaan mumpuni melainkan hanya karena kecantikan Wang Likun semata. Pria mana yang tega melihat wanita secantik itu menderita bukan? Saya pun bisa membayangkan hal serupa terjadi pada penonton wanita saat mereka melihat Kris. Inilah contoh sempurna film romantis yang tidak berpegang pada kualitas cerita tapi pada eksploitasi tampang dua pemeran utama.

Juga terasa mengganggu adalah inkonsistensi tone. Saya suka bagian awal film saat nuansa komedi romantis lebih mendominasi. Terasa ringan, belum ambisius tapi amat menghibur. Wang Likun sendiri nampak begitu lancar saat harus tampil komedik lewat ekspresinya (yang menggemaskan) itu. Hal sama terjadi pada Kris. Dia lebih enak dilihat saat harus beradegan santai layaknya para idol lain saat berakting di drama Korea. Tapi saat harus melakoni drama yang lebih berat dan serius, jadinya "yah begitulah." Semakin filmnya berjalan, komedi semakin dikurangi, dan semakin terasa datar pula dinamika cerita. Dinamika cerita datar plus pembagian fokus yang kacau membuat rasa haru yang harusnya hadir tidak terasa maksimal. Sangat disayangkan, karena Xu Jinglei jelas sudah mengemas begitu baik klimaks dari tiap-tiap romansa. Air mata saya bisa mengalir anda sedari awal dramanya dieksplorasi secara lebih dalam dan tidak terlalu banyak sempilan-sempilan konflik tidak penting. Somewhere Only We Know terlalu berusaha cantik, berusaha elegan dalam tiap aspek mulai dari sinematografi sampai tampang pemainnya. Ditambah kehadiran lagu Right Here Waiting di ending, ini lebih mirip extended pre-wedding video daripada film romansa. Tapi selama ada Wang Likun mata ini masih bisa terhibur.

3 komentar :

Comment Page:
keziarhh mengatakan...

Gak nyangka ada orang lain diluar penggemar EXO tahu film ini, haha.
Sebenarnya sih udah lama nunggu filmnya karena ada Kris, tapi setelah melihat trailer-trailernya...yah begitulah.
Anyway, crazygirlatcinema.blogspot.com menghilang dari daftar link.

Rasyidharry mengatakan...

Malah baru tahu itu Kris begitu filmnya mulai kok haha
Waah maaf maaf kemaren ganti layout bubar dan menghilang semua linknya

Tantri Ayu mengatakan...

Ada yang tau gak judul lagu penghabisan film ini ? Mohon bantuan nya terimakasih