REVIEW - BALAS BUDI
Karakter dalam caper film acap kali berpacu dengan waktu kala menuntaskan misi. Wajar bila ada kalanya mereka bertindak buru-buru, namun Balas Budi membawa definisi "buru-buru" ke tingkatan berbeda. Filmnya luar biasa tergesa, sehingga alih-alih ditampilkan secara utuh, voice over dipakai untuk menjelaskan secara ringkas pelaksanaan rencana tokoh utamanya.
Berlatar bibir pantai eksotis, Alma (Michelle Ziudith) dan Budi (Yoshi Sudarso) berkenalan. Ketika Alma terjatuh, Budi si pilot menawan langsung menggendongnya. Alma adalah anak pengusaha kaya raya (Ferry Salim). Begitu kaya, ia pun sudah mengenakan riasan lengkap tatkala bangun tidur di pagi hari.
Barulah pasca menit-menit awal ala FTV itu usai, Balas Budi menyajikan menu utamanya. Budi rupanya pelaku love scam. Bukannya menikah, Alma justru kehilangan uang miliaran akibat taktik Budi. Di tengah keputusasaan, Alma mulai menampakkan kegemarannya, yakni mendobrak fourth wall.
Naskah buatan Raditya membuat Alma kerap bicara langsung kepada penonton. Entah dengan tujuan apa, sebab gaya tersebut tak mengatrol kelucuan maupun keunikan bertutur filmnya, sebab di mayoritas kesempatan, naskahnya sekadar melafalkan hal-hal yang bisa dijabarkan secara lebih menarik memakai penceritaan visual.
Singkat cerita, Alma mencetuskan rencana guna membalas Budi. Ditemukannya beberapa perempuan lain yang turut jadi korban si lelaki: Ayu (Niken Anjani) yang dituntut menikahi keturunan ningrat oleh ibunya (Asri Welas), Uli (Givina Lukita) yang terobsesi pada hal-hal berbau Prancis, dan Thalita (Gisella Anastasia) sang selebritis papan atas.
Saya suka bagaimana keempat perempuan ini bersikap saling mendukung. Mereka memuji kecerdasan serta kecantikan satu sama lain, pula memvalidasi sakit hati masing-masing di saat pihak luar mungkin bakal begitu gampang memberi cap "bodoh". Di satu kesempatan, mereka bersenang-senang dengan mengundang penari erotis laki-laki. Girls just want to have fun.
Jajaran pelakonnya pun tahu cara bersenang-senang. Michelle Ziudith yang menggiring tangisan khasnya ke ranah komedi, Gisella Anastasia lewat Bahasa Inggris ngawurnya, Ayu Anjani yang memberi karakter Ayu dimensi lebih, pula Givina Lukita yang kerap menggelitik, kendati setelah beberapa saat naskahnya seolah melupakan tendensi Uli bicara Bahasa Prancis dengan pelafalan awut-awutan.
Alkisah Alma merupakan putri pengusaha yang luar biasa terpandang, sampai presiden pun bersedia menghadiri pernikahannya. Maka terasa janggal sewaktu dalam menyusun rencana balas dendam, Alma hanya memiliki sumber daya selevel rakyat jelata. Jika sang ayah enggan membantu, bukankah ia memiliki asisten atau ajudan yang punya kenalan, dan si kenalan punya kenalan lain yang dapat dimintai pertolongan? Peretas mungkin? Atau badan intelijen untuk membuntuti Budi?
Tapi mungkin Alma sedang buru-buru hingga sukar berpikir jernih. Sekali lagi, Balas Budi bergulir amat buru-buru. Pada misi yang eksekusinya dirangkum memakai voice over sebagaimana dijabarkan di paragraf pembuka, Uli diperlihatkan gagal mencuri seragam tim katering, namun di adegan berikutnya, entah bagaimana, ia sudah mengenakan seragam tersebut.
Kelak para protagonisnya bakal berseteru. Terjadi pertengkaran hebat akibat persoalan fatal yang berpotensi menghancurkan rencana balas dendam, namun setelah melalui satu montase pendek, tanpa ada obrolan hati ke hati, mereka telah berbaikan dengan begitu gampang. Semuanya sangat buru-buru, filmnya bahkan luput menyadari bahwa ada kesalahan penulisan di pesan yang Budi kirim ("See you" menjadi "Se you").
Naskahnya diisi deretan rencana super sederhana, yang tiap kali dipaparkan, selalu membuat si pemilik ide dibanjiri pujian seperti "Lo cerdas banget!" oleh rekan-rekannya, sementara penonton dibiarkan kebingungan mencari di mana letak kecerdasan rencana tersebut. Tapi bukan masalah asalkan kesederhanaan itu dibungkus menggunakan pengadeganan yang sarat gaya, kreativitas, dan tenaga.
Sayangnya pengarahan Reka Wijaya tak menyertakan tiga poin di atas. Semuanya serba ala kadarnya. Salah satu misi berpotensi kacau ketika Uli meminum obat pencahar buatannya sendiri, sedangkan Ayu tanpa sadar memakan bronis ganja. Sungguh skenario yang berpotensi menghantarkan kegilaan penyulut gelak tawa, tapi naskahnya bak bingung mesti menggiringnya ke arah mana, pun sang sutradara tak punya daya supaya daya hibur spektakelnya tereskalasi. Memang hal apa pun takkan berakhir baik bila dihantui ketergesaan.


Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar