ANOMALISA (2015)

14 komentar
Proses penerimaan berujung penilaian teruntuk film amatlah subjektif. Kita bisa mengatakan sebuah film bagus atau jelek karena kualitas naskah, akting para pemain, sampai tata artistik, tapi pada akhirnya seberapa jauh film tersebut bersinggungan dengan kehidupan kita jadi faktor penentu utama. Menonton film adalah pengalaman spiritual, termasuk saat seseorang mendapati paparan di layar bagai miniatur kehidupan pribadinya. Anomalisa selaku usaha penyutradaraan kedua dari Charlie Kaufman -kali ini berduet bersama Duke Johnson- menghadirkan kontemplasi serupa bagi saya ketika (sekali lagi) Kaufman merefleksikan perspektifnya akan eksistensi dan cinta melalui absurditas surealisme.

Seorang customer service expert bernama Michael Stone (David Thewlis) tengah singgah di Cincinnati, Ohio guna menghadiri konvensi buku terbarunya. Sepanjang perjalanan sampai tiba di hotel, Michael tampak sama sekali tidak bersemangat. Bahkan semua orang di sekelilingnya terlihat sama: pria kulit putih yang mempunyai wajah juga suara serupa (disuarakan oleh Tom Noonan). Sewaktu kegundahan hati Michael akibat kesendiriannya memuncak, bertemulah ia dengan Lisa Hesselman (Jennifer Jason Leigh). Lisa memiliki wajah beserta suaranya sendiri, sehingga tak butuh waktu lama bagi Michael jatuh hati pada sang wanita. 
Mari bicarakan soal teknis lebih dulu dan kesampingkan substansi cerita yang membuat saya merasakan keterikatan. Keputusan memakai animasi stop-motion nyatanya mampu memfasilitasi keanehan visi Kaufman, menghilangkan batasan media live action khususnya kala memasuki momen sureal: wajah identikal semua orang, mimpi buruk Michael, atau glitch di wajahnya. Kaufman dan Johnson sengaja memilih desain karakter sedekat mungkin dengan realita -tidak cartoonish atau bernuansa fantasi- demi tujuan mereka mengemas kisah humanis. Pendekatan itu sukses, bukan saja berkat gaya animasinya, juga didukung oleh keintiman hasil voice acting milik David Thewlis dan Jennifer Jason Leigh, serta naskah Kaufman (akan dibahas nanti). 

Sejauh ini Anomalisa adalah animasi berisi tata adegan terbaik yang pernah saya saksikan. Saat pengadeganan mayoritas animasi berfokus pada penghantaran spectacle, film ini mengedepankan pembangunan mood. Simak tracking shot tatkala Michael mengambil es melalui koridor hotel, Michael dihantui kecemasan, berlari menggedor satu per satu pintu guna mencari "temannya", atau adegan seks penuh intimacy. Every sequence crafted with intention to captures the character's emotion. Sangat jarang media animasi dikemas lewat sensitifitas sekuat ini. Serupa judulnya, terbentuklah anomali sewaktu sajian surealisme terasa humanis, mencerminkan realita sampai ke tingkatan rasa. 
Berpindah ke ranah cerita, inilah aspek terbaik Anomalisa, poin di mana filmnya merenggut perasaan seutuhnya. Naskah kuat dapat menjadi cerminan keseharian kasat mata, namun Charlie Kaufman berhasil memvisualkan lebih dari itu, yakni perasaan. Pernahkah anda terjebak dalam kepenatan rutinitas ditambah stagnansi hubungan berujung kehampaan sekaligus kesendirian? Michael tengah mengalami itu. Semua orang terlihat/terdengar sama, terganggu oleh tiap kata ucapan kalimat orang, lalu ingin mengasingkan diri dari mereka. Kemudian muncul "penyegaran" ketika ia bertemu Lisa. Sontak Michael jatuh cinta, menemukan rekan bicara. Michael benci tiap kali orang-orang melontarkan kalimat apapun, tapi ia justru meminta Lisa terus bicara, menyukai itu. Lisa adalah anomali. 

Bagi penonton yang pernah mengalami situasi tersebut, naskah garapan Charlie Kaufman telah berhasil mewakili perasaan mereka. Lisa tidaklah sempurna, bagaikan boneka Jepang milik Michael, rusak dan bukan berada di tempat seharusnya. Namun Michael memang bukan mencari kesempurnaan, melainkan sebuah hal baru menyegarkan guna mengembalikan senyum kebahagiaannya lagi. Atau tepatnya, kehadiran sosok seperti Lisa di waktu yang tepat (secara mendadak) bakal menjadikannya tampak sempurna. Lalu bagaimana saat hubungan dengan Lisa memasuki ranah lebih dari sekedar "kesenangan sesaat", membuat Michael tersadar bahwa sang wanita hanyalah manusia biasa? Anomali itu perlahan memudar, membaur bersama hal monoton lain, menyadarkan Michael bahwa ia tengah menatap seonggok boneka rusak tak bernyawa. 

14 komentar :

Comment Page:
Angga Saputra mengatakan...

nonton dimana ni film bro?

Rasyidharry mengatakan...

Di lapak udah ada :)

Angga Saputra mengatakan...

kamu biasa donlot dimana .diblog biasa saya donlot blm update film ini

Rasyidharry mengatakan...

Di ganool biasanya, atau kickass

Angga Saputra mengatakan...

ok thank ya ntar saya cari :)

Hanif Uke mengatakan...

layarkaca21.com juga update biasanya mas

Angga Saputra mengatakan...

Bingung saya sama film ini sebenarnya pesan yg ingin di sampaikan sang sutradara apa sich ?

Rasyidharry mengatakan...

Luasnya: Love, loneliness, emptiness :)

Angga Saputra mengatakan...

terus kenapa suara mereka mirip semua wanita pun bersuara laki2 cuma lisa yg beda.itu maksud nya apa..

Rasyidharry mengatakan...

Karena saat kita hampa, semua terasa sama, datar, kosong. Dan Lisa ibarat penyejuk, anomali, wanita yang mengembalikan semangat hidup seorang pria, makanya dia stands out.

Angga Saputra mengatakan...

oohh begitu thank atas penjelasan nya bro

Eko Jay mengatakan...

film ini memberi saya ide segar terkait absurditas dan sureal. semua jadi satu dan...WOW,
reviwe dari mas rashid juga udah mewakili perasaaan saya mengenai film ini yang kdang2 saya sendiri sulit untuk menemukan kata-katanya.

Rasyidharry mengatakan...

Wah, thanks ya, senang kalau tulisan saya bisa mewakili :))

ディマス健一 mengatakan...

ini film masuk nominasi piala oscar