REVIEW - HUMAN RESOURCE
Fren (Prapamonton Eiamchan) baru mendapati dirinya hamil. Ketika menyetir dalam perjalanan pulang dari dokter, didengarnya ragam berita buruk di radio mengenai bencana alam hingga wabah penyakit. Fren membisu, tapi kita memahami kepelikan batinnya. Fren berkontemplasi tentang bijak atau tidaknya melahirkan si anak ke dunia kaya angkara ini.
Human Resource karya Nawapol Thamrongrattanarit bukan tentang aborsi atau sikap anti terhadap bayi, melainkan ajakan untuk berpikir lagi dan lagi.
Fren bekerja di bidang HRD (Human Resources Development) dan seperti ditampakkan judulnya, di sini Nawapol menyamakan peran orang tua dan human resources. Perusahaan Fren punya ekosistem yang keras, kalau tak mau disebut kejam. Si bos kerap mengamuk, bahkan melempar kertas ke bawahan. Fren pun bertanya-tanya: Tegakah ia menempatkan rekrutan baru di ruang kerja semacam itu?
Sebagai calon ibu, Fren juga diserang dilema serupa. Dunia yang seolah sedang melangkah pasti menuju kehancuran ini tak ubahnya kantor yang toxic. Bedanya, tidak ada istilah "mengundurkan diri" dalam kehidupan. Pikiran Fren makin kacau seiring bertambahnya berita negatif di media semisal persoalan mikroplastik dalam apel, juga kesadarannya akan konflik yang senantiasa mengintai di tiap sendi realita.
Kalau begitu, mengapa Fren memutuskan punya anak? Agar dapat menjawab tanda tanya tersebut, kita perlu memahami figur sang suami, Thame (Paopetch Charoensook). Thame bukan laki-laki yang bersedia menyediakan ruang diskusi dengan pasangan terkait apa pun, dan dia ingin memiliki momongan.
Di satu kesempatan, Fren mengunjungi sang ibu guna mengabarkan kehamilannya. Ibu Fren menampakkan kebahagiaan luar biasa menyambut calon cucunya. Di balik segala dilema, Fren tetap ingin membahagiakan ibunya, yang sudah kenyang akan penderitaan hidup, sebagai bentuk bakti seorang anak. Ingat, kita tengah menyaksikan potret budaya Timur dengan segala kompleksitas dinamika keluarganya.
Nawapol menggerakkan Human Resource dengan tempo lambat nan sunyi. Tidak semua kalangan bakal menganggap pendekatannya bersahabat, namun cara tersebut esensial guna membangun kesuraman dunianya, sekaligus menyediakan wadah perenungan bagi penonton. Hanya ada satu masalah: Visi Nawapol bisa tersampaikan tanpa harus membuat filmnya bergulir selama 122 menit.
Sementara itu, sinematografi arahan Natdanai Naksuwarn mencuatkan nuansa dingin kala menangkap ruang-ruang perkantoran artificial berwarna redup, yang diperkuat oleh penggunaan rasio 1.50 : 1, membuat si protagonis nampak terkurung secara menyesakkan dalam dunia miskin kebahagiaan. Kameranya kerap menyorot punggung tokoh-tokohnya, seolah ingin menyampaikan ketidakpastian dalam kehidupan.
Hampir semua hal di Human Resource tampil serba tersirat, tapi menariknya, terutama mengenai seluk-beluk hati Fren, kita bisa memahami segalanya tanpa harus disuapi. Entah karena metode penyuntingan yang secara cerdik menyuplai informasi, maupun akting subtil Prapamonton Eiamchan yang mengedepankan ekspresi mikro. Sang aktris ibarat pelamun yang menyembunyikan kata-kata rahasia di antara raut wajahnya.
Jangan pula mengharapkan jawaban dari Nawapol tentang keputusan apa yang sebaiknya kita ambil bila ditempatkan di posisi Fren. Human Resource dengan ending-nya yang tiba-tiba bukan eksis untuk menyediakan solusi. Melalui segala kesuraman nihil harapan di filmnya, Nawapol hanya ingin mengajak penontonnya mengingat, kemudian merenungkan.

.png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar